Khazanah
Hilmi An Naufal

Lebih dari 1.000 Tahun, Manuskrip Al-Qur’an Karya Ibn Al-Bawwab Dipamerkan di Makkah

Lebih dari 1.000 Tahun, Manuskrip Al-Qur’an Karya Ibn Al-Bawwab Dipamerkan di Makkah

11 Agustus 2026 | 06:00

KHAZANAH – Di tengah perkembangan Al-Qur’an digital yang kini dapat dibaca melalui ponsel dalam hitungan detik, sebuah mushaf yang ditulis lebih dari seribu tahun lalu justru menjadi perhatian pengunjung di Makkah, Arab Saudi.

Manuskrip Al-Qur’an tersebut dipamerkan dalam Pameran “Iqra” yang diselenggarakan Presidensi Urusan Agama Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di King Abdulaziz Endowment, Makkah.

Saudi Press Agency atau SPA menyebut mushaf langka tersebut ditulis oleh kaligrafer terkenal Ali bin Hilal, yang lebih dikenal sebagai Ibn Al-Bawwab, lebih dari 1.000 tahun yang lalu.

Keberadaannya memberikan gambaran mengenai perkembangan tradisi penulisan Al-Qur’an, seni kaligrafi Arab, hingga perhatian umat Islam terhadap pelestarian mushaf dari generasi ke generasi.

Siapa Ibn Al-Bawwab?

Ibn Al-Bawwab merupakan salah satu nama penting dalam sejarah kaligrafi Islam.

Nama aslinya adalah Ali bin Hilal, sementara julukan Ibn Al-Bawwab secara harfiah berkaitan dengan sebutan “anak penjaga pintu”.

Ia hidup pada masa Abbasiyah dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang membantu menyempurnakan bentuk tulisan Arab proporsional.

Oxford Research Encyclopedia of Religion mencatat Ibn Al-Bawwab memiliki peranan penting dalam perkembangan kaligrafi Islam dan dikaitkan dengan penyempurnaan sejumlah gaya tulisan Arab.

Kemampuannya membuat namanya terus dikenal bahkan setelah lebih dari satu milenium.

Karya-karya yang dikaitkan dengannya kini mempunyai nilai sejarah dan seni yang sangat tinggi.

Manuskrip Berusia Lebih dari Seribu Tahun

Menurut SPA, mushaf yang ditampilkan di Pameran Iqra ditulis oleh Ibn Al-Bawwab lebih dari 1.000 tahun lalu.

Artinya, manuskrip tersebut berasal dari masa yang sangat jauh sebelum percetakan modern ditemukan.

Pada zaman itu, sebuah mushaf harus disalin dengan tangan.

Prosesnya tentu membutuhkan ketelitian luar biasa.

Kaligrafer tidak sekadar menulis huruf demi huruf, tetapi harus menjaga susunan teks, proporsi tulisan dan kualitas artistiknya.

Inilah salah satu alasan manuskrip Al-Qur’an kuno menjadi sumber penting untuk memahami perkembangan seni tulis Islam.

Jadi Salah Satu Daya Tarik Pameran Iqra

Keberadaan mushaf tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Pameran Iqra.

Penyelenggara menampilkan manuskrip itu bersama indeks ilmiah serta analisis terhadap kaligrafi dan ornamen pada halaman-halamannya.

Pengunjung tidak hanya melihat sebuah benda tua di balik kaca.

Mereka juga dapat mengetahui nilai historis dan artistiknya serta mengikuti perkembangan kaligrafi Arab dan dekorasi Islam selama berabad-abad.

Pendekatan seperti ini membuat pameran manuskrip tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat memajang benda bersejarah.

Ia juga menjadi ruang pendidikan.

Penyelenggara Sebut Hanya Ada Dua Salinan yang Diketahui

Ada fakta lain yang membuat manuskrip tersebut semakin menarik.

Menurut keterangan penyelenggara yang diberitakan SPA dan Arab News, mushaf itu termasuk salah satu manuskrip Islam paling langka karena nilai ilmiah, seni dan sejarahnya.

Penyelenggara bahkan menyebut hanya ada dua salinan yang diketahui di dunia.

Karena itu, kesempatan melihat karya yang dikaitkan dengan Ibn Al-Bawwab secara langsung menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi pengunjung pameran.

Namun penyebutan jumlah manuskrip kuno perlu tetap dipahami berdasarkan katalog dan atribusi yang digunakan lembaga terkait karena penelitian terhadap manuskrip dapat terus berkembang.

Ada Mushaf Ibn Al-Bawwab yang Sangat Terkenal di Dublin

Nama Ibn Al-Bawwab juga tidak dapat dilepaskan dari sebuah mushaf terkenal yang disimpan Chester Beatty Library di Dublin, Irlandia.

Kajian koleksi Chester Beatty mencatat sebuah Al-Qur’an karya Ibn Al-Bawwab bertarikh sekitar 1000–1001 Masehi.

Manuskrip tersebut menjadi contoh penting penggunaan awal tulisan kursif atau Naskh pada mushaf Al-Qur’an.

Hal ini menunjukkan bahwa masa hidup Ibn Al-Bawwab memang berada sekitar satu milenium sebelum zaman sekarang.

Karena itulah keterangan mengenai mushaf berusia lebih dari seribu tahun mempunyai konteks sejarah yang masuk akal.

Mengapa Kaligrafi Begitu Penting dalam Sejarah Islam?

Sebelum mesin cetak digunakan secara luas, penyalinan buku sepenuhnya bergantung kepada keterampilan manusia.

Hal tersebut juga berlaku terhadap mushaf.

Seorang kaligrafer membutuhkan kemampuan menulis yang sangat tinggi karena kesalahan dalam penyalinan teks harus diminimalkan.

Seiring perjalanan waktu, kaligrafi Arab kemudian berkembang menjadi bentuk seni dengan beragam gaya.

Oxford Research Encyclopedia mencatat perkembangan tulisan Arab melahirkan berbagai gaya kaligrafi, dan Ibn Al-Bawwab menjadi salah satu tokoh berpengaruh dalam proses tersebut.

Karena itu, manuskrip Al-Qur’an dapat dipelajari dari beberapa sisi sekaligus:

teks, sejarah, material, kaligrafi, ornamen hingga teknik pembuatan buku.

Bukan Hanya Teks, Ornamennya Juga Diteliti

Pameran Iqra tidak hanya menyoroti usia manuskrip.

SPA menjelaskan mushaf tersebut dipamerkan bersama analisis ilmiah mengenai kaligrafi dan ornamen di dalamnya.

Ornamen mempunyai peranan penting dalam sejarah manuskrip Islam.

Hiasan dapat digunakan untuk memperindah halaman, membedakan bagian tertentu maupun memberikan struktur visual pada mushaf.

Karena dibuat pada masa ketika seluruh proses masih dikerjakan secara manual, detail semacam itu menunjukkan tingginya keterampilan para pembuat manuskrip.

Menjadi Bukti Perjalanan Panjang Penulisan Al-Qur’an

Hari ini Al-Qur’an dapat diproduksi dalam jutaan eksemplar menggunakan mesin cetak.

Bahkan seseorang tidak membutuhkan buku fisik untuk membacanya.

Aplikasi Al-Qur’an tersedia di smartphone dan sebuah ayat dapat dicari dalam beberapa detik.

Keadaan tersebut sangat berbeda dengan seribu tahun lalu.

Setiap mushaf harus disalin satu per satu.

Tinta harus disiapkan.

Media tulis dipilih.

Huruf dibuat menggunakan pena.

Kemudian halaman disusun menjadi sebuah buku.

Karena itulah sebuah manuskrip berumur seribu tahun dapat membantu masyarakat membayangkan betapa besarnya pekerjaan yang dahulu dibutuhkan untuk menghasilkan satu mushaf.

Pameran Juga Menunjukkan Perkembangan Seni Islam

Kehadiran manuskrip Ibn Al-Bawwab juga memperlihatkan hubungan erat antara Al-Qur’an dan perkembangan seni kaligrafi.

Kaligrafi mendapatkan posisi penting dalam kebudayaan Islam dan berkembang dalam berbagai bentuk selama berabad-abad.

Ibn Al-Bawwab sendiri dikenal sebagai salah satu figur yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan tulisan Arab.

Chester Beatty menggambarkan gaya penulisannya sebagai tulisan kursif Naskh yang elegan.

Karyanya kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan manuskrip Islam.

Saudi Terus Menampilkan Warisan Manuskrip Islam

Pameran manuskrip kuno bukan pertama kalinya dilakukan di Arab Saudi.

Berbagai museum dan lembaga budaya di negara tersebut menyimpan maupun menampilkan koleksi mushaf dan naskah Islam dari periode yang berbeda.

Pada Juli 2026, SPA juga melaporkan House of Islamic Arts di Jeddah menampilkan perjalanan sekitar 15 abad seni Islam, termasuk manuskrip Al-Qur’an yang memperlihatkan perkembangan kaligrafi Arab.

Upaya semacam ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat sejarah peradaban Islam melalui benda asli dan peninggalan material.

Tidak hanya membaca sejarah melalui buku.

Jangan Keliru dengan Manuskrip “Gharib Al-Qur’an”

Pada 2026 sebenarnya ada dua berita berbeda mengenai manuskrip berusia sekitar seribu tahun di Arab Saudi yang mudah tertukar.

Pada April 2026, King Abdulaziz Public Library juga memperkenalkan manuskrip sekitar seribu tahun berjudul Gharib Al-Qur’an karya Abu Ubaidah Ma’mar Ibn Al-Muthanna.

Naskah tersebut terdiri dari 23 folio berukuran 17 x 22 sentimeter, menggunakan tulisan Andalusia, sedangkan nama-nama surah ditulis menggunakan Kufi.

Namun manuskrip tersebut bukan mushaf Ibn Al-Bawwab yang dipamerkan dalam Pameran Iqra pada Juli 2026.

Gharib Al-Qur’an merupakan karya dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan linguistik.

Sedangkan benda yang menjadi perhatian dalam Pameran Iqra adalah salinan Al-Qur’an yang dikaitkan dengan Ibn Al-Bawwab.

Pembedaan ini penting agar dua kabar yang sama-sama menyebut usia sekitar seribu tahun tersebut tidak tercampur.

Mengapa Manuskrip Kuno Harus Dijaga?

Naskah berumur ratusan atau ribuan tahun sangat rentan mengalami kerusakan.

Cahaya, suhu, kelembapan, serangga, kualitas kertas hingga cara penyimpanan dapat memengaruhi kondisinya.

Karena itu, manuskrip bersejarah membutuhkan konservasi khusus.

Nilai sebuah manuskrip juga tidak hanya diukur berdasarkan harga.

Bagi peneliti, benda tersebut dapat memberikan informasi mengenai bahasa, perkembangan tulisan, tradisi keilmuan, teknik pembuatan buku hingga kehidupan masyarakat pada zamannya.

Ketika manuskrip rusak atau hilang, sebagian informasi sejarah juga dapat ikut hilang.

Dari Pena hingga Layar Smartphone

Manuskrip berumur lebih dari seribu tahun yang dipamerkan di Makkah memperlihatkan perubahan luar biasa dalam cara manusia berinteraksi dengan teks.

Ibn Al-Bawwab hidup pada masa ketika penulisan sebuah mushaf membutuhkan keterampilan dan waktu yang panjang.

Lebih dari seribu tahun kemudian, ayat yang dahulu ditulis dengan tangan kini dapat muncul dalam hitungan detik melalui layar ponsel.

Teknologinya berubah.

Media penyimpanannya berubah.

Cara masyarakat mengaksesnya juga berubah.

Namun manuskrip yang masih bertahan dari masa lalu memberikan gambaran mengenai perhatian besar para generasi terdahulu terhadap tradisi penulisan dan pelestarian Al-Qur’an.

Itulah yang membuat mushaf Ibn Al-Bawwab di Pameran Iqra bukan sekadar benda antik.

Ia menjadi jembatan antara tradisi keilmuan Islam lebih dari seribu tahun lalu dengan generasi yang hidup di era digital sekarang.

Tags:
Khazanah Islam

Komentar Pengguna