Lifestyle
Tegar Bagus Pribadi

Mengapa Quiet Quitting Kini Merembet ke Hubungan Asmara? Menelaah Tren Quiet Loving

Mengapa Quiet Quitting Kini Merembet ke Hubungan Asmara? Menelaah Tren Quiet Loving

20 Mei 2026 | 10:53

keboncinta.com--  Dunia kerja beberapa tahun lalu sempat diguncang oleh tren quiet quitting, sebuah fenomena di mana karyawan memilih untuk tidak lagi memberikan usaha ekstra di kantor dan hanya bekerja sesuai dengan deskripsi tugas minimum demi menjaga kesehatan mental. Menariknya, seiring berjalannya waktu, mentalitas bertahan yang minimalis ini ternyata tidak lagi terbatas pada urusan karier, melainkan telah merembet ke dalam ranah kehidupan personal yang paling intim. Tren ini bermutasi menjadi apa yang kini disebut para psikolog hubungan sebagai quiet loving atau quiet quitting dalam hubungan asmara. Fenomena ini menggambarkan kondisi di mana seseorang secara sadar atau tidak memilih untuk berhenti menginvestasikan energi emosional, waktu, dan usaha ekstra untuk memperjuangkan pasangannya, namun tetap bertahan dalam ikatan pernikahan atau pacaran demi menghindari drama perpisahan, komplikasi finansial, atau ketakutan akan kesendirian.

Munculnya tren quiet loving di era modern ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kelelahan mental (burnout) yang dialami oleh masyarakat perkotaan. Tuntutan hidup yang semakin tinggi, tekanan ekonomi, dan paparan konstan terhadap stimulasi digital membuat cadangan energi emosional manusia modern menjadi sangat menipis. Ketika seseorang kehabisan energi di dunia kerja dan kehidupan sosial, mereka tidak lagi memiliki "baterai emosional" yang cukup untuk mengasuh hubungan asmara mereka. Akibatnya, hubungan yang seharusnya menjadi tempat bersandar dan mengisi energi justru dipandang sebagai beban kerja tambahan yang melelahkan. Bukannya mengomunikasikan masalah atau mengambil keputusan tegas untuk berpisah, banyak orang memilih jalan pintas berupa efisiensi emosional: tetap hadir secara fisik, tetapi menarik diri secara psikologis dan membiarkan kehangatan cinta mati perlahan demi mempertahankan status quo yang nyaman.

Secara psikologis, quiet loving bertindak sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang pasif-agresif untuk menghindari konflik. Orang-orang yang melakukan quiet quitting dalam hubungan biasanya merasa lelah karena merasa ekspektasi mereka tidak pernah terpenuhi atau komunikasi yang dilakukan selama ini selalu berujung buntu. Daripada terus-menerus bertengkar yang menguras energi, mereka memilih untuk menurunkan ekspektasi mereka ke titik nol. Mereka berhenti menuntut, berhenti protes, dan berhenti peduli. Kondisi ini sering kali menipu pasangannya karena hubungan tampak tenang dan bebas dari konflik di permukaan, padahal ketenangan tersebut bukanlah tanda kedamaian, melainkan tanda dari matinya kepedulian dan hilangnya keintiman yang mendalam.

Sebagai contoh konkret dari tren ini dalam kehidupan sehari-hari, bayangkan sepasang suami istri muda yang sama-sama sibuk bekerja dan telah menikah selama lima tahun. Sang suami atau istri mungkin tidak lagi berinisiatif untuk merencanakan kencan malam berdua, tidak lagi memberikan pujian kecil, mengabaikan hari jadi mereka tanpa rasa bersalah, dan menolak untuk membahas masa depan hubungan mereka secara mendalam. Ketika salah satu pihak mencoba memicu percakapan serius atau mengeluhkan sesuatu, pasangan yang melakukan quiet loving hanya akan merespons dengan jawaban singkat yang dingin seperti, "Ya sudah, terserah kamu saja," tanpa ada keinginan untuk memperbaiki keadaan. Mereka masih tinggal satu rumah, berbagi biaya tagihan bulanan, dan tampil kompak di media sosial, namun di dunia nyata, mereka hidup seperti dua orang asing yang kebetulan menyewa kamar yang sama. Melalui tren quiet loving ini, kita diingatkan bahwa musuh terbesar dari sebuah hubungan asmara bukanlah pertengkaran yang hebat atau perbedaan pendapat, melainkan rasa abai yang dingin dan hilangnya gairah untuk saling memperjuangkan hati satu sama lain.

Tags:
Kesehatan Mental Lifestyle Quiet Loving Hubungan Asmara

Komentar Pengguna