Keboncinta.com-- Baru-baru ini Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama merilis hasil Survei Indeks Keberagamaan Siswa (IKS) yang mencakup peserta didik madrasah dan sekolah dari berbagai latar belakang agama.
Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat keberagamaan siswa di Indonesia berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Survei Indeks Keberagamaan Siswa Madrasah Aliyah (MA) melibatkan 1.218 responden yang tersebar di 34 provinsi, baik dari MA negeri maupun swasta.
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster random sampling melalui wawancara tatap muka, dengan tingkat kesalahan pengukuran atau margin of error sebesar 2,8 persen.
Sementara itu, survei Indeks Keberagamaan Siswa beragama Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha dilaksanakan melalui pengisian kuesioner.
Baca Juga: Menag dan Menkeu Bahas Optimalisasi Dana Umat, Dorong Ekonomi Syariah Lebih Berdampak
Sebanyak 1.276 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat turut menjadi responden.
Mereka berasal dari pendidikan keagamaan Kristen (387 siswa), Katolik (375), Hindu (147), dan Buddha (367), dengan margin of error sekitar 5 persen untuk masing-masing indeks agama.
Penyusunan Indeks Keberagamaan Siswa mengacu pada lima dimensi keberagamaan yang dikembangkan oleh Glock dan Stark, yakni dimensi ideologis, ritualistik, pengalaman spiritual, intelektual, serta konsekuensi atau perilaku.
Lima dimensi tersebut diterapkan secara konsisten baik pada siswa madrasah maupun siswa dari latar belakang agama lainnya.
Secara nasional, Indeks Keberagamaan Siswa Madrasah Aliyah mencatat skor 90,02 dan masuk kategori sangat tinggi.
Baca Juga: Lulus PPG tapi Serdik Belum Muncul? Ini Cara Cek Online & Alur Tunjangan 2026
Dimensi ideologis menjadi aspek paling dominan dengan skor 94,15, disusul dimensi pengalaman spiritual sebesar 91,91, perilaku 90,12, intelektual 87,09, dan ritualistik sebagai dimensi terendah dengan nilai 86,57.
Untuk siswa Kristen, indeks nasional tercatat sebesar 87,89. Dimensi ideologis memperoleh nilai 91,03, pengalaman spiritual 89,87, intelektual 88,70, perilaku 88,67, sementara dimensi ritualistik berada pada skor 78,95.
Siswa Katolik mencatat skor nasional 90,23 dengan dimensi ideologis 92,70, pengalaman spiritual 92,03, perilaku 91,81, intelektual 89,06, dan ritualistik 83,99.
Sementara itu, Indeks Keberagamaan Siswa Hindu berada pada angka 84,04. Dimensi ideologis mencatat 87,57, pengalaman spiritual 87,59, perilaku 88,07, intelektual 79,56, dan ritualistik 75,22.
Baca Juga: Menag Dorong Penambahan Kuota Beasiswa LPDP untuk Pendidikan Keagamaan
Adapun siswa Buddha memperoleh skor nasional 79,83, dengan dimensi ideologis 84,25, perilaku 84,44, pengalaman spiritual 78,80, intelektual 78,11, dan ritualistik 70,14.
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan BMBPSDM, Rohmat Mulyana Sapdi, menjelaskan bahwa Indeks Keberagamaan Siswa merupakan wujud keseriusan Kementerian Agama dalam mengukur sejauh mana nilai-nilai keagamaan dipahami dan dijalankan oleh peserta didik.
“Indeks ini menjadi tolok ukur untuk melihat efektivitas berbagai upaya pendidikan yang telah dilakukan, khususnya di bidang pendidikan agama,” ujarnya di Jakarta, Kamis (8/1/2025).
Ia menambahkan, hasil indeks tersebut tidak hanya berfungsi sebagai angka statistik, tetapi juga sebagai bahan evaluasi kebijakan pendidikan agama dan keagamaan agar ke depan semakin relevan dan berdampak positif bagi pembentukan karakter pelajar Indonesia.***