Lifestyle
Azzahra Esa Nabila

Pamer atau Pencarian Diri? Mengurai Budaya Flexing Gen Z dari Perspektif Psikologi

Pamer atau Pencarian Diri? Mengurai Budaya Flexing Gen Z dari Perspektif Psikologi

29 April 2026 | 09:25

Keboncinta.com-- Satu unggahan menampilkan kopi mahal di kafe estetik. Unggahan lain memperlihatkan outfit terbaru, gadget terkini, atau momen liburan yang tampak sempurna. Di dunia media sosial, semua terlihat cepat, menarik, dan sering kali mengundang perhatian. Fenomena ini dikenal sebagai flexing: kebiasaan memamerkan sesuatu untuk mendapat pengakuan. Di kalangan Gen Z, budaya ini semakin terlihat jelas. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, flexing sebenarnya memiliki lapisan makna yang lebih dalam.

Perilaku ini sering berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan dan validasi sosial. Manusia pada dasarnya ingin dilihat, dihargai, dan diterima. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara langsung, media sosial menjadi ruang alternatif untuk mencapainya. Flexing kemudian menjadi salah satu cara.

Dengan menampilkan pencapaian atau kepemilikan tertentu, seseorang berharap mendapat respons positif likes, komentar, atau perhatian. Respon ini memicu rasa senang dan memperkuat kebiasaan tersebut. Namun, tidak semua flexing muncul dari motivasi yang sama. Ada yang melakukannya sebagai bentuk ekspresi diri, berbagi kebahagiaan, atau dokumentasi hidup. Tetapi ada juga yang didorong oleh perbandingan sosial keinginan untuk “tidak kalah” dari orang lain. Di sinilah masalah bisa muncul. Ketika flexing menjadi alat untuk mengukur nilai diri, tekanan mulai terasa. Standar yang ditampilkan di media sosial sering kali tidak realistis. Tanpa disadari, seseorang bisa merasa harus terus “menunjukkan sesuatu” agar tetap relevan.

Di sisi lain, budaya ini juga memengaruhi cara kita melihat orang lain. Kita cenderung menilai dari apa yang terlihat, tanpa mengetahui proses di baliknya. Padahal, yang ditampilkan di media sosial sering kali adalah versi terbaik bukan keseluruhan cerita. Menariknya, sebagian Gen Z mulai menyadari hal ini. Muncul tren konten yang lebih jujur tentang kegagalan, kehidupan sederhana, dan proses yang tidak selalu mulus. Ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk kembali pada realita.

Tags:
Gen Z life Budaya Flexing Gaya Hidup Konsumtif

Komentar Pengguna