Khazanah
Rahman Abdullah

Mengapa Kue Apem Selalu Hadir di Bulan Sapar? Ini Sejarah dan Makna Tradisinya di Cirebon

Mengapa Kue Apem Selalu Hadir di Bulan Sapar? Ini Sejarah dan Makna Tradisinya di Cirebon

23 Juli 2026 | 11:16

Keboncinta.com-- Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi khas yang diwariskan secara turun-temurun. Di Cirebon, salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah kebiasaan membuat dan membagikan kue apem saat memasuki Bulan Sapar dalam penanggalan Jawa.

Tradisi ini bukan sekadar menghadirkan kuliner musiman, tetapi juga sarat dengan nilai sejarah, budaya, serta semangat berbagi kepada sesama.

Bagi masyarakat Cirebon, kehadiran kue apem menjadi penanda datangnya Bulan Sapar sekaligus momentum mempererat hubungan sosial melalui sedekah dan gotong royong.

Baca Juga: Guru Bahasa Cirebon Perlu Tingkatkan Kompetensi, Jangan Lagi Keliru Bedakan Parikan dan Wangsalan

Kue Apem, Hidangan Khas yang Selalu Dinantikan

Kue apem merupakan salah satu makanan tradisional yang sangat dikenal di wilayah Cirebon dan sekitarnya.

Berbeda dengan jajanan lain yang mudah dijumpai sepanjang tahun, kue apem biasanya hanya dibuat secara khusus ketika Bulan Sapar tiba. Karena kemunculannya yang hanya setahun sekali, banyak masyarakat yang selalu menantikan kehadirannya.

Tradisi tersebut menjadikan kue apem bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Cirebon.

Bulan Sapar Memiliki Makna Khusus dalam Tradisi

Di kalangan masyarakat Jawa, khususnya Cirebon, Bulan Sapar sering dikaitkan dengan berbagai kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun.

Sebagian masyarakat memandang bulan ini sebagai waktu untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus memperbanyak doa dan sedekah. Namun di sisi lain, Bulan Sapar juga menjadi momentum berbagi rezeki melalui tradisi membagikan kue apem kepada keluarga, tetangga, maupun masyarakat sekitar.

Melalui tradisi tersebut, suasana yang semula dikaitkan dengan berbagai ujian justru berubah menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Baca Juga: Jam Mengajar Guru Kini Lebih Fleksibel! Simak Ketentuan Terbaru Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025

Sejarah dan Filosofi Kue Apem

Dalam tradisi masyarakat Cirebon, kue apem sering dihubungkan dengan peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai tragedi Karbala, yaitu wafatnya Sayyidina Husain bin Ali beserta para pengikutnya.

Selain itu, masyarakat juga memaknai kue apem sebagai simbol doa agar terhindar dari berbagai musibah serta memperoleh keberkahan dalam kehidupan.

Ada pula pandangan yang mengaitkan nama apem dengan kata "afwan" dalam bahasa Arab yang berarti maaf. Dari makna tersebut, tradisi membagikan apem juga dipahami sebagai ajang saling memaafkan dan mempererat hubungan antarsesama.

Tradisi Ngapem yang Sarat Nilai Kebersamaan

Kebiasaan membuat kue apem dikenal masyarakat Cirebon dengan istilah ngapem.

Tradisi ini biasanya dilakukan secara gotong royong oleh anggota keluarga maupun masyarakat sekitar. Setelah selesai dibuat, kue apem kemudian dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah dan ungkapan rasa syukur.

Nilai kebersamaan inilah yang menjadikan tradisi ngapem tetap bertahan hingga sekarang meskipun zaman terus berubah.

Menariknya, meski ada anggapan bahwa tradisi ini banyak dilakukan oleh mereka yang lahir pada Bulan Sapar, siapa pun sebenarnya dapat membuat kue apem selama memiliki niat untuk berbagi kepada sesama.

Baca Juga: Data Peserta Didik Lama Hilang di Dapodik 2027? Ini Penyebab dan Solusi yang Perlu Diketahui Operator

Cara Pembuatan Kue Apem Tradisional

Kue apem tradisional dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana, seperti tepung beras, tape beras, parutan kelapa, ragi, dan sedikit garam.

Perpaduan bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih dengan sedikit sentuhan asam yang khas.

Secara tradisional, adonan dipanggang menggunakan cetakan sehingga menghasilkan bentuk bulat kecil dengan tekstur lembut.

Kue apem biasanya disantap bersama kuah gula merah yang telah dicairkan dan dicampur santan atau sari kelapa sehingga menghadirkan perpaduan rasa manis dan gurih yang semakin nikmat ketika disajikan dalam keadaan hangat.

Beradaptasi dengan Perkembangan Zaman

Seiring perkembangan kuliner, bentuk dan tampilan kue apem kini semakin beragam.

Tidak hanya berbentuk bulat seperti versi tradisional, kini banyak dijumpai apem dengan bentuk bunga, cincin, kotak, maupun berbagai motif menarik lainnya.

Pilihan warnanya pun semakin bervariasi, mulai dari putih, merah muda, hijau, hingga oranye. Sebagian besar variasi modern tersebut dibuat dengan cara dikukus sehingga menghasilkan tekstur yang berbeda dibandingkan apem panggang.

Meski tampil lebih modern agar diminati generasi muda, bahan dasar dan makna filosofisnya tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya Cirebon.

Baca Juga: Tak Perlu Menunggu Lagi! Kenaikan Pangkat PNS Kini Bisa Diusulkan Setiap Bulan, Ini Aturan Terbaru dari BKN

Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Keberadaan kue apem membuktikan bahwa tradisi lokal mampu bertahan di tengah perubahan zaman apabila terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Lebih dari sekadar kuliner, tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan, kepedulian sosial, rasa syukur, dan semangat berbagi yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Karena itulah, kue apem tidak hanya dikenang sebagai makanan khas Bulan Sapar, tetapi juga sebagai simbol pelestarian budaya yang masih hidup hingga sekarang.

Tradisi membuat dan membagikan kue apem pada Bulan Sapar merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, dan kebersamaan yang sangat kuat bagi masyarakat Cirebon. Melalui tradisi ngapem, masyarakat tidak hanya melestarikan kuliner khas daerah, tetapi juga menjaga semangat gotong royong, sedekah, serta mempererat hubungan antarsesama.

Di tengah perkembangan zaman, berbagai inovasi pada bentuk dan penyajian kue apem menunjukkan bahwa budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Selama nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap dijaga, tradisi ini akan terus menjadi bagian penting dari identitas budaya Cirebon untuk generasi mendatang.***

Tags:
Khazanah Budaya Tradisi Khazanah Pengetahuan

Komentar Pengguna