Keboncinta.com-- Dalam kehidupan sehari-hari, standar ganda terhadap sikap tegas masih sering kita temui. Ketika laki-laki menunjukkan ketegasan, ia dianggap kuat, berwibawa, dan layak memimpin. Namun ketika perempuan melakukan hal yang sama, tidak jarang ia diberi label “galak”, “keras”, bahkan “tidak feminin”. Fenomena ini bukan sekadar pola pikir lama, tetapi masih terus diwariskan secara halus melalui budaya, lingkungan kerja, hingga interaksi sosial.
Labelisasi seperti ini berawal dari konstruksi sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok dominan dan perempuan sebagai sosok pengasuh. Ketika perempuan menyimpang dari peran tradisional tersebut—misalnya berbicara blak-blakan atau mengambil keputusan penting—lingkungan sering kali merasa tidak nyaman. Padahal, ketegasan sama sekali tidak berkaitan dengan gender, melainkan tentang bagaimana seseorang mampu mengelola situasi dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Di dunia kerja, bias ini terlihat jelas. Seorang manajer perempuan yang memberi instruksi jelas bisa dianggap terlalu menekan, sementara manajer laki-laki dengan sikap serupa justru dipuji sebagai disiplin. Perbedaan persepsi ini dapat menghambat perkembangan karier perempuan, membuat mereka merasa perlu “melunakkan” diri agar diterima. Akibatnya, bakat kepemimpinan perempuan sering teredam karena tekanan sosial untuk selalu terlihat ramah, lembut, dan menyenangkan.
Padahal, ketegasan adalah kualitas penting bagi siapa pun, terutama dalam mengambil keputusan, menyampaikan batasan, atau menyelesaikan masalah. Perempuan yang tegas bukan berarti kurang empati atau tidak ramah—mereka hanya menunjukkan kompetensi dan kejelasan sikap. Dalam banyak situasi, ketegasan justru menyelamatkan waktu, energi, dan hubungan; sesuatu yang sangat berharga baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi.
Untuk mengurangi bias ini, langkah kecil bisa dimulai dari diri sendiri. Pertama, kita bisa lebih sadar dalam memilih kata ketika menilai orang lain. Sebelum menyebut seorang perempuan “galak”, tanyakan: apakah ia marah, atau hanya tegas? Apakah kita akan memakai kata yang sama jika yang bertindak adalah laki-laki? Kesadaran semacam ini dapat perlahan mengikis stereotip yang sudah lama melekat.
Kedua, penting bagi perempuan untuk tetap memegang identitas dan prinsipnya. Menjadi tegas bukanlah kekurangan. Justru dengan sikap jelas dan lugas, perempuan dapat menunjukkan profesionalisme dan integritas. Tidak perlu mengubah diri demi kenyamanan orang lain, selama komunikasi tetap dilakukan dengan hormat.
Pada akhirnya, ketegasan bukan tentang menjadi laki-laki atau perempuan. Ini adalah keterampilan hidup yang penting bagi semua orang. Karena dunia membutuhkan lebih banyak pemimpin—tanpa peduli gender—yang mampu bersikap tegas sekaligus manusiawi.