Keboncinta.com-- Di hampir setiap kampus, selalu ada satu cerita yang berulang. Tentang dosen yang “katanya” galak, sulit diberi alasan, dan tidak segan memberi nilai rendah. Nama mereka sering beredar lebih dulu daripada mata kuliahnya. Sebelum masuk kelas, mahasiswa sudah punya kesimpulan: ini dosen killer.
Label itu menyebar dari mulut ke mulut, dari senior ke junior, bahkan kadang dari satu pengalaman ke ratusan persepsi.
Tapi, benarkah dosen seperti itu selalu “killer”? Atau justru itu adalah bentuk peduli?
Dalam sudut pandang Ilmu Komunikasi, persepsi terbentuk dari pengalaman, informasi yang diterima, dan cara seseorang menafsirkannya. Artinya, label “killer” bisa jadi bukan sepenuhnya realitas objektif, melainkan hasil interpretasi yang terus diwariskan. Satu pengalaman kurang menyenangkan bisa berubah menjadi cerita besar, apalagi jika diceritakan berulang. Di sisi lain, perlu diakui bahwa ada dosen yang memang tegas, disiplin, dan memiliki standar tinggi. Mereka tidak mudah memberi toleransi, menuntut ketepatan waktu, dan mengharapkan mahasiswa benar-benar memahami materi.
Bagi sebagian mahasiswa, ini terasa menekan. Namun bagi sebagian yang lain, justru menjadi tantangan. Dalam perspektif Psikologi, respons terhadap tekanan bisa berbeda pada setiap individu. Ada yang merasa tertekan, ada juga yang justru termotivasi. Perbedaan ini sering kali dipengaruhi oleh kesiapan, pengalaman, dan cara berpikir masing-masing. Dosen yang dianggap “killer” oleh satu orang, bisa jadi dianggap “pembimbing terbaik” oleh orang lain. Menariknya, banyak mahasiswa baru yang sudah merasa takut bahkan sebelum bertemu langsung. Ekspektasi negatif terbentuk lebih dulu, sehingga interaksi awal pun terasa tegang. Hal ini bisa memengaruhi cara berkomunikasi menjadi lebih kaku, lebih cemas, dan kurang percaya diri.
Padahal, komunikasi dua arah tetap menjadi kunci.
Ketegasan sering kali bukan tanpa alasan. Terjadang Dosen ingin memastikan mahasiswa benar-benar belajar, bukan sekadar menyelesaikan tugas. Standar tinggi bisa menjadi cara untuk mendorong kualitas. Namun, dari sisi mahasiswa, penting juga untuk membangun kesiapan. Memahami materi, menghargai waktu, dan berani bertanya bisa mengubah cara kita melihat situasi. Karena sering kali, yang terlihat menakutkan di awal justru menjadi pengalaman yang paling berkesan di akhir.