Keboncinta.com-- Demi wujudkan MBG Preneur, saat ini pembangunan enam kolam lele di Komplek Pesantren Kebon Cinta, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon kini sedang dikebut.
Lima kolam berukuran 4 x 8 meter dan satu kolam besar berukuran 12 x 14 meter diproyeksikan menjadi pusat budidaya lele berbasis limbah makanan sisa dari SPPG Kebon Cinta. Inovasi ini diharapkan menjadi model pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.
Suhendi, Ketua Koperasi Perwira Kota Ciwaringin, menjelaskan bahwa minimal dibutuhkan tiga kolam untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah makanan sebagai pakan lele.
“Saat ini baru ada satu kolam besar untuk penampungan sementara. Kami rasa belum maksimal, maka kami sedang kebut pembuatan kolam-kolam kecil agar lebih optimal,” ujar Suhendi, Selasa 25 November 2025.
Di sisi lain, Kepala SPPG Kebon Cinta Ciwaringin, Muhammad Komando Yudha, menegaskan bahwa budidaya lele ini merupakan bagian dari pengembangan MBG Preneur, sebuah inisiatif yang mendorong multiplier effect dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, keberadaan mitra yang memahami penguatan ekonomi umat menjadi modal besar dalam mengembangkan ekosistem usaha yang berpihak pada masyarakat.
“Budidaya ini memanfaatkan limbah makanan dari dapur kami. Kenapa lele? Karena lele adalah ikan yang pemakan segala dan tidak rewel,” jelas Yudha. Ia menambahkan bahwa budidaya lele ini akan membuka lapangan pekerjaan bagi 4–5 orang dari masyarakat sekitar.
Tidak hanya sampai di situ, mitra dapur SPPG juga telah menyediakan sebidang tanah di Jalan Urip Sumoharjo untuk membuka lapak kuliner berbasis lele. Lapak tersebut diproyeksikan menjadi ruang usaha baru yang akan kembali menyerap tenaga kerja lokal.
Baca Juga: Mengapa Harimau Jawa Punah? Mengungkap Jejak Terakhir Sang Raja Rimba Nusantara
Yudha mengungkapkan bahwa pihaknya telah berembuk dengan Koperasi dan mitra usaha untuk menghadirkan kuliner lele dengan harga terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.
Kunci utamanya adalah efisiensi biaya produksi melalui budidaya internal dan pemanfaatan limbah sebagai pakan.
“Sepengetahuan kami, elemen terbesar dalam biaya budidaya lele adalah pakan. Dengan limbah makanan dari SPPG, kami sudah memiliki sumber pakan murah dan melimpah,” tegasnya.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Ajak Hormati Guru sebagai Penentu Kemajuan Pendidikan pada Upacara HGN 2025
Program budidaya lele berbasis limbah ini diharapkan bukan hanya mendukung keberlanjutan program MBG, tetapi juga menjadi model pemberdayaan ekonomi yang dapat direplikasi di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan yang lain.***