Kapan Waktu Terbaik Minum Isotonik Saat Olahraga?

Kapan Waktu Terbaik Minum Isotonik Saat Olahraga?

09 November 2025 | 23:43

Saat menjalani aktivitas fisik — seperti olahraga — tubuh bekerja keras, bukan hanya untuk melakukan gerakan tetapi juga untuk mengatur suhu dan aliran darah. Proses tersebut memicu keluarnya keringat: selain air, keringat juga mengandung mineral-penting yang diperlukan tubuh. Jika cairan dan elektrolit yang hilang ini tidak segera diganti, kondisi dehidrasi bisa muncul — yang bisa menurunkan performa, memperlambat pemulihan, dan bahkan memicu risiko kesehatan.

Di sinilah minuman isotonik mengambil peran. Minuman ini sering direkomendasikan bagi orang yang berkeringat banyak atau melakukan aktivitas fisik yang memakan waktu lama. Dengan komposisi tertentu, minuman isotonik bisa membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang dengan lebih cepat dibandingkan air biasa.

Apa Itu Minuman Isotonik?

Minuman isotonik adalah minuman yang memiliki konsentrasi zat terlarut — seperti gula dan garam (elektrolit) — yang mirip dengan konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuh manusia. Karena kemiripannya ini, maka penyerapan cairan dan elektrolit ke dalam tubuh berlangsung lebih efisien.

Misalnya, sebuah studi pada orang dewasa sehat menunjukkan bahwa minuman isotonik (semisal mengandung ~6% karbohidrat, natrium sekitar 21 mmol/L, serta kalium dan klorida) memberikan retensi cairan yang lebih baik dibandingkan hanya minum air biasa — urine output lebih rendah, dan volume darah tetap lebih stabil.

Secara umum, karakteristik minuman isotonik meliputi:

  • Karbohidrat (biasanya gula sederhana atau maltodekstrin) di kisaran 6-8% (yaitu sekitar 6–8 gram per 100 ml air) — yang membantu sebagai sumber energi cepat.

  • Elektrolit utama seperti natrium, kalium, kalsium, dan magnesium — yang mengganti ion yang hilang lewat keringat.

  • Osmolalitas (konsentrasi zat terlarut) yang mendekati cairan tubuh, sehingga aliran air dan ion bisa berlangsung lancar.

Contoh: Dalam sebuah uji coba, minuman isotonik dengan komposisi ~6% karbohidrat dan 21 mmol/L natrium menunjukkan retensi cairan lebih baik dibandingkan air biasa.

Mengapa Minuman Isotonik Diperlukan Saat Olahraga?

1. Mengganti Cairan dan Elektrolit yang Hilang

Ketika tubuh berkeringat, tidak hanya air yang hilang tetapi juga natrium dan ion lainnya. Jika hanya mengganti dengan air saja, maka elektrolit tetap hilang dan tubuh mungkin tidak bisa bekerja optimal. Minuman isotonik membantu mengganti kedua jenis kehilangan: air dan elektrolit.

2. Penyerapan yang Lebih Cepat

Karena kadar karbohidrat dan natrium dalam minuman isotonik, proses penyerapan cairan ke dalam tubuh bisa lebih cepat melalui mekanisme seperti co-transport natrium-glukosa di usus. Beberapa studi menunjukkan bahwa minuman isotonik dapat meningkatkan retensi cairan (fluid retention) dibandingkan air biasa.

3. Mempertahankan Volume Plasma & Mengurangi Penurunan Performa

Studi pada olahraga dalam suhu tinggi menunjukkan bahwa hidrasi menggunakan minuman karbohidrat-elektrolit (sejenis isotonik) lebih efektif menahan penurunan volume plasma dibandingkan air saja atau tidak hidrasi. Volume plasma yang cukup penting agar suplai darah ke otot dan organ tetap optimal sehingga performa tidak cepat drop.

4. Membantu Pemulihan Setelah Olahraga

Dalam sebuah penelitian terhadap atlet karate, penggunaan minuman isotonik saat latihan menunjukkan penurunan kejadian proteinuria (protein dalam urin) dibanding sesi tanpa protokol hidrasi isotonik — menandakan stres ginjal lebih sedikit dan hidrasi lebih baik.

Jadi secara ringkas, minuman isotonik memiliki manfaat khusus bagi mereka yang melakukan aktivitas fisik cukup intens atau berkeringat banyak—membantu menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, meningkatkan penyerapan, mempertahankan performa, dan mempercepat pemulihan.

Kapan Waktu yang Tepat Mengonsumsi Minuman Isotonik?

Menurut pakar gizi Emilia Achmadi, waktu terbaik untuk mengonsumsi minuman isotonik adalah saat berolahraga, bukan sebelum atau sesudah. Berikut penjelasan lengkapnya:

  • Saat berolahraga: Karena saat itulah tubuh aktif berkeringat dan kehilangan cairan/elektrolit secara nyata. Menggantinya segera akan membantu menjaga keseimbangan dan mencegah dehidrasi.

  • Bukan tepat sebelum olahraga: Karena jika tubuh belum banyak kehilangan cairan atau elektrolit, minuman isotonik tidak terlalu diperlukan dan bisa menjadi sumber gula atau natrium yang tidak dibutuhkan.

  • Bukan tepat sesudah olahraga sebagai pengganti utama: Meskipun konsumsi sesudah olahraga tetap penting, minuman isotonik tidak selalu diperlukan jika aktivitas ringan atau keringat tidak banyak. Safer untuk mengganti cairan dengan air + makanan/porsi yang tepat.

Selain waktu, cara konsumsi juga penting: minumlah secara bertahap (sedikit demi sedikit), bukan sekaligus dalam jumlah besar. Hal ini membantu tubuh menyerap cairan dengan lebih optimal dan mengurangi risiko rasa tidak nyaman di perut atau kembung.

Lebih lanjut, untuk mengetahui berapa banyak cairan yang perlu diganti selama olahraga, pakar tersebut menyarankan untuk menimbang tubuh sebelum dan sesudah aktivitas. Bila berat tubuh turun misalnya 500 gram — maka minimal sekitar 500 ml atau sedikit lebih harus diganti cairannya. Ini menjadi patokan praktis.

Siapa yang Membutuhkan Minuman Isotonik — dan Siapa yang Tidak?

Siapa yang Sangat Disarankan

  • Orang yang melakukan aktivitas fisik berdurasi lama (misalnya >1‐2 jam) atau olahraga intens yang menyebabkan banyak keringat.

  • Atlet, peserta pertandingan, pelatih, pekerja lapangan yang berkeringat banyak.

  • Situasi latihan di lingkungan panas/hangat sehingga keringat cepat keluar dan kehilangan elektrolit nyata.

  • Saat aktivitas yang menguras tenaga di mana selain cairan hilang juga makanan/energi cepat habis.

Siapa yang Kurang Membutuhkan

  • Aktivitas fisik ringan atau yang durasinya singkat (misalnya jalan santai, olahraga ringan kurang dari 30–45 menit) dan keringat yang keluar sedikit.

Tags:
Sehat itu Keren Kesehatan Tubuh Kesehatan Sehat

Komentar Pengguna