Keboncinta.com-- Ada satu hal yang sering terjadi tanpa suara di dunia digital: sebuah komentar singkat, tapi meninggalkan bekas yang panjang. “Kok gemukan?”, “Terlalu kurus deh”, atau “Nggak cocok pakai itu.” Kalimat-kalimat yang terlihat sepele itu sering muncul di kolom komentar media sosial, tetapi dampaknya bisa jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan.
Fenomena ini dikenal sebagai body shaming praktik mengkritik atau mempermalukan bentuk tubuh seseorang. Di era digital, bentuknya semakin luas dan sulit dikendalikan karena hadir di ruang publik yang sangat terbuka, seperti di Instagram, TikTok, hingga berbagai platform lain yang memungkinkan interaksi tanpa batas. Di balik layar, media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi dan berinteraksi. Namun dalam praktiknya, ruang ini juga bisa berubah menjadi tempat penilaian cepat terhadap tubuh orang lain. Perilaku seperti body shaming termasuk dalam bentuk kekerasan verbal yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang, terutama jika terjadi secara berulang.
Paparan komentar negatif secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, bahkan penurunan kepercayaan diri. Yang membuat body shaming di media sosial semakin kompleks adalah sifatnya yang cepat menyebar. Sebuah foto atau video bisa mendapatkan ribuan komentar dalam waktu singkat, dan di antara pujian, sering kali terselip penilaian yang tidak diminta. Tidak jarang, komentar tersebut justru lebih diingat dibandingkan dukungan yang ada.
Di sisi lain, budaya visual yang berkembang di media sosial turut memperkuat tekanan ini. Standar tubuh ideal yang sering ditampilkan baik melalui filter, sudut pengambilan gambar, maupun penyuntingan membuat banyak orang merasa perlu “menyesuaikan diri”. Padahal, apa yang terlihat di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Namun, bukan berarti tidak ada perubahan. Dalam beberapa tahun terakhir, mulai muncul gerakan yang menolak standar tubuh tunggal. Banyak pengguna media sosial, termasuk figur publik, mulai berani menunjukkan tubuh apa adanya tanpa filter. Gerakan ini sejalan dengan kampanye yang juga didukung oleh lembaga seperti UNICEF yang menekankan pentingnya lingkungan digital yang lebih aman bagi anak dan remaja, termasuk dari perundungan berbasis penampilan.
Perubahan ini menunjukkan satu hal penting: kesadaran mulai tumbuh bahwa tubuh bukanlah objek untuk dinilai, melainkan bagian dari identitas manusia yang beragam. Setiap orang memiliki cerita, latar belakang, dan kondisi yang tidak bisa disederhanakan hanya dari bentuk fisik. Di tengah derasnya arus komentar dan visual di media sosial, mungkin yang paling dibutuhkan bukan sekadar fitur baru atau aturan yang lebih ketat, tetapi cara pandang yang lebih manusiawi. Karena di balik setiap akun, selalu ada seseorang yang sedang hidup dengan perasaannya sendiri yang bisa terluka oleh kata-kata yang mungkin dianggap “hanya komentar biasa”.