Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ayatollah Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

Profil Mojtaba Khamenei, Putra Ayatollah Ali Khamenei yang Kini Memimpin Iran

09 Maret 2026 | 15:47

Keboncinta.com-- Iran kini memiliki pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah.

Setelah melalui proses sesuai konstitusi negara tersebut, Majelis Ahli Iran akhirnya menetapkan putra almarhum, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus posisi tertinggi di Republik Islam Iran.

Penunjukan ulama berusia 56 tahun itu terjadi setelah konflik regional meningkat akibat serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Mojtaba selama ini dikenal sebagai tokoh berpengaruh di lingkaran kekuasaan Iran, meskipun jarang tampil secara terbuka dalam struktur politik formal negara tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Terapkan WFA ASN Menjelang Nyepi dan Idul Fitri 1447 H, Ini Jadwal Lengkapnya

Sebagai lembaga beranggotakan 88 ulama, Majelis Ahli Iran memiliki mandat konstitusional untuk memilih dan menetapkan pemimpin tertinggi negara.

Proses penunjukan Mojtaba disebut mengikuti mekanisme resmi yang diatur konstitusi, bukan melalui sistem pewarisan kekuasaan secara langsung.

Dengan keputusan tersebut, Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak terjadinya Revolusi Iran 1979. Ia mengambil alih kepemimpinan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan serta situasi domestik yang penuh ketidakpastian.

Latar Belakang Keluarga

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, sebuah kota penting di timur laut Iran yang dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei yang memimpin Iran sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989 hingga wafat akibat serangan udara baru-baru ini. Mojtaba juga merupakan cucu dari ulama terkemuka Sayyed Javad Khamenei.

Baca Juga: Kenapa THR 2026 Kena Pajak? Ini Alasan THR Karyawan Swasta Dipotong Tapi ASN Tidak

Sejak kecil, Mojtaba tumbuh di tengah lingkungan politik dan keagamaan yang kuat. Ia menyaksikan perjalanan karier ayahnya sejak menjadi tokoh penting dalam Revolusi Iran hingga akhirnya memimpin negara tersebut sebagai pemimpin tertinggi.

Dalam kehidupan pribadinya, Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politisi konservatif yang pernah menjabat sebagai ketua parlemen Iran dan kini memimpin salah satu lembaga kebudayaan besar di negara tersebut.

Tragisnya, Zahra termasuk di antara korban yang meninggal dunia dalam serangan udara yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di Teheran.

Dalam peristiwa itu, Mojtaba selamat namun kehilangan sejumlah anggota keluarga dekat, termasuk ibunya, saudara perempuan, ipar, dan beberapa keponakan.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Terungkap! Tenaga Honorer Bisa Tetap Kerja Tanpa PHK Massal

Pendidikan dan Perjalanan Keulamaan

Seperti banyak ulama di Iran, Mojtaba menempuh pendidikan agama di Qom, kota yang dikenal sebagai pusat pendidikan teologi Syiah dan tempat berdirinya banyak lembaga pendidikan calon ulama.

Di sana ia mempelajari ilmu fikih dan teologi di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif berpengaruh, seperti Mahmoud Hashemi ShahroudiLotfollah Safi Golpaygani, serta Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, yang dikenal sebagai ideolog penting dalam kalangan politik konservatif Iran.

Sebagian besar perjalanan karier Mojtaba dihabiskan dalam dunia pendidikan keagamaan. Ia diketahui mengajar di lembaga pendidikan ulama di Qom, termasuk mengampu kelas fikih tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang merupakan tingkat tertinggi dalam sistem pendidikan keagamaan Syiah.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Terungkap! Tenaga Honorer Bisa Tetap Kerja Tanpa PHK Massal

Meski memiliki pengaruh kuat di lingkungan ulama, Mojtaba selama ini tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan maupun posisi politik yang diperoleh melalui pemilihan umum.

Hal ini membuat sosoknya sering dianggap sebagai figur berpengaruh di balik layar dalam politik Iran.

Kini, dengan penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei akan menghadapi tantangan besar dalam memimpin negara tersebut di tengah dinamika politik domestik dan ketegangan geopolitik yang terus berkembang di kawasan Timur Tengah.***

Tags:
Politik Luar Negri Internasional

Komentar Pengguna