Parenting
Azzahra Esa Nabila

Ketika Likes dan Views Menjadi Sumber Validasi

Ketika Likes dan Views Menjadi Sumber Validasi

29 April 2026 | 09:55

Keboncinta.com-- Satu unggahan selesai dibuat. Foto dipilih, caption ditulis, lalu tombol “posting” ditekan. Beberapa detik kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Satu like, dua like, lalu terus bertambah. Di layar, semuanya tampak sederhana, angka yang bergerak naik. Namun di balik itu, ada sesuatu yang lebih dalam: perasaan diakui.

Di era media sosial, validasi tidak lagi datang dari percakapan langsung saja. Tetapi juga hadir dalam bentuk angka, likes, views, komentar, dan share.  Dan tanpa disadari, banyak orang mulai mengaitkan angka tersebut dengan nilai diri.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Secara psikologis, manusia memang memiliki kebutuhan untuk diakui dan diterima. Dalam kajian Psikologi, kebutuhan akan pengakuan sosial merupakan bagian dari dorongan dasar manusia. Ketika unggahan mendapatkan respons positif, otak merespons dengan rasa senang bahkan memicu pelepasan dopamin, hormon yang berkaitan dengan rasa puas. Masalahnya muncul ketika validasi itu menjadi satu-satunya ukuran. Ketika jumlah likes menjadi tolok ukur keberhasilan, atau views dianggap sebagai penentu nilai sebuah konten, perlahan fokus bergeser. Bukan lagi pada proses atau makna, tetapi pada angka.

Tidak sedikit yang merasa kecewa ketika unggahannya tidak mendapat respons sesuai harapan. Bahkan, ada yang mulai mempertanyakan diri sendiri hanya karena angka yang tidak “cukup tinggi”. Ketika kebahagiaan bergantung pada respons orang lain, perasaan menjadi tidak stabil.

Di sisi lain, media sosial memang dirancang untuk mempertahankan perhatian. Algoritma bekerja dengan menampilkan konten yang menarik interaksi, sehingga pengguna terus terdorong untuk kembali dan berpartisipasi. Tanpa sadar, kita masuk dalam siklus yang berulang: membuat, menunggu respons, lalu mengulanginya lagi. Namun, penting untuk diingat bahwa angka tidak selalu mencerminkan nilai yang sebenarnya.

Sebuah konten bisa saja tidak viral, tetapi tetap bermakna. Sebuah unggahan mungkin tidak mendapat banyak likes, tetapi tetap berarti bagi seseorang yang melihatnya. Di sinilah pentingnya membangun validasi dari dalam diri. Mengapresiasi proses, menghargai usaha, dan tidak sepenuhnya bergantung pada respons luar bisa membantu menjaga keseimbangan. Media sosial bisa tetap digunakan, tetapi tidak menjadi satu-satunya sumber penilaian.

Tags:
Bijak Bermedia Sosial Emotional Validation Gen Milenial Wajib Tau!

Komentar Pengguna