Budaya
Admin

Kaya Bahasa, Kaya Budaya, Tapi Mengapa Literasi Kita Masih Tertinggal?

Kaya Bahasa, Kaya Budaya, Tapi Mengapa Literasi Kita Masih Tertinggal?

27 Februari 2026 | 11:17

Keboncinta.com-- Indonesia sering dibanggakan sebagai negeri yang luar biasa kaya. Lebih dari 700 bahasa daerah hidup dan berkembang dari Sabang sampai Merauke. Tradisi lisan, cerita rakyat, sastra klasik, hingga manuskrip kuno menjadi bukti betapa kuatnya peradaban berbasis kata di negeri ini. Namun di sisi lain, kita kerap mendengar ironi: tingkat literasi Indonesia masih tergolong rendah dibanding banyak negara lain.

Pertanyaannya menggelitik. Bagaimana mungkin bangsa dengan kekayaan bahasa dan budaya sebesar ini justru menghadapi persoalan literasi?

Secara budaya, masyarakat Indonesia sebenarnya tidak asing dengan tradisi tutur. Dongeng sebelum tidur, petuah orang tua, hikayat, pantun, hingga wayang adalah bentuk literasi lisan yang telah mengakar selama ratusan tahun. Namun literasi modern yang diukur hari ini lebih banyak merujuk pada kemampuan membaca, memahami, menganalisis, dan mengolah informasi tertulis.

Berbagai survei internasional, termasuk Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD, beberapa kali menunjukkan bahwa kemampuan membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota. Hasil ini sering menjadi bahan refleksi nasional, sekaligus memunculkan perdebatan panjang tentang sistem pendidikan, akses buku, dan budaya membaca.

Namun literasi tidak sesederhana angka statistik. Ia berkaitan dengan ekosistem. Di banyak daerah, akses terhadap buku bacaan yang berkualitas masih terbatas. Perpustakaan belum menjadi ruang publik yang hidup dan nyaman. Harga buku relatif mahal bagi sebagian masyarakat. Bahkan dalam keluarga, budaya membaca belum tentu menjadi kebiasaan harian.

Di sisi lain, era digital membawa tantangan baru. Informasi melimpah ruah, tetapi tidak semuanya berkualitas. Ironisnya, masyarakat mungkin menghabiskan berjam-jam membaca di layar gawai, tetapi tidak semua bacaan tersebut meningkatkan daya kritis. Literasi hari ini bukan hanya soal bisa membaca, tetapi mampu memilah informasi, memahami konteks, dan tidak mudah terjebak hoaks.

Menariknya, kekayaan bahasa daerah sebenarnya bisa menjadi kekuatan besar untuk meningkatkan literasi. Bahasa ibu adalah pintu pertama seseorang mengenal dunia. Jika literasi dikembangkan sejak dini melalui bahasa yang paling akrab, anak-anak bisa lebih mudah mencintai membaca. Sayangnya, penguatan literasi berbasis bahasa lokal belum sepenuhnya dioptimalkan.

Kita juga perlu jujur melihat bahwa budaya instan semakin kuat. Konten singkat, video cepat, dan informasi serba ringkas sering kali menggantikan kebiasaan membaca panjang yang membutuhkan konsentrasi.

Tags:
budaya indonesia Budaya Literasi Budaya Membaca Pecinta literasi

Komentar Pengguna