Bukan Sekadar Malas Baca: Inilah Akar Masalah Literasi yang Sering Tak Kita Sadari

Bukan Sekadar Malas Baca: Inilah Akar Masalah Literasi yang Sering Tak Kita Sadari

27 Februari 2026 | 11:14

Keboncinta.com-- Kalimat “orang Indonesia malas membaca” sudah terlalu sering terdengar. Ia diulang di ruang diskusi, seminar pendidikan, bahkan di media sosial. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, masalah literasi jauh lebih kompleks daripada sekadar kemalasan individu.

Sering kali yang kita sebut “malas literasi” sebenarnya adalah hasil dari banyak faktor yang saling bertumpuk. Ada kebiasaan yang tidak dibentuk sejak kecil, ada lingkungan yang tidak mendukung, ada sistem yang belum sepenuhnya ramah terhadap tumbuhnya budaya baca.

Bayangkan seorang anak yang tumbuh di rumah tanpa buku. Orang tuanya jarang terlihat membaca, percakapan sehari-hari tidak pernah menyinggung isi buku, dan satu-satunya teks yang ia lihat hanya buku pelajaran sekolah. Dalam kondisi seperti itu, membaca tidak pernah terasa sebagai kebutuhan, apalagi kesenangan. Ia menjadi tugas, bukan pilihan.

Di sekolah pun, literasi kadang direduksi menjadi kewajiban akademik. Membaca untuk menjawab soal. Menulis untuk mendapatkan nilai. Jarang sekali proses membaca diposisikan sebagai petualangan gagasan atau ruang dialog. Ketika membaca selalu diasosiasikan dengan ujian, wajar jika setelah lulus, banyak orang merasa “lega” karena tidak perlu lagi membuka buku.

Belum lagi soal akses. Di beberapa daerah, mendapatkan buku berkualitas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perpustakaan kurang terawat, koleksi terbatas, harga buku relatif mahal. Literasi akhirnya kalah bersaing dengan hiburan instan yang jauh lebih mudah diakses melalui gawai.

Era digital juga membawa paradoks. Kita sebenarnya membaca setiap hari status, komentar, caption, berita singkat. Namun pola konsumsi informasi menjadi serba cepat dan dangkal. Otak terbiasa dengan potongan-potongan pendek, bukan narasi panjang yang membutuhkan konsentrasi. Ketika dihadapkan pada artikel serius atau buku tebal, fokus cepat buyar. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena belum terlatih.

Ada pula faktor psikologis yang jarang dibicarakan: rasa tidak percaya diri. Sebagian orang merasa membaca buku “berat” bukan untuk mereka.

Tags:
Literasi Membaca Budaya Membaca Literasi Pendidikan Pecinta literasi

Komentar Pengguna