Keboncinta.com-- Ada satu keluhan yang semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari: “Kenapa ya, sekarang waktu terasa cepat sekali?” Tanpa disadari, pagi berubah menjadi malam, hari berganti begitu saja, dan minggu terasa seperti hanya beberapa hari singkat. Padahal, jam di dinding tetap berjalan dengan ritme yang sama. Yang berubah bukan waktunya, tetapi cara manusia mengalaminya.
Di era digital, pengalaman terhadap waktu tidak lagi sesederhana dulu. Aktivitas manusia kini banyak dipenuhi oleh layar, notifikasi, dan aliran informasi yang tidak pernah berhenti. Platform seperti Instagram dan TikTok membuat orang bisa melompat dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik. Tanpa terasa, satu jam bisa berlalu hanya dengan scrolling yang tampak “sebentar”. Dalam kajian Psikologi Kognitif, persepsi waktu sangat dipengaruhi oleh jumlah pengalaman baru yang kita sadari. Ketika otak menerima banyak rangsangan berbeda, waktu cenderung terasa lebih panjang saat dijalani. Sebaliknya, ketika aktivitas dilakukan secara repetitif dan penuh distraksi otomatis, otak tidak banyak merekam detail, sehingga ketika diingat kembali, waktu terasa seperti berjalan sangat cepat.
Fenomena ini semakin kuat di era digital karena pola konsumsi informasi yang serba instan. Konten pendek, notifikasi cepat, dan perpindahan fokus yang terus-menerus membuat otak bekerja dalam mode otomatis. Kita melakukan banyak hal, tetapi tidak selalu benar-benar hadir dalam setiap momen tersebut. Akibatnya, hari-hari terasa “kosong” saat diingat kembali, meskipun sebenarnya penuh aktivitas.
Dalam Neurosains Kognitif, hal ini juga berkaitan dengan cara otak membentuk memori. Waktu tidak hanya diukur dari durasi, tetapi dari seberapa banyak peristiwa yang benar-benar diproses secara sadar. Hari yang penuh distraksi tetapi minim kesadaran akan terasa lebih singkat dibanding hari yang dijalani dengan perhatian penuh. Menariknya, perubahan persepsi waktu ini juga dipengaruhi oleh pola hidup modern. Rutinitas yang serba cepat, multitasking, dan kebiasaan berpindah aktivitas tanpa jeda membuat hari terasa seperti rangkaian tugas, bukan rangkaian pengalaman. Akibatnya, batas antar waktu menjadi kabur.
Di sisi lain, dunia digital juga menciptakan ilusi “selalu ada hal baru”. Setiap saat ada pembaruan, unggahan, atau informasi yang membuat otak merasa harus terus mengikuti. Kondisi ini membuat waktu terasa seperti tidak pernah cukup, meskipun secara objektif jumlah jam dalam sehari tetap sama. Namun, bukan berarti kita kehilangan kendali atas persepsi waktu sepenuhnya. Dalam berbagai pendekatan psikologi, kesadaran penuh atau mindfulness sering digunakan untuk membantu seseorang kembali “hadir” dalam setiap momen. Dengan memberi perhatian pada hal yang sedang dilakukan, waktu bisa kembali terasa lebih lambat dan bermakna.