Keboncinta.com-- Pernahkah sebuah kegiatan yang tampaknya sudah dipersiapkan dengan baik justru tidak berjalan sesuai harapan?
Program sudah dibuat, jadwal telah disusun, bahkan perlengkapan sudah lengkap.
Namun, ketika pelaksanaan dimulai, muncul penolakan, kesalahpahaman, atau anggota tim kebingungan menjalankan tugasnya.
Situasi seperti ini cukup sering terjadi dalam kegiatan kelompok, termasuk saat Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Penyebabnya tidak selalu karena programnya kurang bagus, melainkan karena proses musyawarah sebelum program dijalankan tidak dilakukan secara maksimal.
Banyak kelompok terlalu fokus mengejar target hingga menganggap musyawarah hanya sebagai formalitas.
Padahal, melalui diskusi yang terbuka, setiap anggota memiliki kesempatan menyampaikan pendapat, mengemukakan kekhawatiran, dan memberikan masukan berdasarkan sudut pandangnya masing-masing.
Dari proses inilah berbagai potensi masalah sering kali sudah bisa diprediksi sebelum benar-benar terjadi.
Selain itu, musyawarah juga membuat setiap orang memahami tujuan program dan perannya masing-masing.
Ketika seseorang merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan, ia cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar untuk menyukseskan hasil akhirnya.
Lebih dari itu, musyawarah bukan hanya penting bagi internal kelompok, tetapi juga ketika mahasiswa akan menjalankan program di tengah masyarakat.
Program yang menurut mahasiswa menarik belum tentu sesuai dengan kebutuhan warga.
Tanpa berdialog lebih dulu, kegiatan yang dirancang dengan penuh semangat bisa saja kurang bermanfaat atau bahkan tidak mendapat sambutan.
Sebaliknya, ketika masyarakat diajak berdiskusi sejak awal, mereka merasa dihargai sebagai mitra, bukan sekadar penerima program.
Musyawarah membantu mahasiswa memahami kondisi lapangan yang sebenarnya, sehingga program yang dijalankan lebih realistis, tepat sasaran, dan berpeluang memberikan dampak yang lebih berkelanjutan.