keboncinta.com-- Menemukan keajaiban sastra dalam gaya kepenyairan ala Joko Pinurbo adalah sebuah ziarah spiritual ke dalam benda-benda paling remeh yang sering kali kita abaikan dalam hiruk-pikuk keseharian yang fana. Bagi seorang penyair dengan kepekaan jenaka nan liris, sebuah kaleng biskuit di atas meja ruang tamu bukan sekadar wadah logam yang menyimpan penganan, melainkan sebuah ruang sakral tempat kenangan, kerinduan, dan bahkan kesunyian melakukan perjamuan terakhirnya. Menulis dengan napas Jokpin menuntut kita untuk menanggalkan jubah bahasa yang terlalu muluk atau metafora yang melangit, lalu menggantinya dengan diksi rumahan yang akrab seperti sarung, celana, kamar mandi, atau remah-remah biskuit yang tercecer di lantai. Khazanah pengetahuan sastra semacam ini mengajarkan bahwa puisi tidak selalu lahir dari puncak gunung yang sunyi atau rembulan yang melankolis, melainkan bisa tumbuh subur dari balik label harga yang belum sempat dilepas atau dari bunyi air yang menetes di wastafel dapur tengah malam. Keajaiban itu terletak pada kemampuan kita memberikan "nyawa" pada benda mati, sehingga mereka tidak lagi diam, melainkan mampu bercerita tentang kerapuhan manusia dengan nada yang tenang namun menusuk tepat di ulu hati nurani.
Ketajaman gaya Jokpin tercermin dalam kemampuannya memotret tragedi kehidupan dengan bungkusan humor yang getir, membuat pembaca tertawa sekaligus merasa perih dalam satu tarikan napas literasi yang pendek. Sebagai contoh, alih-alih menulis tentang kesepian yang berdarah-darah, seorang penulis yang mengadopsi gaya ini mungkin akan menuliskan kalimat puitis seperti, "Di dalam kaleng biskuit ini, Khong Guan telah lama pergi, yang tersisa hanyalah rengginang yang sedang khusyuk mendoakan gigimu yang mulai tanggal satu demi satu." Contoh lainnya adalah saat menggambarkan kerinduan yang sangat domestik, seperti, "Tuhan, jika Engkau sedang senggang, tolong bantu aku mencari kunci surga yang sepertinya terselip di balik lipatan sarungku yang belum dicuci sejak Lebaran tahun lalu." Penggunaan benda-benda profan ini sebagai jembatan menuju pemikiran yang transenden menciptakan sebuah dialektika yang unik, di mana yang suci menjadi sangat manusiawi dan yang remeh menjadi sangat abadi. Kita diajak untuk melihat bahwa di balik permukaan benda yang kasar dan dingin, ada denyut jantung kemanusiaan yang sedang meminta untuk dituliskan dengan penuh kasih sayang dan sedikit kenakalan yang sopan.
Menyelami sastra melalui benda-benda di sekitar juga melatih ketajaman pengamatan kita terhadap detail-detail kecil yang sering kali luput dari pandangan mata yang terlalu sibuk mengejar ambisi duniawi. Sebuah celana yang sudah berlubang bisa menjadi metafora tentang perjalanan hidup yang penuh luka namun tetap tegak menutupi rasa malu, sementara sebuah asbak yang penuh puntung rokok bisa menjadi catatan sejarah tentang kegelisahan yang tidak sempat diucapkan kepada siapa pun. Gaya penulisan ini tidak memerlukan banyak hiasan kata yang rumit; ia hanya membutuhkan kejujuran untuk mengakui bahwa hal-hal sederhana di rumah kita sebenarnya adalah bait-bait puisi yang belum sempat kita rapikan. Dengan menghargai keberadaan kaleng biskuit, asbak, atau sandal jepit, kita sebenarnya sedang belajar untuk lebih mencintai kehidupan yang apa adanya, tanpa harus menuntut keindahan yang sempurna dan megah. Pada akhirnya, khazanah sastra Jokpin mengingatkan kita bahwa puisi terbaik adalah puisi yang bisa diajak duduk bersama di teras sambil menyesap kopi hitam, membicarakan hal-hal sepele yang justru membuat kita merasa benar-benar hidup dan merdeka sebagai manusia biasa yang sederhana.