keboncinta.com- Mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, makalah, atau artikel ilmiah mungkin pernah menemukan kode unik bertuliskan DOI pada halaman jurnal. Kode tersebut biasanya berupa kombinasi angka, huruf, dan tanda baca yang terletak di bagian informasi publikasi atau halaman pertama artikel.
Namun, tidak semua mahasiswa memahami apa itu DOI jurnal ilmiah, bagaimana fungsinya, dan mengapa kode tersebut sering dicantumkan dalam daftar pustaka.
Padahal, DOI memiliki peranan penting dalam dunia publikasi akademik. Selain membantu mengidentifikasi sebuah karya ilmiah, DOI memudahkan pembaca menemukan sumber penelitian yang digunakan sebagai referensi.
Memahami cara mencari dan menuliskan DOI juga dapat membantu mahasiswa menyusun daftar pustaka secara lebih akurat sesuai pedoman penulisan ilmiah.
DOI merupakan singkatan dari Digital Object Identifier, yaitu pengenal digital unik yang digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek secara persisten atau berkelanjutan.
Menurut DOI Foundation, DOI dirancang agar sebuah objek tetap dapat diidentifikasi dan ditemukan meskipun lokasi informasi tentang objek tersebut berubah.
Dalam dunia akademik, DOI banyak digunakan pada artikel jurnal ilmiah, buku elektronik, prosiding konferensi, kumpulan data penelitian, dan berbagai publikasi lainnya.
Sebagai contoh, sebuah artikel ilmiah dapat memiliki DOI berikut:
10.1071/AH13113
Apabila kode tersebut ditambahkan ke alamat https://doi.org/, hasilnya menjadi:
https://doi.org/10.1071/AH13113
Tautan tersebut dapat digunakan untuk mengakses halaman publikasi yang terkait dengan DOI.
DOI biasanya didaftarkan oleh penerbit atau lembaga melalui organisasi registrasi seperti Crossref. Karena itu, penulis atau mahasiswa tidak bisa sembarangan membuat DOI untuk sebuah artikel.
Baca Juga: Jurnal Predator Ancam Integritas Akademik, Publikasi Ilmiah Tak Boleh Sekadar Kejar Target
DOI memiliki sejumlah fungsi yang bermanfaat dalam kegiatan penelitian dan penulisan karya ilmiah.
Setiap DOI yang terdaftar mengidentifikasi objek tertentu secara unik.
Hal ini membantu membedakan suatu artikel dari publikasi lain, termasuk ketika terdapat artikel dengan judul yang hampir sama.
Dengan mengetahui DOI, peneliti dapat memeriksa informasi publikasi secara lebih tepat.
Mahasiswa tidak selalu perlu mengetik judul jurnal yang panjang untuk menemukan sebuah artikel.
Jika DOI sudah diketahui, kode tersebut dapat dibuka melalui layanan https://doi.org/ untuk menuju halaman publikasinya.
Cara ini berguna terutama ketika mahasiswa sedang memeriksa referensi dari penelitian terdahulu.
Alamat halaman website jurnal dapat berubah karena pembaruan sistem, perubahan domain, atau perpindahan penerbit.
DOI dirancang agar tetap menjadi identitas yang sama, sementara alamat tujuan yang terkait dengannya dapat diperbarui.
Meski demikian, DOI tidak menjamin tautan selalu berfungsi apabila pengelola tidak memperbarui informasi yang diperlukan.
Dalam sejumlah gaya penulisan akademik, termasuk APA edisi ketujuh, DOI dicantumkan pada referensi apabila karya tersebut memilikinya.
Penggunaan DOI membantu pembaca melacak publikasi yang dikutip dalam skripsi, tesis, laporan penelitian, atau artikel ilmiah.
Baca Juga: Contoh Jurnal Mengajar Guru Harian dan Cara Mencatat Tindak Lanjut
Secara umum, DOI mempunyai dua bagian utama, yaitu prefix dan suffix, yang dipisahkan dengan tanda garis miring (/).
Sebagai contoh:
10.1000/182
Penjelasannya:
Contoh tersebut merupakan DOI demonstrasi yang digunakan oleh DOI Foundation untuk menjelaskan struktur pengenal digital.
DOI tidak harus mempunyai panjang karakter yang sama. Bagian suffix dapat menggunakan angka, huruf, maupun karakter tertentu sesuai ketentuan registrasi.
Ada beberapa cara yang bisa digunakan mahasiswa untuk menemukan DOI suatu artikel.
Cara paling sederhana adalah membuka dokumen jurnal yang sudah diunduh.
Periksa halaman pertama, terutama bagian dekat judul, nama penulis, abstrak, atau informasi penerbitan.
DOI sering ditampilkan dalam bentuk:
DOI: 10.xxxx/xxxxx
atau tautan:
https://doi.org/10.xxxx/xxxxx
Namun, letaknya bisa berbeda pada setiap penerbit. Sebagian jurnal menempatkan DOI pada halaman web artikel dan tidak mencantumkannya di dokumen PDF.
Crossref menyediakan layanan pencarian metadata publikasi ilmiah.
Mahasiswa dapat menggunakan fasilitas ini secara gratis untuk menemukan DOI yang telah tercatat dalam basis data Crossref.
Berikut langkah-langkahnya:
Apabila memiliki daftar referensi yang belum dilengkapi DOI, mahasiswa juga dapat menggunakan layanan Crossref Simple Text Query.
Layanan tersebut memungkinkan pengguna memasukkan referensi dalam format teks untuk mencocokkannya dengan DOI yang tersedia.
Perlu diperhatikan, hasil pencarian harus tetap diverifikasi karena artikel dengan judul serupa atau metadata yang kurang lengkap dapat menyebabkan ketidaksesuaian.
Google Scholar merupakan mesin pencari akademik yang sering digunakan mahasiswa untuk memperoleh literatur penelitian.
Langkah-langkahnya:
Google Scholar tidak selalu menampilkan DOI secara langsung pada hasil pencarian. Karena itu, pengguna mungkin harus membuka halaman penerbit terlebih dahulu.
Baca Juga: 7 Situs Gratis untuk Cari Jurnal Ilmiah dengan Cepat, Cocok untuk Skripsi hingga Penelitian
Jika DOI belum ditemukan, mahasiswa dapat melakukan pencarian menggunakan judul lengkap artikel.
Misalnya:
"The physical health status of asylum seekers" DOI
Gunakan tanda kutip pada frasa judul untuk mempersempit hasil pencarian.
Namun, informasi yang ditemukan melalui mesin pencari sebaiknya diperiksa kembali melalui website resmi penerbit atau basis data metadata.
Penulisan DOI harus mengikuti gaya sitasi yang digunakan perguruan tinggi.
Dalam panduan APA edisi ketujuh dari Monash University, DOI dituliskan menggunakan format tautan:
https://doi.org/xxxxx
Sebagai contoh, referensi artikel jurnal ilmiah dapat ditulis sebagai berikut:
Hadgkiss, E. J., & Renzaho, A. M. (2014). The physical health status, service utilisation and barriers to accessing care for asylum seekers residing in the community: A systematic review of the literature. Australian Health Review, 38(2), 142–159.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir