GIANYAR — Sejumlah mahasiswa terlibat langsung dalam pengelolaan sampah selama penyelenggaraan Piala Presiden 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali.
Selain membantu membersihkan kawasan stadion, para mahasiswa menggunakan kegiatan tersebut sebagai sarana mempelajari persoalan lingkungan secara langsung. Sebagian peserta juga memanfaatkannya untuk mendukung penyusunan skripsi yang berkaitan dengan sampah dan pengelolaan lingkungan.
Kegiatan itu dijalankan bersama komunitas lingkungan Metamorfosa. Para relawan tidak hanya memungut sampah setelah pertandingan, tetapi juga mengajak suporter menjaga kebersihan tribun dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Pendiri Metamorfosa, Ardan Nardiyanto, menjelaskan bahwa mayoritas relawan yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan mahasiswa.
Relawan termuda hingga peserta yang telah memasuki semester tujuh bekerja bersama untuk membersihkan kawasan pertandingan. Bagi mahasiswa yang mengambil tema lingkungan, kegiatan ini memberikan kesempatan mengamati jenis sampah, perilaku penonton, pola pengumpulan, serta proses pengelolaan setelah acara selesai.
Pembelajaran semacam ini memberikan pengalaman yang berbeda dari kegiatan di ruang kelas.
Mahasiswa tidak hanya membaca teori mengenai pengelolaan sampah, tetapi melihat secara langsung bagaimana sebuah acara olahraga dengan ribuan penonton dapat menghasilkan sampah dalam waktu singkat.
Data dan pengalaman lapangan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami persoalan penelitian sebelum menyusun analisis dan kesimpulan akademik.
Metamorfosa menjalankan kegiatan pengelolaan sampah sejak pertandingan pembukaan Piala Presiden 2026 di Bandung hingga laga final yang berlangsung di Bali.
Komunitas tersebut telah menjadi mitra pengelolaan sampah dalam Piala Presiden selama dua tahun berturut-turut, yakni pada penyelenggaraan 2025 dan 2026.
Selain di Bandung dan Bali, kegiatan juga dilaksanakan di Surabaya. Setiap kota memiliki karakter penonton dan jumlah sampah yang berbeda.
Metamorfosa menurunkan sekitar 20 edukator pada setiap kota penyelenggara. Aksi pembersihan juga melibatkan sekitar 100 relawan di Bandung dan 200 relawan di Surabaya. Sementara itu, tim yang bertugas di Bali didominasi mahasiswa serta anggota komunitas lingkungan.
Jenis sampah yang paling banyak ditemukan selama pertandingan adalah plastik dan kertas.
Sampah tersebut berasal dari botol minuman, kantong plastik, kotak makanan, serta berbagai kemasan yang dibawa atau dibeli penonton selama berada di dalam stadion.
Metamorfosa mencatat volume sampah terbanyak ditemukan selama pertandingan di Surabaya, terutama ketika laga berlangsung pada akhir pekan.
Menariknya, jumlah penonton di Bandung disebut relatif stabil di kisaran 20 ribu orang dalam setiap pertandingan. Namun, sampah yang dikumpulkan di Bandung lebih sedikit dibandingkan dengan Surabaya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa jumlah penonton bukan satu-satunya faktor yang menentukan banyaknya sampah.
Kebiasaan penonton, ketersediaan tempat sampah, jenis makanan yang dijual, sistem pengumpulan, serta edukasi selama pertandingan juga dapat memengaruhi kondisi kebersihan stadion.
Keterlibatan suporter menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan ini.
Di Bandung, sejumlah Bobotoh secara sukarela meminta kantong sampah kepada petugas. Mereka kemudian ikut menyisir tribun dan mengumpulkan sampah setelah pertandingan selesai.
Partisipasi tersebut memperlihatkan bahwa kebersihan stadion tidak hanya menjadi tanggung jawab panitia atau petugas kebersihan.
Penonton dapat membantu mengurangi beban relawan melalui tindakan sederhana, seperti tidak meninggalkan kemasan makanan di kursi dan mengumpulkan sampah sebelum keluar dari tribun.
Budaya semacam ini dapat membantu menciptakan pertandingan yang lebih nyaman sekaligus mengurangi waktu yang diperlukan untuk membersihkan stadion.
Pada pertandingan final di Bali, Metamorfosa bekerja sama dengan Trash Ranger Bali untuk menjalankan kegiatan pembersihan dan pengelolaan sampah.
Sampah yang berhasil dikumpulkan dipusatkan di tempat penampungan sementara yang berada di sekitar Gate 6 dan Gate 7 Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Sampah tersebut selanjutnya dikelola bersama masyarakat sekitar. Pemanfaatannya disesuaikan dengan jenis dan kondisi material yang telah dikumpulkan.
Proses ini penting karena kegiatan membersihkan stadion tidak seharusnya berhenti pada pemindahan sampah dari tribun ke tempat penampungan.
Sampah perlu dipilah agar bahan yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir.
Para relawan juga bertugas memberikan edukasi kepada penonton.
Edukasi dilakukan dengan mengajak suporter membuang sampah secara tertib, menggunakan kantong sampah, serta ikut menjaga kebersihan lingkungan stadion.
Pendekatan langsung dinilai lebih efektif karena dilakukan ketika penonton sedang menghasilkan sampah.
Relawan dapat segera menunjukkan tempat pembuangan dan menjelaskan cara memisahkan sampah apabila fasilitas pemilahan tersedia.
Kegiatan seperti ini sejalan dengan arah pengelolaan sampah nasional yang menekankan pengurangan dari sumber, perubahan perilaku masyarakat, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular.
Keterlibatan mahasiswa membuka banyak kemungkinan tema penelitian.
Mahasiswa dapat mempelajari perilaku penonton, efektivitas kampanye kebersihan, perbandingan volume sampah antarkota, hingga pengaruh ketersediaan fasilitas terhadap kebiasaan membuang sampah.
Penelitian juga dapat membahas jenis sampah yang paling banyak dihasilkan, potensi daur ulang, kebutuhan jumlah petugas, dan strategi pengelolaan acara berskala besar.
Namun, penggunaan kegiatan sebagai bahan skripsi tetap perlu mengikuti metode penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mahasiswa harus menentukan pertanyaan penelitian, mengumpulkan data secara tertib, memperoleh izin apabila diperlukan, serta membedakan pengalaman pribadi dengan temuan ilmiah.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa proses belajar mahasiswa tidak harus selalu berlangsung di kampus.
Stadion, tempat wisata, pasar, kawasan permukiman, dan kegiatan publik dapat menjadi ruang pembelajaran ketika mahasiswa menghadapi persoalan nyata bersama masyarakat.
Pendekatan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan teknologi pengolahan.
Perilaku manusia, kebijakan panitia, desain fasilitas, pola konsumsi, dan kerja sama antarkomunitas juga menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.
Universitas Udayana sebelumnya juga menggelar Udayana Clean Up Day sebagai bagian dari program Kampus Berdampak dan kepedulian mahasiswa terhadap kebersihan serta pelestarian lingkungan di Bali.
Aksi relawan dapat memberikan dampak positif, tetapi kebersihan stadion tetap membutuhkan sistem yang berjalan secara konsisten.
Panitia pertandingan perlu menyediakan tempat sampah yang mudah ditemukan, memberikan petunjuk yang jelas, mengatur pengangkutan, serta memastikan sampah diproses setelah acara.
Pedagang juga dapat dilibatkan dengan mengurangi kemasan berlebihan dan menggunakan bahan yang lebih mudah dikumpulkan atau didaur ulang.
Sementara itu, suporter perlu dibiasakan membawa sampah dari tempat duduk menuju titik pengumpulan.
Apabila seluruh pihak bekerja sama, stadion dapat tetap bersih tanpa hanya bergantung pada kegiatan pembersihan setelah pertandingan selesai.
Keterlibatan mahasiswa dalam Piala Presiden 2026 memberikan dua manfaat sekaligus.
Stadion terbantu melalui kegiatan pembersihan dan edukasi, sedangkan mahasiswa memperoleh pengalaman lapangan yang dapat mendukung pembelajaran maupun penelitian.
Kegiatan tersebut juga mempertemukan mahasiswa dengan komunitas, suporter, masyarakat sekitar, dan penyelenggara acara.
Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk menyusun solusi pengelolaan sampah yang lebih sesuai dengan keadaan lapangan.
Aksi di Stadion Dipta membuktikan bahwa kegiatan olahraga dapat menjadi ruang kolaborasi antara kompetisi, pendidikan, dan kepedulian lingkungan.
Sumber informasi: detikBali, Universitas Udayana, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Artikel ditulis menggunakan judul, struktur, pembahasan, dan susunan kalimat baru.