Keboncinta.com-- Ramadan selalu identik dengan suasana yang berbeda. Ritme hidup berubah, waktu makan bergeser, dan suasana ibadah terasa lebih kuat. Namun di tengah kekhusyukan itu, ada sebagian perempuan yang mengalami fase alami setiap bulan: haid. Lalu muncul pertanyaan yang sering terasa canggung untuk dibahas secara terbuka ketika sedang berhalangan di bulan Ramadan, bolehkah makan dan minum seperti biasa?
Dalam ajaran Islam, perempuan yang sedang haid memang tidak diwajibkan berpuasa. Bahkan, mereka justru dilarang menjalankan puasa dalam kondisi tersebut. Dasarnya jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, yang menjelaskan bahwa para perempuan di masa Nabi Muhammad ﷺ tidak diperintahkan mengganti salat, tetapi diwajibkan mengganti puasa setelah Ramadan usai. Ini menunjukkan bahwa tidak berpuasa saat haid bukanlah pelanggaran, melainkan bagian dari ketentuan syariat.
Artinya, secara hukum, perempuan yang sedang haid boleh makan dan minum. Ia tidak sedang menunaikan ibadah puasa, sehingga tidak terikat dengan larangan makan dan minum di siang hari. Namun, dalam praktiknya, banyak yang tetap merasa sungkan, terutama ketika berada di lingkungan keluarga atau tempat kerja yang mayoritas sedang berpuasa.
Di sinilah pentingnya memahami bahwa Islam adalah agama yang realistis dan penuh pertimbangan. Haid adalah kondisi biologis alami yang tidak bisa ditunda atau dikendalikan. Bahkan dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa haid adalah sesuatu yang bersifat “adha” (gangguan atau ketidaknyamanan), sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 222. Artinya, tubuh memang sedang berada dalam kondisi yang tidak sama seperti hari biasa.
Meski diperbolehkan makan dan minum, sebagian ulama menganjurkan agar tetap menjaga adab sosial. Misalnya, tidak makan secara terbuka di depan orang yang sedang berpuasa jika dikhawatirkan menimbulkan salah paham atau mengurangi rasa hormat terhadap suasana Ramadan. Bukan karena wajib menahan diri seperti orang berpuasa, tetapi lebih kepada menjaga perasaan dan etika bersama.
Di sisi lain, ada juga perempuan yang justru memilih tetap menjaga pola makan seperti orang berpuasa, meski tidak berniat puasa. Ini bukan kewajiban, melainkan pilihan pribadi. Selama tidak diniatkan sebagai ibadah puasa, hal itu sah-sah saja. Namun tetap perlu diingat, tubuh yang sedang haid biasanya membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, terutama zat besi dan cairan. Menahan makan tanpa alasan yang jelas justru bisa membuat tubuh semakin lemas.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ia juga tentang memahami hikmah di balik setiap ketentuan. Bagi perempuan yang sedang berhalangan, Ramadan tetap menjadi bulan ibadah.