Pendidikan
Hilmi An Naufal

Infrastruktur Digital Sekolah 3T Jadi Tantangan Pemerataan Pendidikan Indonesia

Infrastruktur Digital Sekolah 3T Jadi Tantangan Pemerataan Pendidikan Indonesia

03 Agustus 2026 | 05:55

Keboncinta — Pemerataan pendidikan digital masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal atau 3T tidak hanya menghadapi keterbatasan perangkat, tetapi juga persoalan jaringan internet, pasokan listrik, tenaga pendidik, dan ketersediaan materi pembelajaran digital.

Kondisi tersebut membuat manfaat teknologi pendidikan belum dirasakan secara setara. Siswa di kota besar relatif lebih mudah menggunakan internet, komputer, dan berbagai platform pembelajaran. Sementara itu, sejumlah sekolah terpencil masih harus menyesuaikan proses belajar dengan keterbatasan infrastruktur dasar.

Artikel Pendidikan.id menyoroti persoalan tersebut sebagai salah satu tantangan pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memenuhi janji pemerataan pendidikan dan penguatan penguasaan sains serta teknologi. Indonesia yang memiliki wilayah kepulauan luas membutuhkan pendekatan berbeda agar digitalisasi tidak hanya terpusat di kota besar.

Koneksi internet belum merata

Akses internet menjadi unsur penting dalam pembelajaran digital. Melalui jaringan yang memadai, guru dan siswa dapat membuka buku elektronik, video pendidikan, simulasi, perpustakaan digital, hingga kegiatan asesmen.

Namun, koneksi yang lambat atau tidak stabil membuat layanan tersebut sulit digunakan. Pada Maret 2025, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut sekitar 86 persen sekolah di Indonesia belum mempunyai akses fixed broadband. Data itu memperlihatkan bahwa ketersediaan jaringan berkualitas masih menjadi tantangan besar dalam transformasi pendidikan.

Masalahnya tidak hanya berkaitan dengan ada atau tidaknya sinyal. Sekolah juga perlu mempertimbangkan kecepatan jaringan, biaya langganan, kapasitas perangkat, dan kemampuan teknis dalam mengelola layanan digital.

Apabila koneksi hanya dapat digunakan oleh beberapa perangkat secara bergantian, kegiatan belajar berbasis internet sulit diterapkan untuk seluruh siswa dalam satu kelas.

Listrik menjadi kebutuhan dasar

Digitalisasi sekolah tidak dapat berjalan tanpa pasokan listrik yang stabil.

Laptop, komputer, papan interaktif digital, proyektor, router, dan perangkat penyimpanan membutuhkan sumber energi. Sekolah yang mengalami pemadaman rutin atau belum terhubung dengan jaringan listrik akan kesulitan menggunakan teknologi secara konsisten.

Pemerintah menyatakan program digitalisasi 2026 turut memprioritaskan sekolah di daerah 3T. Dukungan yang disiapkan tidak hanya berupa perangkat, tetapi juga internet, intervensi listrik, pelatihan guru, dan pendampingan pemanfaatan teknologi.

Pada 2025, Kemendikdasmen juga menjelaskan bahwa sekolah tanpa listrik dapat memperoleh dukungan panel surya. Sementara sekolah yang belum memiliki akses internet akan dibantu dengan perangkat konektivitas atau materi yang tetap dapat digunakan secara luring.

Perangkat tidak cukup tanpa materi pembelajaran

Pengiriman perangkat digital merupakan langkah awal, bukan tujuan akhir.

Sekolah tetap membutuhkan buku, video, soal latihan, simulasi, dan media lain yang sesuai dengan kurikulum serta kebutuhan siswa. Tanpa konten, perangkat berpotensi hanya digunakan sebagai layar presentasi atau bahkan tidak dimanfaatkan secara rutin.

Guru juga membutuhkan materi yang mudah dicari dan dapat digunakan tanpa persiapan teknis yang rumit. Konten harus disesuaikan dengan usia siswa, mata pelajaran, kondisi daerah, dan tujuan pembelajaran.

Penggunaan perangkat digital akan lebih bermakna apabila dilanjutkan dengan diskusi, praktik, proyek, dan pemecahan masalah. Menampilkan video tanpa aktivitas lanjutan belum tentu meningkatkan pemahaman siswa.

Solusi tanpa internet bisa menjadi alternatif

Sekolah dengan koneksi terbatas tidak harus menunggu jaringan internet sempurna untuk memulai pembelajaran digital.

Materi dapat disimpan dalam komputer lokal, server sekolah, penyimpanan eksternal, atau perangkat lain yang dapat diakses melalui jaringan Wi-Fi lokal. Sistem tersebut memungkinkan siswa membuka konten tanpa menggunakan internet publik.

Artikel Pendidikan.id memperkenalkan KIPIN sebagai salah satu solusi perpustakaan dan pembelajaran digital yang dapat beroperasi secara luring. Teknologi eduSPOT yang digunakan memungkinkan perangkat siswa mengakses materi melalui jaringan lokal sekolah tanpa membutuhkan koneksi internet.

KIPIN merupakan produk teknologi pendidikan yang ditawarkan oleh Pendidikan.id. Karena itu, sekolah dan pemerintah daerah tetap perlu menilai biaya, kualitas konten, kemudahan penggunaan, dukungan teknis, perlindungan data, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan sebelum melakukan pengadaan.

Sekolah juga dapat mempertimbangkan bahan ajar resmi pemerintah, konten buatan guru, sumber belajar terbuka, dan alternatif lain yang dapat berjalan secara luring.

Pemerintah mulai memperkuat konektivitas sekolah 3T

Sejumlah program telah dijalankan untuk memperluas akses digital ke sekolah terpencil.

Pada Juni 2026, Kemendikdasmen menyalurkan internet berbasis satelit Starlink untuk sekolah 3T di Kabupaten Nias Utara. Pemerintah juga menghadirkan dukungan listrik, papan interaktif digital, serta revitalisasi bangunan sekolah.

Program internet satelit sebelumnya juga ditargetkan menjangkau lebih dari 8.600 sekolah terpencil. Sistem satelit digunakan karena sejumlah lokasi sulit dijangkau oleh jaringan kabel maupun menara telekomunikasi darat.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan digital membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Tags:
pendidikan

Komentar Pengguna