Keboncinta.com-- Dalam sejarah kejayaan militer Islam, nama Jenisari atau Janissary menjadi salah satu legenda yang tak pernah dilupakan. Pasukan elite Kesultanan Utsmaniyah ini dikenal sangat disiplin, terlatih, dan ditakuti di medan perang.
Selama berabad-abad, mereka menjadi simbol kekuatan militer Turki Utsmani yang disegani kerajaan-kerajaan besar di Eropa maupun Asia.
Istilah Janissary berasal dari kata Turki Utsmani “Yeniçeri”, yang berarti “prajurit baru”. Pembentukan korps ini bermula pada abad ke-14 M ketika Sultan Murad I menyadari perlunya pasukan yang loyal hanya kepada tahta, bukan kepada keluarga bangsawan atau kelompok suku tertentu.
Baca Juga: Wamenag Dorong Pengelolaan Wakaf Produktif untuk Pendidikan, Riset, dan Layanan Sosial
Untuk itu, diterapkanlah sistem rekrutmen unik bernama Devshirme. Melalui sistem ini, anak laki-laki dari keluarga Kristen di Balkan—seperti Albania, Bosnia, dan Yunani—diambil oleh negara untuk kemudian diislamkan, dididik, dan ditempa menjadi tentara elite atau pejabat tinggi.
Sejak usia belia, mereka tinggal di barak, dipisahkan dari keluarga, dan dibesarkan dalam disiplin keras.
Para calon Jenisari mempelajari seni perang, strategi, menunggang kuda, memanah, serta penggunaan senjata api—sesuatu yang bahkan belum umum digunakan di Eropa kala itu.
Pelatihan intensif ini menjadikan mereka sebagai mesin perang yang efisien, profesional, dan setia kepada Sultan Utsmani.
Selama masa ekspansi besar-besaran Turki Utsmani, Jenisari menjadi ujung tombak kekuatan militer.
Mereka berada di garis depan ketika Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M, sebuah kemenangan monumental yang mengubah sejarah dunia.
Mereka juga berperan besar dalam pertempuran besar seperti Mohács serta ekspansi wilayah ke Asia Barat dan Eropa Tenggara.
Salah satu ciri khas Jenisari yang paling terkenal adalah musik Mehter, orkestra militer tertua di dunia.
Dentuman musik Mehter yang menggelegar saat pasukan ini memasuki medan perang mampu membangkitkan semangat prajurit sekaligus menumbuhkan ketakutan di pihak lawan.
Pada awalnya, Jenisari hidup dengan aturan sangat ketat: tidak boleh menikah, tidak memiliki harta pribadi, dan tidak diizinkan berdagang. Semua itu dilakukan agar mereka tetap fokus sebagai penjaga tahta dan pelindung negara.
Namun, memasuki abad ke-17 dan 18, disiplin itu perlahan memudar. Jenisari mulai terlibat politik, menuntut kenaikan gaji, hingga berusaha menjatuhkan sultan yang tidak mereka sukai. Mereka juga mulai menikah, berdagang, dan kehilangan ketangguhan militernya.
Situasi tersebut mencapai puncaknya pada tahun 1826 saat Sultan Mahmud II memutuskan untuk menghapus korps yang dianggap sudah menjadi beban negara.
Dalam peristiwa yang dikenal sebagai “The Auspicious Incident” atau Peristiwa Yang Diberkati, barak Jenisari diserbu dan ribuan anggotanya tewas. Sejak itu, korps Jenisari resmi dibubarkan dari sejarah Kesultanan Utsmani.
Meski berakhir tragis, warisan Jenisari tetap terasa hingga kini. Musik Mehter masih dimainkan dalam parade militer Turkiye, sementara konsep militer profesional yang mereka pelopori menjadi inspirasi bagi sistem militer modern.
Warisan peninggalan Jenisari tetap terpatri sebagai salah satu kekuatan paling ikonik dalam sejarah militer Islam.***