Parenting
Azzahra Esa Nabila

Di Balik Kalimat “Aku Berbeda dari yang Lain”: Memahami Fenomena “Pick Me” di Dunia Digital

Di Balik Kalimat “Aku Berbeda dari yang Lain”: Memahami Fenomena “Pick Me” di Dunia Digital

29 April 2026 | 07:57

Keboncinta.com-- Ada kalimat yang sering muncul di media sosial, kadang terdengar ringan, kadang terasa seperti candaan, tapi diam-diam membawa makna yang lebih dalam: “Aku nggak kayak cewek lain.” Atau versi lain, “Aku lebih santai, aku nggak drama.” Sekilas terdengar seperti kepercayaan diri. Namun di balik itu, ada fenomena sosial yang kini sering dibicarakan: “Pick Me.”

Fenomena pick me merujuk pada perilaku seseorang yang berusaha mendapatkan validasi dengan cara membandingkan diri dengan kelompok lain, seolah ingin “dipilih” atau dianggap lebih baik karena berbeda. Awalnya, istilah ini banyak digunakan dalam konteks ringan di internet. Namun seiring waktu, ia berkembang menjadi bahan refleksi tentang bagaimana seseorang membentuk citra dirinya di ruang publik digital. Dalam kajian Psikologi Sosial, perilaku semacam ini berkaitan dengan kebutuhan akan penerimaan sosial dan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Salah satu teori yang sering digunakan untuk memahami hal ini adalah social comparison theory, yang menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika media sosial hadir sebagai ruang perbandingan yang nyaris tanpa batas, proses ini menjadi semakin intens. Apa yang dilihat bukan lagi lingkungan kecil, tetapi jutaan representasi kehidupan orang lain yang telah dikurasi dan ditampilkan secara selektif. Dalam perspektif Self-Presentation Theory, individu di ruang digital juga cenderung mengatur bagaimana dirinya terlihat oleh orang lain. Setiap unggahan, komentar, hingga cara berbicara di kolom publik menjadi bagian dari upaya membangun identitas sosial. Di titik inilah, perilaku “pick me” sering muncul bukan semata-mata untuk merendahkan orang lain, tetapi sebagai cara untuk menonjolkan diri di tengah banyaknya suara.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya terbatas pada satu gender atau kelompok tertentu, meskipun awalnya populer dalam konteks perbincangan tentang perempuan. Dalam praktiknya, siapa pun bisa terjebak dalam pola yang sama: berusaha terlihat berbeda demi mendapatkan perhatian atau penerimaan. Namun, tidak semua ekspresi “berbeda” berarti pick me. Ada garis halus antara keaslian dan pencarian validasi. Seseorang bisa saja benar-benar memiliki kepribadian unik tanpa bermaksud membandingkan diri. Di sinilah konteks menjadi penting, karena internet sering kali menyederhanakan makna menjadi label yang cepat ditempelkan.

Fenomena ini juga menunjukkan satu hal menarik tentang budaya digital: keinginan untuk terlihat menonjol di tengah keramaian. Di dunia yang penuh konten serupa, menjadi “berbeda” sering kali dianggap sebagai nilai tambah. Namun ketika perbedaan itu dibangun dengan cara merendahkan orang lain, maknanya mulai bergeser. Di sisi lain, kesadaran tentang fenomena pick me juga membuka ruang diskusi yang lebih luas tentang identitas dan keaslian di media sosial. Banyak pengguna kini mulai lebih reflektif, mencoba menampilkan diri tanpa harus membandingkan dengan orang lain. Pergeseran ini pelan-pelan mendorong budaya digital yang lebih sehat, meski tidak terjadi secara instan.

Fenomena pick me bukan sekadar tren internet. Ia adalah cermin kecil dari kebutuhan manusia untuk dilihat, diakui, dan diterima.

Tags:
Self Control Komunikasi Sehat Gen Milenial Wajib Tau!

Komentar Pengguna