Parenting
Rahman Abdullah

Anak Jadi Pendiam Setelah Main HP? Kenali Tanda Cyberbullying dan Cara Mengatasinya

Anak Jadi Pendiam Setelah Main HP? Kenali Tanda Cyberbullying dan Cara Mengatasinya

29 Agustus 2026 | 13:25

Keboncinta.com-- Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan internet dan media sosial, ada satu ancaman yang sering kali tidak terlihat secara langsung. Di balik layar ponsel, komentar, pesan, hingga unggahan di media sosial, cyberbullying dapat terjadi dan meninggalkan dampak yang tidak sederhana.

Berbeda dengan perundungan di lingkungan sekolah yang dapat terlihat secara kasatmata, cyberbullying bisa berlangsung secara diam-diam dan menjangkau korban kapan saja. Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting untuk mengenali gejalanya sekaligus membantu anak menghadapi tekanan yang muncul dari dunia digital.

Cyberbullying merupakan bentuk intimidasi, penghinaan, ancaman, atau pelecehan yang dilakukan melalui perangkat dan platform digital. Jika dibiarkan, tindakan tersebut dapat mengganggu kondisi mental dan emosional anak maupun remaja.

Salah satu langkah awal yang perlu dilakukan orang tua adalah mengenali perubahan pada diri anak. Perubahan perilaku, menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, atau terlihat cemas setelah menggunakan ponsel dapat menjadi tanda yang patut diperhatikan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Dokumen, Arsip Pendidikan Indonesia Kini “Dihidupkan”, Ada Naskah UNESCO di Dalamnya

Namun, orang tua tidak cukup hanya mengawasi perubahan perilaku. Komunikasi yang terbuka dengan anak juga menjadi kunci utama dalam mencegah dan menangani cyberbullying.

Orang tua perlu membangun suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Jangan sampai anak merasa takut disalahkan atau justru dimarahi ketika menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya di internet.

Dengan komunikasi yang terbuka, anak akan lebih mudah menyampaikan ketika mendapatkan komentar yang menyakitkan, menerima pesan bernada ancaman, dipermalukan di media sosial, atau mengalami bentuk pelecehan digital lainnya.

Ajarkan Anak Etika Bermedia Sosial

Selain membangun komunikasi, orang tua juga perlu memberikan pemahaman mengenai etika berinternet sejak dini. Anak perlu mengetahui bahwa apa yang ditulis, dikomentari, maupun dibagikan di dunia maya dapat memberikan dampak kepada orang lain.

Anak perlu diajarkan untuk menggunakan media sosial secara bijak, menghormati orang lain, tidak ikut menyebarkan konten yang mempermalukan seseorang, serta tidak mudah membagikan informasi pribadi kepada orang yang belum dikenal.

Pendidikan mengenai keamanan digital juga dapat membantu anak lebih siap menghadapi berbagai risiko di internet.

Baca Juga: Bukan Sekadar Dokumen, Arsip Pendidikan Indonesia Kini “Dihidupkan”, Ada Naskah UNESCO di Dalamnya

Orang Tua Perlu Mengawasi Aktivitas Digital Anak

Pengawasan terhadap aktivitas online juga menjadi bagian penting dalam perlindungan anak. Orang tua dapat mengetahui secara umum platform apa yang digunakan anak, dengan siapa mereka berinteraksi, serta bagaimana respons anak terhadap konten yang mereka temui.

Pengawasan bukan berarti harus selalu menginterogasi atau mengambil alih seluruh aktivitas digital anak. Sebaliknya, orang tua perlu membangun kebiasaan berdiskusi agar anak memahami bahwa pengawasan dilakukan demi keamanan mereka.

Orang tua juga dapat menetapkan aturan penggunaan perangkat digital di rumah, termasuk batas waktu penggunaan layar, waktu istirahat dari gawai, serta aturan mengenai informasi pribadi yang boleh dan tidak boleh dibagikan secara online.

Jangan Hadapi Cyberbullying Sendirian

Ketika cyberbullying sudah terjadi, orang tua tidak harus menghadapinya seorang diri. Sekolah dan lingkungan sekitar juga memiliki peran dalam menciptakan ruang yang aman bagi anak.

Kerja sama antara orang tua, guru, sekolah, dan komunitas dapat memperkuat upaya pencegahan perundungan di dunia digital. Sekolah juga dapat memberikan edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua mengenai bentuk-bentuk cyberbullying serta langkah yang tepat ketika kasus tersebut muncul.

Seminar, kegiatan edukasi, maupun program literasi digital dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran bersama. Dengan pemahaman yang lebih baik, anak tidak hanya tahu cara melindungi dirinya, tetapi juga belajar untuk tidak menjadi bagian dari perilaku perundungan terhadap orang lain.

Baca Juga: Agustus dan November Jadi Bulan Penting di Sekolah, Ada BIAS 2026: Cek Jadwal Imunisasi Berdasarkan Kelas

Pada akhirnya, menghadapi cyberbullying bukan hanya soal membatasi penggunaan internet. Yang jauh lebih penting adalah membekali anak dengan komunikasi yang sehat, pemahaman tentang etika digital, serta keberanian untuk bercerita ketika menghadapi masalah.

Dunia digital seharusnya menjadi ruang untuk belajar, berkomunikasi, dan berkembang. Dengan pendampingan orang tua yang tepat, anak dapat menikmati manfaat teknologi sekaligus lebih terlindungi dari ancaman cyberbullying.***

Tags:
Media Sosial Parenting Bullying

Komentar Pengguna