Hilal Itu Bukan Sekadar Bulan Sabit: Jangan Sampai Keliru Memahaminya

Hilal Itu Bukan Sekadar Bulan Sabit: Jangan Sampai Keliru Memahaminya

27 Februari 2026 | 12:00

Keboncinta.com-- Setiap menjelang Ramadan atau Idulfitri, kata “hilal” tiba-tiba ramai dibicarakan. Sidang isbat digelar, teleskop diarahkan ke langit barat, dan masyarakat menunggu pengumuman resmi. Namun di tengah perbincangan itu, masih banyak yang sebenarnya belum benar-benar paham: apa itu hilal? Apakah semua bulan sabit otomatis disebut hilal?

Secara astronomi, hilal adalah fase awal bulan sabit yang sangat tipis, yang muncul sesaat setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi, yaitu ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada pada satu garis lurus. Pada momen ini, Bulan sebenarnya tidak terlihat karena posisinya terlalu dekat dengan Matahari dari sudut pandang Bumi. Setelah beberapa jam, Bulan mulai bergerak sehingga sebagian kecil permukaannya memantulkan cahaya Matahari. Di situlah hilal berpotensi terlihat.

Artinya, hilal bukan sembarang bulan sabit. Ia adalah bulan sabit pertama yang tampak setelah fase bulan baru. Jika bulan sabit sudah terlihat besar dan jelas beberapa hari kemudian, itu bukan lagi hilal, melainkan fase sabit biasa yang sudah melewati tahap awal.

Mengapa hilal begitu penting? Dalam tradisi Islam, kemunculan hilal menjadi penanda awal bulan hijriah. Awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah ditentukan berdasarkan terlihat atau tidaknya hilal. Karena kalender hijriah berbasis peredaran Bulan, pengamatan langit menjadi bagian penting dalam penentuan waktu ibadah.

Namun proses melihat hilal tidak selalu mudah. Posisi hilal sangat rendah di ufuk barat dan cahayanya sangat tipis. Faktor cuaca, polusi, ketinggian tempat, hingga kondisi atmosfer memengaruhi kemungkinan terlihatnya hilal. Itulah sebabnya kadang terjadi perbedaan penetapan awal bulan antara metode rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomi).

Secara ilmiah, kemunculan hilal bisa dihitung dengan cukup akurat. Para astronom memperhitungkan tinggi Bulan di atas ufuk, sudut elongasi (jarak sudut Bulan dari Matahari), dan umur Bulan sejak konjungsi. Namun tetap saja, ada batas visibilitas yang dipengaruhi kondisi nyata di lapangan. Di sinilah sains dan praktik keagamaan bertemu dalam ruang yang menarik.

Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa hilal selalu berbentuk sama. Padahal ketebalan dan panjang sabitnya berbeda-beda tergantung jarak dan posisi relatif Bulan terhadap Bumi dan Matahari. Kadang sangat tipis seperti goresan cahaya, kadang sedikit lebih tebal.

Menariknya lagi, istilah hilal dalam bahasa Arab tidak hanya merujuk pada fenomena astronomi, tetapi juga memiliki makna simbolik.

Tags:
Puasa Ramadhan Menjelang Ramadhan Gen Milenial Wajib Tau! Hilal Ramadan

Komentar Pengguna