Keboncinta.com-- Di era serba cepat dan serba terlihat ini, banyak keputusan keuangan tidak lagi lahir dari kebutuhan, tetapi dari rasa takut tertinggal. Istilah FOMO (Fear of Missing Out) bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi bagian dari pola hidup yang memengaruhi cara anak muda mengelola uangnya.
Mulai dari ikut nongkrong, membeli barang viral, hingga mencoba pengalaman tertentu hanya karena “semua orang melakukannya”, FOMO perlahan menggerus kondisi finansial tanpa disadari. Yang awalnya hanya ingin ikut merasakan, lama-lama berubah menjadi kebiasaan mengeluarkan uang tanpa perhitungan.
Bagaimana FOMO Mengatur Cara Kita Menghabiskan Uang
1. Tekanan sosial yang tidak terlihat tapi kuat
FOMO sering muncul bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena tekanan sosial yang halus. Melihat teman bepergian, membeli barang baru, atau menikmati tren tertentu bisa memunculkan rasa “aku juga harus ikut”.
Padahal, tidak semua hal yang dilakukan orang lain cocok dengan kondisi finansial kita. Namun dorongan untuk tetap relevan sering kali lebih kuat daripada logika keuangan. Di sinilah pengeluaran emosional mulai terjadi.
2. Media sosial sebagai pemicu utama
Media sosial menjadi ruang terbesar bagi FOMO berkembang. Setiap hari, kita disuguhkan momen-momen “terbaik” dari kehidupan orang lain: liburan, belanja, makanan enak, hingga gaya hidup yang terlihat ideal.
Tanpa filter yang sehat, otak menangkap ini sebagai standar hidup. Akibatnya, muncul dorongan untuk menyamai, bahkan mengimbangi, meskipun kondisi finansial tidak mendukung.
3. “Sekali ikut, jadi kebiasaan”
Awalnya hanya mencoba sekali karena penasaran. Namun lama-lama, hal itu berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Contohnya sederhana: ikut nongkrong karena takut ketinggalan cerita, membeli barang karena sedang viral, atau mencoba tren tertentu agar tidak dianggap “out of touch”. Perlahan, pengeluaran kecil ini menumpuk menjadi beban besar.
Dampak FOMO terhadap Kondisi Finansial
1. Pengeluaran tidak terkontrol
FOMO membuat pengeluaran sulit direncanakan. Banyak keputusan finansial diambil secara spontan tanpa pertimbangan jangka panjang.
2. Tabungan sulit berkembang
Karena uang lebih sering digunakan untuk mengikuti tren, ruang untuk menabung menjadi sangat terbatas. Akhirnya, kondisi finansial hanya berputar di titik yang sama.
3. Rasa cemas secara finansial
Menariknya, setelah pengeluaran dilakukan, sering muncul rasa menyesal atau cemas. Ini menciptakan siklus tidak sehat antara keinginan sosial dan stabilitas finansial.
Cara Mengelola FOMO agar Tidak Merusak Keuangan
1. Kenali pemicu FOMO pribadi
Setiap orang punya pemicu berbeda.