Keboncinta.com-- Setelah meresmikan Peta Jalan Pendidikan Islam, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa arah pendidikan Islam di masa depan tidak cukup hanya mencetak generasi cerdas secara akademik.
Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang memiliki empati, menjunjung nilai keadilan, serta peduli terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
Menurut Menag, kurikulum pendidikan Islam perlu menghadirkan nilai-nilai cinta sebagai inti pembelajaran.
Nilai tersebut mencakup empati, kesediaan berkorban, sikap saling memaafkan, hingga semangat kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca Juga: Menag Resmikan Peta Jalan Pendidikan Islam, Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Kunci Indonesia Emas
“Pendidikan tanpa cinta bukanlah pendidikan. Kurikulum yang tidak menghadirkan cinta akan kehilangan ruhnya,” tegas Menag.
Menag menjelaskan bahwa Peta Jalan Pendidikan Islam bukanlah dokumen yang bersifat kaku atau final.
Dokumen ini dirancang sebagai proses berkelanjutan yang harus terus dikaji dan disempurnakan sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan Islam, mulai dari perancang kebijakan hingga pelaksana di lapangan, untuk bekerja secara konseptual dan kontekstual.
Dengan demikian, kebijakan pendidikan tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi umat.
Baca Juga: Pemerintah Tarik Rp 75 Triliun dari Sistem Perbankan untuk Biayai Program Tahun Akhir 2025
“Kita harus bekerja pada dua level sekaligus, membangun fondasi filosofis yang kuat dan memastikan implementasinya benar-benar dirasakan,” ujarnya.
Menag optimistis, dengan kondisi stabilitas nasional yang terjaga, Indonesia memiliki peluang besar untuk membangun sistem pendidikan Islam yang unggul, inklusif, dan berkeadaban.
Peta Jalan Pendidikan Islam diharapkan menjadi kontribusi konkret Kementerian Agama dalam menyiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Dengan pendekatan berbasis cinta, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya religius secara formal, tetapi juga berkarakter kuat, berjiwa kemanusiaan, dan siap menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.***