KebonCinta.com – Bayangkan menempuh perjalanan haji lebih dari seribu tahun lalu. Belum ada kendaraan berpendingin udara, air minum kemasan, ataupun jaringan pipa modern. Di tengah panas Jazirah Arab, mendapatkan air bisa menjadi persoalan yang sangat serius bagi jemaah.
Kondisi itulah yang kemudian melahirkan salah satu proyek air paling terkenal dalam sejarah perjalanan haji. Di baliknya berdiri seorang perempuan bernama Zubaydah binti Ja'far, istri Khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid. Sumber resmi Makkah mencatat proyek yang kemudian dikenal sebagai Ayn Zubaydah dibangun pada 194 Hijriah atau sekitar 809 Masehi untuk mengatasi kesulitan air yang dialami jemaah.
Yang membuat kisah ini bertahan hingga sekarang bukan hanya besarnya pembangunan. Zubaydah menggunakan kekayaan dan pengaruh yang dimilikinya untuk menyediakan sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat dibutuhkan orang-orang di tengah gurun: air.
Perjalanan menuju Makkah pada masa Abbasiyah berbeda jauh dibandingkan perjalanan haji hari ini.
Jemaah datang melalui jalur darat dengan menempuh bentang gurun yang panjang. Seiring meningkatnya jumlah orang yang melakukan perjalanan haji, kebutuhan terhadap air dan tempat beristirahat ikut bertambah. UNESCO mencatat bahwa tingginya lalu lintas jemaah pada masa Abbasiyah memberi tekanan besar terhadap persediaan air dan makanan di sepanjang jalur menuju Makkah.
Zubaydah dikenal mempunyai perhatian besar terhadap persoalan tersebut.
Ia bukan hanya dikaitkan dengan pembangunan saluran air di sekitar Makkah. Namanya juga melekat pada Darb Zubaydah, jalur bersejarah yang menghubungkan Kufa di Irak dengan Makkah.
UNESCO mencatat Zubaydah membiayai berbagai fasilitas di sepanjang jalur itu. Sumur, kolam penampungan air, tempat singgah, dan berbagai sarana lain dibangun untuk membantu jemaah melewati perjalanan yang panjang dan berat.
Salah satu warisan terbesarnya berada di sekitar Makkah.
Proyek yang dikenal sebagai Ayn Zubaydah dirancang untuk membawa air dari sumber yang berada di kawasan sekitar menuju tempat-tempat yang membutuhkan suplai air bagi jemaah.
Royal Commission for Makkah City and Holy Sites mencatat lokasi Ayn Zubaydah berkaitan dengan Wadi Nu'man di jalur antara Taif dan Makkah. Proyek tersebut dinamai untuk mengenang Zubaydah binti Ja'far yang memprakarsai pembangunan jaringan air itu.
Membangun jaringan air pada wilayah berbatu dan bergunung tentu bukan pekerjaan sederhana, terlebih pada awal abad ke-9 ketika belum tersedia alat berat, pompa listrik, pemetaan satelit, ataupun teknologi konstruksi modern.
Namun jaringan air tersebut tetap berhasil diwujudkan.
Sisa bangunannya yang masih ditemukan hingga sekarang memperlihatkan jalur batu dan konstruksi saluran yang dibuat untuk membawa air melintasi medan sekitar Makkah. Koleksi Wikimedia Commons bahkan masih mendokumentasikan sejumlah bagian dari Kanal Zubaydah dalam kondisi yang dapat dikenali.
Ayn Zubaydah tidak tepat dibayangkan sebagai parit biasa yang digali memanjang di padang pasir.
Jaringan tersebut merupakan bagian dari teknologi pengelolaan air yang memanfaatkan kondisi geografis agar air bisa dialirkan menuju kawasan yang membutuhkan.
Sisa konstruksinya menunjukkan adanya bagian berupa saluran tertutup maupun struktur batu yang mengikuti kontur wilayah. Foto-foto sejarah yang tersimpan di Wikimedia Commons memperlihatkan sebagian dinding dan jalur akuaduknya yang masih bertahan.
Infrastruktur air seperti inilah yang menunjukkan betapa serius persoalan pelayanan jemaah telah dipikirkan sejak berabad-abad lalu.
UNESCO menyebut jaringan fasilitas air pada jalur haji zaman Abbasiyah—mulai sumur, reservoir, kolam, bendungan hingga kanal—sebagai contoh penting teknologi pengelolaan air sekaligus pencapaian teknik sipil pada zamannya.
Zubaydah binti Ja'far dikenal sebagai istri Khalifah Abbasiyah Harun al-Rashid.
Namun namanya dalam sejarah perjalanan haji tidak bertahan hanya karena kedudukannya di lingkungan kekhalifahan.
UNESCO mencatat begitu banyak fasilitas di jalur Kufa-Makkah yang berhubungan dengan sumbangan Zubaydah. Bahkan setelah ia meninggal, berbagai tempat singgah, sumur, dan reservoir di sepanjang rute masih menggunakan nama Zubaydah atau Umm Ja'far. Besarnya jejak pembangunan tersebut ikut membuat keseluruhan rute kemudian dikenal sebagai Darb Zubaydah.
Jalur itu sendiri membentang sekitar 1.300 kilometer, menghubungkan Kufa hingga Makkah dan dilengkapi berbagai infrastruktur untuk membantu perjalanan jemaah. UNESCO mencatat sedikitnya 27 stasiun utama dan 27 sub-stasiun telah diidentifikasi di sepanjang jaringan tersebut.
Dari sini terlihat bahwa perhatian Zubaydah terhadap kebutuhan jemaah bukan sebuah tindakan kecil yang berdiri sendiri.
Ada upaya besar untuk membuat perjalanan melintasi gurun menjadi lebih memungkinkan bagi banyak orang.
Makkah hari ini tentu sudah sangat berbeda.
Ketersediaan air bagi penduduk dan jutaan jemaah kini didukung teknologi serta infrastruktur modern. Jalur perjalanan haji pun telah dilengkapi jalan raya, bus, kereta, pendingin, fasilitas kesehatan, hingga jaringan distribusi air yang tidak bisa dibandingkan dengan masa Abbasiyah.
Namun sebagian jejak Ayn Zubaydah masih bertahan sebagai pengingat bagaimana persoalan air pernah dihadapi pada masa lalu. Saudi Press Agency pada 2026 kembali mengangkat Ayn Zubaydah sebagai warisan air bersejarah yang mencerminkan perhatian selama berabad-abad terhadap pelayanan jemaah.
Sementara itu, Darb Zubaydah kini masuk dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO melalui pengajuan Arab Saudi dan Irak. UNESCO menilai jalur tersebut mempunyai arti penting sebagai jaringan perjalanan haji sekaligus contoh perencanaan infrastruktur dalam skala yang sangat besar pada periode Abbasiyah.
Ada alasan mengapa kisah Zubaydah masih diceritakan lebih dari seribu tahun setelah proyek tersebut dibangun.
Ia hidup dalam lingkungan kekuasaan dan memiliki kekayaan yang besar. Namun sebagian warisan yang paling lama dikenang justru bukan perhiasan, istana, atau kemewahan kehidupan kerajaan.
Namanya bertahan pada jalan, sumur, reservoir, dan saluran air yang dibuat untuk membantu orang lain menempuh perjalanan menuju Tanah Suci.
Dari sebuah masalah sederhana—jemaah membutuhkan air—lahir pembangunan yang jejaknya masih menjadi bagian dari sejarah Makkah.
Ayn Zubaydah akhirnya bukan sekadar cerita tentang teknologi pengairan kuno.
Ia juga menjadi cerita tentang bagaimana sebuah keputusan untuk membantu orang lain dapat meninggalkan jejak jauh melampaui usia orang yang memulainya.