Keboncinta.com-- Setiap Ramadan tiba, suasana masjid berubah drastis. Setelah Isya, saf-saf kembali terisi. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang sengaja bergegas dari rumah agar tidak tertinggal rakaat pertama.
Secara fikih, shalat tarawih hukumnya sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, ia bukan kewajiban yang berdosa jika ditinggalkan, tetapi sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki keutamaan besar. Hampir seluruh ulama dari berbagai mazhab sepakat dalam hal ini.
Dasarnya jelas. Rasulullah ﷺ pernah melaksanakan shalat malam di bulan Ramadan secara berjamaah bersama para sahabat. Namun beliau tidak melakukannya terus-menerus setiap malam dalam bentuk berjamaah. Dalam riwayat hadis, beliau menjelaskan bahwa kekhawatiran utamanya adalah jika shalat tersebut diwajibkan kepada umatnya. Ini menunjukkan bahwa tarawih bukan ibadah yang bersifat fardhu.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., umat Islam kembali dikumpulkan untuk melaksanakan tarawih berjamaah secara teratur di masjid. Sejak saat itu, tradisi tarawih berjamaah menjadi bagian dari kehidupan Ramadan umat Islam hingga sekarang. Meski demikian, status hukumnya tetap sunnah, bukan wajib.
Menariknya, meski tidak wajib, pahala tarawih sangat besar. Dalam hadis disebutkan bahwa siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Qiyam Ramadan inilah yang dipahami para ulama sebagai shalat tarawih dan ibadah malam lainnya di bulan Ramadan.
Karena hukumnya sunnah, tarawih juga fleksibel dalam pelaksanaannya. Ia bisa dikerjakan berjamaah di masjid atau sendirian di rumah. Jumlah rakaatnya pun memiliki perbedaan pendapat yang sah di kalangan ulama, baik 11 rakaat maupun 20 atau lebih, selama dilakukan dengan tata cara yang benar.
Lalu bagaimana jika seseorang tidak melaksanakan tarawih? Ia tidak berdosa. Namun ia tentu melewatkan kesempatan meraih pahala yang besar. Ramadan adalah bulan yang istimewa, dan tarawih menjadi salah satu sarana untuk memaksimalkan momentum spiritual di dalamnya.
Di sisi lain, penting juga menjaga keseimbangan. Jangan sampai karena ingin melaksanakan tarawih, seseorang justru mengabaikan kewajiban utama seperti shalat lima waktu, menjaga lisan, atau memperbaiki akhlak. Tarawih adalah pelengkap yang memperindah Ramadan, bukan pengganti kewajiban yang sudah jelas hukumnya.
Pada akhirnya, memahami hukum tarawih membantu kita beribadah dengan lebih tenang.