Khazanah
Agus Abdurrohim

Moderasi Beragama sebagai Ikhtiar Mencegah Intoleransi di Tengah Keberagaman

Moderasi Beragama sebagai Ikhtiar Mencegah Intoleransi di Tengah Keberagaman

30 Juli 2026 | 10:50

Indonesia merupakan negara yang dianugerahi keberagaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dirawat bersama. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan dapat memunculkan prasangka, diskriminasi, bahkan tindakan intoleransi yang mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang mampu menjaga keseimbangan antara keyakinan beragama dengan penghormatan terhadap hak orang lain. Sikap tersebut dikenal sebagai moderasi beragama.

Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama atau mencampuradukkan akidah. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan, keadilan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran agama masing-masing.

Pengertian Moderasi Beragama

Kata moderasi berasal dari bahasa Latin moderatio yang berarti kesedangan atau tidak berlebihan. Dalam bahasa Arab, konsep ini dikenal dengan istilah wasathiyah, yaitu sikap pertengahan yang adil dan proporsional.

Allah Swt. berfirman:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan (adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia..." (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, makna ummatan wasathan adalah umat yang adil, terbaik, dan seimbang dalam menjalankan ajaran agama. Sikap tersebut menghindarkan seseorang dari sikap berlebihan (ghuluw) maupun meremehkan ajaran agama.

Memahami Intoleransi

Intoleransi adalah sikap tidak menghargai perbedaan keyakinan, pandangan, maupun praktik keagamaan orang lain yang dapat diwujudkan dalam bentuk ujaran kebencian, diskriminasi, pengucilan, hingga tindakan kekerasan.

Dalam Islam, Allah Swt. menegaskan prinsip kebebasan beragama:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama." (QS. Al-Baqarah [2]: 256).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan harus lahir dari kesadaran, bukan dari paksaan. Karena itu, Islam melarang tindakan memaksa seseorang untuk memeluk agama tertentu maupun melakukan kekerasan atas nama agama.

Penyebab Munculnya Intoleransi

Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab munculnya sikap intoleran antara lain:

  1. Kurangnya pemahaman agama secara utuh sehingga mudah memahami teks secara parsial.
  2. Fanatisme berlebihan yang menganggap hanya kelompoknya yang benar dan merendahkan kelompok lain.
  3. Penyebaran informasi palsu (hoaks) dan ujaran kebencian melalui media sosial.
  4. Rendahnya budaya dialog dan musyawarah.
  5. Pengaruh kelompok yang menyebarkan paham ekstrem.

Apabila faktor-faktor tersebut tidak diantisipasi, masyarakat akan mudah terpecah dan kehilangan semangat persaudaraan sebagai sesama warga negara.

Moderasi Beragama sebagai Solusi Pencegahan Intoleransi

Moderasi beragama mengajarkan bahwa seseorang dapat tetap teguh memegang ajaran agamanya sekaligus menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Dalam praktiknya, moderasi beragama diwujudkan melalui beberapa sikap berikut:

  • Menghormati perbedaan agama dan keyakinan tanpa harus menyetujui ajaran agama lain.
  • Mengedepankan dialog ketika terjadi perbedaan pendapat.
  • Menolak segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama.
  • Mengutamakan persatuan bangsa di atas kepentingan kelompok.
  • Bersikap adil terhadap siapa pun tanpa membedakan latar belakang agama.

Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan melalui sabdanya:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).

Hadis ini menunjukkan bahwa dakwah Islam dibangun di atas kemudahan, kasih sayang, dan kebijaksanaan, bukan kekerasan ataupun pemaksaan.

Peran Masyarakat dalam Mencegah Intoleransi

Pencegahan intoleransi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, melainkan seluruh elemen masyarakat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memperdalam pemahaman agama melalui sumber yang terpercaya.
  • Menjaga etika dalam bermedia sosial serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
  • Menghormati pelaksanaan ibadah pemeluk agama lain.
  • Menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan musyawarah.
  • Mengikuti kegiatan sosial lintas masyarakat sebagai sarana memperkuat persaudaraan.

Peran keluarga juga sangat penting dalam menanamkan nilai saling menghormati sejak usia dini sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang toleran tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Tags:

Komentar Pengguna