Keboncinta.com-- Selama bertahun-tahun, telur sering dianggap sebagai makanan yang dapat meningkatkan kadar kolesterol dan memicu penyakit jantung. Anggapan ini berawal dari rekomendasi American Heart Association (AHA) pada tahun 1968 yang menganjurkan konsumsi telur tidak lebih dari tiga butir per minggu karena kandungan kolesterol pada kuning telur.
Namun, perkembangan ilmu pengetahuan menghadirkan pemahaman baru. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi telur dan kolesterol ternyata tidak sesederhana yang diyakini selama ini. Faktor pola makan secara keseluruhan, gaya hidup, hingga kondisi genetik justru memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan kadar kolesterol seseorang.
Mengapa Kolesterol Bisa Meningkat?
Kolesterol merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hormon, vitamin D, dan membran sel. Setelah makanan dicerna, lemak akan dipecah menjadi partikel kecil yang disebut lipid dan diserap melalui usus halus.
Selanjutnya, lipid diangkut dalam aliran darah melalui lipoprotein yang memiliki fungsi berbeda-beda.
Beberapa jenis lipoprotein yang paling dikenal antara lain:
Keseimbangan antara LDL dan HDL menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kesehatan jantung.
Faktor yang Lebih Berpengaruh terhadap Kolesterol
Kadar kolesterol seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, bukan hanya makanan yang mengandung kolesterol.
Selain faktor keturunan, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans diketahui lebih berpengaruh terhadap peningkatan kadar LDL. Jenis lemak tersebut banyak ditemukan pada makanan olahan, daging berlemak, produk susu tinggi lemak, hingga makanan yang digoreng berulang kali.
Sebaliknya, lemak tak jenuh yang terdapat pada ikan, alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak zaitun justru membantu menjaga kesehatan pembuluh darah serta menurunkan kadar kolesterol jahat.
Baca Juga: Cara Memastikan Kampus dan Program Studi Pilihan Mendukung KIP Kuliah 2026 Sebelum Ikut Seleksi
Apakah Telur Benar-Benar Berbahaya?
Meski kuning telur mengandung kolesterol, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak memberikan pengaruh besar terhadap peningkatan kolesterol darah pada sebagian besar orang sehat.
Hal ini karena tubuh memproduksi sebagian besar kolesterol melalui hati berdasarkan jenis lemak yang dikonsumsi, bukan semata-mata dari kolesterol yang terdapat dalam makanan.
Selain itu, telur merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang kaya akan berbagai nutrisi penting, seperti:
Karena itu, menghindari telur sepenuhnya belum tentu menjadi solusi terbaik untuk menjaga kesehatan jantung.
Pola Makan Seimbang Lebih Penting
Para ahli kini lebih menekankan pentingnya menerapkan pola makan yang seimbang daripada hanya membatasi konsumsi telur.
Mengonsumsi makanan tinggi serat seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat membantu menurunkan kadar LDL dengan mengurangi penyerapan kolesterol di dalam usus.
Di sisi lain, aktivitas fisik secara rutin, baik berupa olahraga aerobik maupun latihan kekuatan, terbukti mampu menurunkan kolesterol jahat sekaligus meningkatkan kadar HDL yang berfungsi melindungi kesehatan jantung.
Pandangan mengenai telur sebagai penyebab utama kolesterol tinggi kini telah banyak berubah seiring berkembangnya penelitian ilmiah. Meski mengandung kolesterol, telur bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kadar kolesterol dalam darah.
Yang jauh lebih penting adalah menjaga pola makan secara keseluruhan, membatasi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans, memperbanyak makanan kaya serat, serta menjalani gaya hidup aktif.
Dengan menerapkan kebiasaan tersebut, kesehatan jantung dapat tetap terjaga tanpa harus takut mengonsumsi telur dalam jumlah yang wajar.***