Keboncinta.com-- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar tegaskan mengenai komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan sarana keagamaan dan pendidikan berbasis umat dari risiko bencana.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Tim Pengawas Penanganan Bencana DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Rapat yang dihadiri sejumlah kementerian dan lembaga terkait, seperti Kemendagri, Kemendikdasmen, Kemenkes, Kemensos, Kementerian PUPR, Bappenas, Basarnas, BNPB, BMKG, BAZNAS, TNI, Polri, serta pejabat tinggi Kementerian Agama termasuk Wamenag Romo Muhammad Syafi'i dan Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin.
Baca Juga: The Wonder of Harmony 2025: Gerakan Toleransi yang Menyatukan Keberagaman Indonesia
Menag mengungkapkan bahwa pada tahun 2026, Kementerian Agama telah menyiapkan alokasi anggaran khusus sebesar Rp16,16 miliar dari skema SBSN untuk merehabilitasi tujuh Kantor Urusan Agama (KUA) yang terdampak bencana.
Selain itu, melalui skema Rehabilitasi dan Manajemen Risiko (RM) dari Kementerian PUPR, akan dilakukan revitalisasi terhadap 101 madrasah terdampak dengan nilai Rp139,9 miliar.
Kemenag juga mengalokasikan Rp35,75 miliar dari pembiayaan SBSN untuk merehabilitasi delapan madrasah lainnya.
“Kita ingin memastikan keberagamaan berdampak, termasuk pada perlindungan kehidupan, pelestarian lingkungan, dan penguatan ketangguhan masyarakat,” tegas Menag.
Baca Juga: Zohran Mamdani Menang Telak dalam Pemilihan, Era Baru Kota New York Dipimpin Seorang Muslim
Program penguatan mitigasi bencana ini merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Nasional, melalui pendekatan Ekoteologi dan Beragama Berdampak.
Kemenag terus mendorong penerapan rumah ibadah ramah bencana, green office, serta gerakan satu juta pohon sebagai bentuk kontribusi nyata keberagamaan terhadap perlindungan lingkungan dan peningkatan ketangguhan masyarakat.
Menag juga menjelaskan langkah konkret Kemenag dalam menjaga keberlanjutan layanan keagamaan dan pendidikan di wilayah terdampak bencana.
Kemenag aktif memobilisasi penyuluh agama sebagai relawan, memberikan dukungan psikososial dan spiritual, serta membantu pemulihan sarana pendidikan dan ibadah.
Baca Juga: Melihat Sejarah Samurai, Legenda Pejuang yang Menjadi Simbol Kehormatan dan Keberanian Bangsa Jepang
Beberapa aksi nyata Kemenag antara lain respons cepat terhadap banjir di Bali, runtuhnya bangunan Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo, dan robohnya musala serta majelis taklim di Bogor, dengan total bantuan mencapai Rp1,4 miliar.
“Empati Kementerian Agama bukan hanya melalui doa, tetapi aksi nyata memulihkan sarana pendidikan dan ibadah, serta memulihkan ketenangan masyarakat,” ujar Menag.
Tim Pengawas Penanganan Bencana DPR RI memberikan apresiasi atas langkah Kemenag dan kementerian/lembaga lainnya dalam penanganan bencana di seluruh fase, mulai dari mitigasi hingga rehabilitasi.
Timwas juga mendorong peningkatan koordinasi lintas kementerian, integrasi layanan kedaruratan, serta sinergi pusat dan daerah dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang inklusif dan lebih tangguh.***