Sejarah Berdirinya Kesultanan Demak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pecinta Sejarah harus Tahu!

Sejarah Berdirinya Kesultanan Demak sebagai Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Pecinta Sejarah harus Tahu!

22 November 2025 | 15:26

Keboncinta.com-- Kesultanan Demak dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dan salah satu kekuatan politik paling berpengaruh pada awal abad ke-16 Masehi.

Berdirinya kerajaan ini menandai perubahan besar dalam sejarah Nusantara, ketika kekuasaan bercorak Hindu–Buddha mulai digantikan oleh pemerintahan Islam yang berkembang pesat di wilayah pesisir utara Jawa.

Asal-usul Demak tidak dapat dilepaskan dari dinamika perdagangan internasional. Pada abad ke-15, jalur perdagangan Nusantara mengalami pergeseran besar setelah runtuhnya Majapahit dan berkembangnya jaringan dagang muslim dari India, Arab, Persia, hingga Tiongkok.

Pesisir Jawa, termasuk Bintara dan Glagah Wangi (kawasan Demak), menjadi pelabuhan strategis tempat bertemunya para saudagar dan dai muslim.

Baca Juga: Kisah Benito Mussolini: Ambisi Politik, Propaganda, dan Akhir Tragis Sang Pemimpin Fasis Italia

Di tengah perubahan itu muncul sosok Raden Patah, tokoh penting yang disebut-sebut sebagai pendiri Kerajaan Demak. Banyak sumber menyebut bahwa ia masih memiliki hubungan keluarga dengan Majapahit, namun tumbuh di lingkungan pesantren dan komunitas muslim.

Dukungan Wali Songo, terutama Sunan Ampel, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati, memperkokoh kedudukannya sebagai pemimpin politik dan spiritual di wilayah tersebut.

Sekitar akhir abad ke-15, ketika Majapahit kian melemah akibat konflik internal, Demak bangkit sebagai kekuatan baru. Raden Patah memproklamasikan berdirinya Kesultanan Demak—sering ditandai sekitar tahun 1478 hingga awal 1500-an menurut berbagai catatan.

Demak berkembang cepat karena letaknya strategis sebagai pelabuhan internasional sekaligus pusat dakwah Islam.

Sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran Islam. Masjid Agung Demak menjadi simbol kejayaan sekaligus pusat kegiatan keagamaan.

Baca Juga: Tafsir Kemenag Disempurnakan, Hadirkan Nuansa Adaptif, Moderat, dan Relevan untuk Umat

Masjid ini diyakini didirikan oleh para Wali Songo dan menjadi bukti kuatnya kolaborasi antara ulama dan penguasa dalam membangun peradaban baru di Jawa.

Setelah Raden Patah wafat, tahta berpindah kepada Pati Unus, yang dikenal sebagai “Pangeran Sabrang Lor” karena usahanya menyerang Portugis di Malaka. Meskipun ekspedisi itu belum berhasil, semangat perlawanan terhadap dominasi asing menunjukkan besarnya ambisi geopolitik Demak.

Puncak kejayaan Demak terjadi pada masa Sultan Trenggana, yang memperluas kekuasaan Demak hingga Jawa Timur dan Jawa Barat. Pada masa inilah Islam berkembang lebih luas melalui jalur politik, dakwah, dan interaksi budaya.

Sultan Trenggana juga berperan menumbangkan sisa-sisa kerajaan Hindu-Buddha di pesisir, sehingga Demak semakin memantapkan diri sebagai pusat kekuatan Islam Jawa.

Kerajaan Demak runtuh setelah terjadi konflik internal antara adipati-adipati penerus Trenggana. Perebutan kekuasaan antara Arya Penangsang dan kubu Hadiwijaya (Jaka Tingkir) melemahkan kerajaan hingga akhirnya pusat kekuasaan berpindah ke Pajang.

Baca Juga: Merayakan Hari Guru Nasional dan Menghargai Pengabdian Tanpa Batas Seorang Pendidik

Meski tidak bertahan lama, pengaruh Demak sangat besar dalam sejarah politik dan spiritual Jawa.

Berdirinya Kerajaan Demak menjadi titik awal perubahan besar di Nusantara. Dari pelabuhan kecil, Demak tumbuh menjadi kerajaan penting yang memadukan kekuatan dagang, dakwah, dan politik.

Peninggalannya tetap hidup hingga kini melalui tradisi keagamaan, budaya pesisir, dan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.***

Tags:
Sejarah Khazanah Islam Sejarah Islam Sejarah Indonesia

Komentar Pengguna