Indonesia merupakan negara yang dianugerahi keberagaman suku, budaya, bahasa, adat istiadat, dan agama. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dirawat bersama. Namun, apabila tidak dikelola dengan baik, perbedaan dapat memunculkan prasangka, diskriminasi, bahkan tindakan intoleransi yang mengancam persatuan bangsa. Oleh karena itu, diperlukan sikap yang mampu menjaga keseimbangan antara keyakinan beragama dengan penghormatan terhadap hak orang lain. Sikap tersebut dikenal sebagai moderasi beragama.
Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama atau mencampuradukkan akidah. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan, keadilan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip ajaran agama masing-masing.
Kata moderasi berasal dari bahasa Latin moderatio yang berarti kesedangan atau tidak berlebihan. Dalam bahasa Arab, konsep ini dikenal dengan istilah wasathiyah, yaitu sikap pertengahan yang adil dan proporsional.
Allah Swt. berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan (adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia..." (QS. Al-Baqarah [2]: 143).
Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, makna ummatan wasathan adalah umat yang adil, terbaik, dan seimbang dalam menjalankan ajaran agama. Sikap tersebut menghindarkan seseorang dari sikap berlebihan (ghuluw) maupun meremehkan ajaran agama.
Intoleransi adalah sikap tidak menghargai perbedaan keyakinan, pandangan, maupun praktik keagamaan orang lain yang dapat diwujudkan dalam bentuk ujaran kebencian, diskriminasi, pengucilan, hingga tindakan kekerasan.
Dalam Islam, Allah Swt. menegaskan prinsip kebebasan beragama:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
"Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama." (QS. Al-Baqarah [2]: 256).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa keimanan harus lahir dari kesadaran, bukan dari paksaan. Karena itu, Islam melarang tindakan memaksa seseorang untuk memeluk agama tertentu maupun melakukan kekerasan atas nama agama.
Beberapa faktor yang sering menjadi penyebab munculnya sikap intoleran antara lain:
Apabila faktor-faktor tersebut tidak diantisipasi, masyarakat akan mudah terpecah dan kehilangan semangat persaudaraan sebagai sesama warga negara.
Moderasi beragama mengajarkan bahwa seseorang dapat tetap teguh memegang ajaran agamanya sekaligus menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.
Dalam praktiknya, moderasi beragama diwujudkan melalui beberapa sikap berikut:
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan melalui sabdanya:
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari." (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa dakwah Islam dibangun di atas kemudahan, kasih sayang, dan kebijaksanaan, bukan kekerasan ataupun pemaksaan.
Pencegahan intoleransi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh agama, melainkan seluruh elemen masyarakat. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Peran keluarga juga sangat penting dalam menanamkan nilai saling menghormati sejak usia dini sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang toleran tanpa kehilangan identitas keagamaannya.