Keboncinta.com-- Iran kini berada dalam fase transisi penting setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, sosok Pemimpin Tertinggi yang memimpin Republik Islam Iran sejak 1989.
Mengacu pada konstitusi negara, Iran membentuk Dewan Kepemimpinan Sementara yang bertugas menjalankan fungsi tertinggi negara sampai pengganti definitif dipilih oleh Majelis Ahli.
Salah satu anggota dewan transisi tersebut adalah Ayatollah Alireza Arafi, yang kini menjadi sorotan politik internasional sebagai pemimpin interim (sementara) yang ikut memegang kendali negara bersama Presiden dan Kepala Kehakiman.
Baca Juga: TPG Madrasah Awal 2026 Belum Cair, Ini Penjelasan Kemenag soal Proses Anggaran
Siapa Ayatollah Alireza Arafi?
Ayatollah Alireza Arafi lahir pada tahun 1959 di Meybod, Provinsi Yazd, Iran, dari keluarga religius yang kuat di lingkungan ulama. Ia menempuh pendidikan tinggi di Qom, pusat pendidikan Syiah di Iran, dan meraih gelar mujtahid—seorang ulama berwenang mengeluarkan fatwa independen dalam hukum Islam.
Karier Arafi mencakup berbagai posisi penting di struktur keagamaan dan politik negara:
Kepala seminar-seminar keagamaan nasional sejak 2016.
Imam Salat Jumat di Qom sejak 2015.
Presiden Al-Mustafa International University (2008–2018).
Anggota Guardian Council sejak 2019.
Anggota Majelis Ahli sejak 2022.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Kemenag Imbau Umat Islam Laksanakan Salat Khusuf di Ramadan
Peran Alireza Arafi dalam Dewan Kepemimpinan Sementara
Setelah wafatnya Khamenei dalam serangan udara gabungan, Iran menjalankan mekanisme transisi berdasarkan Pasal 111 konstitusi. Dewan Kepemimpinan Sementara yang dibentuk pada 1 Maret 2026 resmi mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi yang kosong.
Dewan ini secara kolektif menjalankan fungsi tertinggi negara sampai Majelis Ahli menetapkan pemimpin baru, dan terdiri dari tiga figur kunci:
Presiden Masoud Pezeshkian
Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Ayatollah Alireza Arafi sebagai wakil unsur ulama dalam Dewan.
Baca Juga: Siap-siap! Berikut ini Jadwal Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H dan Tahapannya
Sebagai satu-satunya tokoh ulama dalam struktur transisi, Arafi memiliki posisi strategis dan menjadi figur sentral untuk menjamin kontinuitas nilai-nilai keagamaan serta legitimasi politik hingga pemimpin tetap terpilih.
Penunjukan Arafi dilakukan lewat Expediency Discernment Council yang memilihnya sebagai anggota dewan interim, bersama pejabat lainnya untuk memimpin negara.
Peran sementara ini mencakup tugas-tugas penting seperti stabilisasi pemerintahan, koordinasi dengan lembaga negara lainnya, dan memastikan proses suksesi berjalan sesuai konstitusi.
Sementara itu, Assembly of Experts terus mempersiapkan pemilihan pemimpin tertinggi yang definitif.
Baca Juga: Pendidikan Tanggap Bencana Masuk Kurikulum Nasional, Sekolah Disiapkan Hadapi Ancaman Megathrust
Pengaruh Arafi dalam Politik Iran
Arafi dikenal sebagai bagian dari elite ulama yang berdedikasi tinggi dalam pendidikan dan struktur pemerintahan Islam Syiah di Iran.
Posisi ganda sebagai anggota Guardian Council dan Majelis Ahli memberi paham mendalam tentang hukum dan politik Islam yang menjadi landasan pemimpin tertinggi Iran.
Penunjukan seorang ulama senior sebagai pemimpin sementara mencerminkan tradisi Republik Islam yang kuat dalam memadukan kekuasaan religius dan kenegaraan, khususnya di masa krisis kepemimpinan seperti saat ini.***