Tarawih 11 atau 21 Rakaat? Memahami Perbedaan yang Sering Jadi Perdebatan Setiap Ramadan

Tarawih 11 atau 21 Rakaat? Memahami Perbedaan yang Sering Jadi Perdebatan Setiap Ramadan

27 Februari 2026 | 11:23

Keboncinta.com-- Setiap Ramadan tiba, masjid-masjid kembali hidup. Suara imam melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an selepas Isya menjadi pemandangan yang dirindukan. Namun di tengah suasana khusyuk itu, satu pertanyaan klasik hampir selalu muncul: sebenarnya tarawih yang benar itu 11 rakaat atau 21 rakaat?

Sebagian orang merasa mantap dengan 11 rakaat, sebagian lain terbiasa dengan 21 rakaat. Ada yang beranggapan jumlah tertentu lebih sesuai sunnah, ada pula yang menilai perbedaan ini tidak perlu dipersoalkan. Lalu, apa sebenarnya yang membedakan keduanya?

Jika menelusuri riwayat hadis, ada keterangan dari Aisyah r.a. yang menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah salat malam di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Riwayat ini menjadi dasar kuat bagi mereka yang melaksanakan tarawih 11 rakaat, biasanya terdiri dari 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.

Namun sejarah juga mencatat bahwa pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., umat Islam melaksanakan salat tarawih berjamaah sebanyak 20 rakaat, ditambah 1 atau 3 rakaat witir. Praktik ini kemudian berlangsung luas di berbagai wilayah dan menjadi kebiasaan mayoritas umat Islam dari generasi ke generasi. Mazhab-mazhab fikih besar seperti Hanafi, Maliki, dan Syafi’i pun umumnya mengamalkan 20 rakaat tarawih.

Di sinilah letak pentingnya memahami konteks. Rasulullah ﷺ memang menunaikan salat malam dengan jumlah tertentu, tetapi beliau juga tidak menetapkan batas maksimal rakaat. Salat malam, termasuk tarawih, pada dasarnya bersifat fleksibel. Ada hadis yang menyebutkan bahwa salat malam itu dilakukan dua rakaat-dua rakaat, tanpa menyebut angka pembatas.

Perbedaan jumlah rakaat lebih banyak berkaitan dengan ijtihad para sahabat dan ulama setelahnya. Umar bin Khattab r.a. ketika mengumpulkan umat untuk salat tarawih berjamaah, melihat perlunya keseragaman dan kekhusyukan. Penetapan 20 rakaat saat itu dipahami sebagai bentuk kemaslahatan, bukan penyimpangan dari sunnah.

Lalu, apakah 11 rakaat lebih utama? Ataukah 21 rakaat lebih afdhal? 

 Kualitas salat jauh lebih penting daripada kuantitasnya. Tarawih yang dikerjakan dengan bacaan yang tartil, khusyuk, dan penuh penghayatan tentu lebih bermakna dibanding sekadar mengejar jumlah rakaat tanpa kekhusyukan.

Menariknya, perbedaan ini sebenarnya menunjukkan keluasan ajaran Islam. Dalam banyak hal ibadah sunnah, terdapat ruang fleksibilitas. Umat diberi pilihan sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing. Di beberapa masjid, 11 rakaat dipilih agar tidak terlalu lama dan lebih ringan bagi jamaah.

Tags:
Puasa Ramadhan Puasa Menuju Takwa Tarawih bulan Ramadan

Komentar Pengguna