Cara Mengenali dan Menangani Gegar Otak pada Anak

keboncinta.com --- Dalam beberapa tahun terakhir, panduan para ahli tentang cara membantu anak dan remaja pulih dari gegar otak telah mengalami perubahan.
Gegar otak adalah salah satu cedera otak yang paling umum, memengaruhi sekitar dua juta anak dan remaja setiap tahunnya. Ini adalah jenis cedera khusus yang terjadi ketika benturan pada kepala atau bagian tubuh lainnya membuat otak bergerak maju mundur di dalam tengkorak.
Gegar otak bisa terjadi bahkan setelah cedera yang tampak ringan, seperti dorongan keras dari belakang atau tabrakan antara dua pemain dalam pertandingan sepak bola.
Apa saja tanda dan gejala gegar otak?
Karena cedera ini sering kali tidak tampak serius dari luar, penting bagi orang tua untuk mengetahui gejalanya. Ada banyak gejala yang mungkin muncul, antara lain:
-
Pingsan (bisa menjadi tanda cedera otak yang lebih serius)
-
Sakit kepala
-
Pusing
-
Perubahan penglihatan
-
Sensitif terhadap cahaya atau suara
-
Bingung atau merasa tidak orientasi
-
Masalah ingatan (misalnya sulit mengingat detail kejadian) atau sulit berkonsentrasi
-
Gangguan keseimbangan atau koordinasi
-
Perubahan suasana hati
Sebagian gejala bisa terlihat oleh orang lain, sebagian hanya dirasakan oleh anak. Itulah sebabnya penting mengenali tanda-tanda ini dan mengajukan pertanyaan yang tepat pada anak setelah cedera.
Kadang, gejala tidak langsung muncul, tetapi terlihat beberapa hari setelah cedera terjadi. Situs Heads Up milik CDC menyediakan banyak informasi bermanfaat tentang cara mengenali gegar otak.
Bagaimana cara mencegah kerusakan otak lebih lanjut?
Alasan utama mengapa penting mengenali gegar otak sejak dini adalah karena hal terburuk yang bisa terjadi setelah gegar otak adalah mengalami cedera kedua. Otak menjadi lebih rentan setelah gegar otak; jika cedera kembali terjadi, gejala bisa bertahan lebih lama — bahkan permanen, seperti pada kasus chronic traumatic encephalopathy (CTE), kondisi yang ditemukan pada pemain sepak bola Amerika dan atlet dengan cedera kepala berulang.
Jika ada kemungkinan anak mengalami gegar otak saat bertanding, mereka harus segera berhenti bermain dan mendapatkan pemeriksaan medis. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan tidak ada cedera otak yang lebih serius serta melakukan evaluasi gejala agar bisa dipantau dari waktu ke waktu. Ada beberapa kuesioner pemeriksaan yang biasa digunakan dokter dan dapat diulang dalam beberapa hari atau minggu setelah cedera untuk memantau perkembangan anak.
Bagaimana anak pulih setelah gegar otak?
Para ahli lama berdebat tentang cara terbaik melindungi otak setelah gegar otak. Dulu, rekomendasinya adalah istirahat total dan tidak melakukan apa pun. Artinya, tidak boleh berolahraga, tidak ke sekolah, bahkan tidak membaca atau menonton TV. Seiring gejala membaik, pembatasan ini dikurangi sedikit demi sedikit.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa terlalu banyak istirahat justru bisa merugikan. Faktanya, mengembalikan anak ke rutinitas sehari-hari dan aktivitas ringan secara bertahap justru aman dan membantu pemulihan lebih cepat. Meski begitu, istirahat tetap diperlukan di awal, lalu dilanjutkan dengan aktivitas ringan, tetapi panduan sekarang tidak seketat dulu.
Catatan penting: Peralihan dari istirahat ke aktivitas ringan, lalu bertahap ke aktivitas sedang hingga normal, harus dibimbing oleh tenaga medis sesuai kondisi anak. Proses ini bisa berlangsung beberapa hari, minggu, atau bahkan lebih lama, tergantung kebutuhan anak. Orang tua, pelatih, dan sekolah harus mendukung anak dalam masa pemulihan ini, baik untuk kembali ke sekolah maupun olahraga.
Beberapa anak bisa kembali beraktivitas normal dengan cepat, tetapi sebagian lainnya memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sekolah dan pelatih olahraga perlu bekerja sama untuk mendukung pemulihan anak. Sebagian anak mungkin mengalami sindrom pasca-gegar otak yang ditandai sakit kepala, kelelahan, dan gejala lain. Kasus ini jarang terjadi, tetapi bisa sangat mengganggu.
Bagaimana orang tua dapat membantu mencegah gegar otak?
Gegar otak tidak selalu bisa dicegah, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua:
-
Pastikan anak selalu menggunakan sabuk pengaman dan alat pengaman lain yang sesuai saat berada di mobil.
-
Terapkan aturan keselamatan yang jelas dan awasi anak saat bermain, terutama saat bersepeda atau memanjat pohon dan peralatan bermain.
-
Karena setidaknya setengah kasus gegar otak terjadi saat olahraga, pastikan tim dan pelatih mengikuti aturan keselamatan. Pelatih harus mengajarkan teknik yang benar untuk menghindari tabrakan berbahaya dan cedera lainnya.
-
Diskusikan dengan pelatih anak Anda tentang upaya mereka menjaga keselamatan pemain.
-
Ingat, helm memang dapat mencegah banyak cedera kepala, tetapi tidak mencegah gegar otak.
Tags:
pendidikanKomentar Pengguna
Recent Berita
.jpg)
Cara Praktis Mengeringkan TWS yang Basah, Jan...
29 Agt 2025
Cara Terbaru Translate File Dokumen dan Jurna...
29 Agt 2025.jpg)
4 Cara Mengisi Daya iPhone Lebih Cepat dan Ef...
29 Agt 2025
5 Tips Ampuh Menjaga Kesehatan Baterai Smartp...
29 Agt 2025
8 Penyebab Charger Ponsel Cepat Panas, Hindar...
29 Agt 2025
Cara Mengenali dan Menangani Gegar Otak pada...
29 Agt 2025
Dua Keterampilan Penting yang Bisa Membantu P...
29 Agt 2025
Panduan Orang Tua: Membiasakan Pola Tidur Seh...
29 Agt 2025
Apakah Anak Anda Seorang “Anggrek” atau “Bung...
29 Agt 2025
Pembentukan Karakter pada Anak
29 Agt 2025
Perkembangan Teknologi Android di Indonesia
29 Agt 2025
3 Metode untuk Mengecek Plagiarisme pada Arti...
29 Agt 2025
Bahas Penguatan Layanan Keagamaan Inklusif Me...
28 Agt 2025
Apa Itu Custom ROM Android dan Apa Kelebihann...
28 Agt 2025
Revolusi Menulis di Era AI: Apa yang Perlu Ka...
28 Agt 2025
Mendagri Soroti Tiga Strategi Utama untuk Per...
28 Agt 2025
Komisi VIII DPR RI Gelar Rapat Evaluasi Haji...
28 Agt 2025
Transparansi BPJS Kesehatan Berbuah Prestasi...
28 Agt 2025
Menaker Dorong Generasi Muda Kuasai Keterampi...
28 Agt 2025.jpg)