Teknologi
Azzahra Esa Nabila

Ketika Dunia Digital Membuat Kita Mudah Terbelah dan Saling Berseberangan

Ketika Dunia Digital Membuat Kita Mudah Terbelah dan Saling Berseberangan

24 Juni 2026 | 21:50

Keboncinta.com-- Ada masa ketika sebuah obrolan ringan di internet bisa berakhir dengan tawa, meskipun pendapatnya berbeda. Tapi sekarang, hal kecil seperti pilihan makanan, opini film, atau pandangan sosial bisa berubah jadi perdebatan panjang yang melelahkan. Kolom komentar sering kali terasa seperti arena, bukan lagi ruang berbagi cerita. Kita seperti semakin cepat tersulut, bahkan oleh hal yang mungkin dulu kita anggap sepele.

Situasi ini tidak lepas dari cara ruang digital bekerja. Di balik layar, ada arus informasi yang terus mengalir tanpa henti, tetapi tidak selalu netral. Kita cenderung lebih sering melihat konten yang sejalan dengan apa yang kita sukai atau percayai. Lama-kelamaan, kita merasa bahwa “pandangan kita” adalah sesuatu yang paling wajar, sementara pandangan lain terasa janggal. Ketika dua dunia yang berbeda ini bertemu di satu ruang, gesekan pun mudah terjadi. Bukan karena orang tiba-tiba menjadi lebih emosional, tetapi karena kita jarang lagi terbiasa mendengar versi yang berbeda dari kenyataan.

Hal yang sering tidak disadari adalah bagaimana identitas perlahan ikut melekat pada pendapat. Di dunia digital, opini bukan lagi sekadar pandangan, tetapi terasa seperti bagian dari diri. Maka ketika pendapat itu dikritik, yang terasa terserang bukan hanya ide, tapi juga harga diri. Dari sini, percakapan berubah arah: bukan lagi mencari pemahaman, tapi mempertahankan diri. Inilah titik kecil yang sering memicu pertengkaran besar di ruang online.

Dampaknya tidak berhenti di layar ponsel. Kebiasaan ini ikut terbawa ke kehidupan sehari-hari. Orang jadi lebih hati-hati berbicara, atau sebaliknya, lebih mudah menghakimi. Relasi sosial perlahan kehilangan ruang abu-abu, karena semuanya didorong menjadi hitam atau putih. Padahal kehidupan nyata jarang sesederhana itu. Setiap orang membawa pengalaman, konteks, dan luka yang tidak terlihat di permukaan layar. Namun di dunia digital, semua itu sering terpotong menjadi kalimat pendek yang mudah disalahpahami.

Tags:
Generasi Digital Bijak Bermedia Sosial Fenomena Remaja

Komentar Pengguna