Keboncinta.com-- Kemampuan menulis artikel jurnal ilmiah menjadi salah satu kompetensi penting bagi dosen, peneliti, maupun mahasiswa, khususnya yang sedang menyelesaikan tugas akhir.
Selain menjadi media untuk mempublikasikan hasil penelitian, artikel ilmiah juga berfungsi menyebarluaskan pengetahuan baru kepada masyarakat dan komunitas akademik.
Meski kerap dianggap rumit, proses penyusunan artikel jurnal sebenarnya dapat dilakukan dengan lebih mudah apabila penulis memahami struktur penulisan serta tahapan yang harus dilalui.
Baca Juga: Jangan Sampai Ditolak! Ini 7 Kesalahan Umum Saat Membuat Judul Artikel Ilmiah
Artikel jurnal ilmiah merupakan karya tulis akademik yang menyajikan hasil penelitian atau kajian ilmiah berdasarkan metode penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan artikel populer, naskah ilmiah harus memenuhi standar akademik dan melewati proses penelaahan atau peer review sebelum diterbitkan.
Agar peluang artikel diterima semakin besar, penulis perlu memahami beberapa tahapan penting dalam proses penyusunannya.
Salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan adalah memilih jurnal tujuan setelah artikel selesai ditulis. Padahal, setiap jurnal memiliki ruang lingkup, format penulisan, gaya sitasi, hingga ketentuan teknis yang berbeda.
Dengan menentukan jurnal sejak awal, penulis dapat menyesuaikan isi dan format naskah sesuai pedoman yang berlaku sehingga peluang lolos seleksi editorial menjadi lebih tinggi.
Baca Juga: Pentingnya Publikasi Jurnal Ilmiah bagi Dosen, Kunci Reputasi Akademik dan Kenaikan Jabatan
Sebelum mulai menulis, buatlah kerangka artikel berdasarkan panduan jurnal yang dipilih.
Secara umum, artikel ilmiah menggunakan struktur IMRaD, yaitu:
Selain itu, artikel juga dilengkapi dengan judul, abstrak, kata kunci, kesimpulan, dan daftar pustaka. Kerangka yang jelas akan membantu penulis menyusun pembahasan secara runtut.
Judul menjadi bagian pertama yang diperhatikan editor maupun calon pembaca. Oleh karena itu, judul harus mampu menggambarkan isi penelitian secara jelas tanpa menggunakan kalimat yang terlalu panjang atau membingungkan.
Sebaiknya judul memuat topik utama penelitian, serta objek atau lokasi penelitian apabila diperlukan.
Baca Juga: Arab Saudi Ubah Pola Persiapan Haji, Pakistan Jadi Negara Pertama yang Bergerak Lebih Cepat
Abstrak berfungsi sebagai ringkasan penelitian. Pada bagian ini, penulis perlu menjelaskan latar belakang, tujuan penelitian, metode yang digunakan, hasil utama, hingga kesimpulan secara singkat dan padat.
Jangan lupa menambahkan tiga hingga lima kata kunci yang relevan agar artikel lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari jurnal ilmiah.
Bagian metode menjelaskan secara rinci bagaimana penelitian dilakukan, mulai dari pendekatan penelitian, teknik pengumpulan data, instrumen yang digunakan, hingga metode analisis.
Sementara itu, bagian hasil hanya berisi temuan penelitian tanpa memberikan interpretasi yang berlebihan. Penyajian data dapat diperkuat dengan tabel, grafik, atau gambar agar lebih mudah dipahami.
Baca Juga: Persiapan Haji Kini Dimulai Setahun Sebelumnya, Ini Perubahan Besar yang Terjadi Jelang Haji 2027
Pembahasan merupakan salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian dari editor jurnal.
Pada tahap ini, penulis harus menginterpretasikan hasil penelitian, mengaitkannya dengan teori maupun penelitian terdahulu, serta menjelaskan kontribusi ilmiah yang diberikan. Semakin kuat analisis yang disampaikan, semakin tinggi pula kualitas artikel tersebut.
Jangan terburu-buru mengirimkan naskah setelah selesai ditulis.
Luangkan waktu untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap ejaan, tata bahasa, format sitasi, hingga kesesuaian dengan pedoman jurnal. Jika memungkinkan, mintalah rekan sejawat melakukan proofreading agar kesalahan yang terlewat dapat diperbaiki sebelum proses pengiriman.
Tahap terakhir adalah mengunggah artikel melalui sistem jurnal yang dituju.
Biasanya, penulis juga diminta melampirkan dokumen pendukung seperti cover letter, pernyataan etika publikasi, dan data identitas penulis. Setelah proses pengiriman selesai, artikel akan memasuki tahap editorial dan peer review.
Baca Juga: Biaya Haji 2027 Belum Diumumkan, Mengapa Pakistan Sudah Membuka Pendaftaran? Ini Penjelasannya
Apabila reviewer memberikan masukan atau revisi, penulis perlu memperbaiki naskah sesuai saran tersebut sebelum keputusan akhir mengenai publikasi diterbitkan.
Menulis artikel jurnal ilmiah memang membutuhkan ketelitian dan kesabaran, tetapi bukan sesuatu yang sulit jika dilakukan secara sistematis.
Dengan menentukan jurnal tujuan sejak awal, mengikuti struktur penulisan yang benar, menyusun pembahasan yang kuat, serta melakukan penyuntingan secara menyeluruh, peluang artikel diterima untuk dipublikasikan akan semakin besar.
Bagi dosen, peneliti, maupun mahasiswa, kemampuan menyusun artikel jurnal ilmiah bukan hanya menjadi tuntutan akademik, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk membangun reputasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.***