Pada contoh tersebut, DOI ditempatkan di bagian akhir daftar pustaka.
Jika menggunakan APA 7, mahasiswa tidak perlu menambahkan tulisan "DOI:" sebelum tautan.
Selain itu, apabila suatu artikel memiliki DOI, gunakan DOI tersebut daripada alamat URL biasa dalam daftar pustaka.
Ketentuan dapat berbeda pada gaya sitasi lain. Oleh sebab itu, mahasiswa tetap perlu mengikuti pedoman skripsi yang ditetapkan kampus.
Tidak semua artikel jurnal mempunyai DOI.
Sebagian publikasi lama atau artikel dari penerbit tertentu mungkin tidak memiliki pengenal tersebut.
Apabila DOI tidak tersedia, mahasiswa tidak perlu membuat nomor sendiri atau menyalin DOI artikel lain.
Dalam APA edisi ketujuh, untuk artikel tanpa DOI yang diperoleh dari basis data akademik, referensi umumnya ditulis tanpa URL basis data. Sementara artikel tanpa DOI yang tersedia secara publik pada website biasanya dapat mencantumkan URL artikel.
Mahasiswa tetap harus memeriksa aturan yang berlaku pada sumber dan jenis publikasi yang digunakan.
Ketiga istilah ini sering ditemukan dalam publikasi ilmiah, tetapi mempunyai fungsi berbeda.
DOI (Digital Object Identifier) digunakan untuk mengidentifikasi suatu objek, seperti artikel ilmiah, secara persisten.
URL (Uniform Resource Locator) merupakan alamat yang menunjukkan lokasi suatu sumber di internet.
ISSN (International Standard Serial Number) merupakan kode identifikasi untuk publikasi berseri, seperti jurnal atau majalah.
Dengan demikian, DOI sebuah artikel berbeda dengan ISSN jurnal yang menerbitkan artikel tersebut.
Satu jurnal dapat mempunyai ISSN tertentu dan menerbitkan banyak artikel yang masing-masing memiliki DOI berbeda.
Keberadaan DOI tidak otomatis membuktikan bahwa suatu jurnal berkualitas, bereputasi, atau telah melalui proses peer review yang baik.
Crossref menjelaskan bahwa DOI merupakan pengenal, bukan penilaian mutu terhadap isi publikasi.
Mahasiswa tetap perlu memeriksa kredibilitas penerbit, proses penelaahan ilmiah, kesesuaian bidang, metodologi penelitian, dan kualitas informasi yang disajikan.
Hal ini penting agar referensi yang digunakan tidak hanya mudah ditemukan, tetapi juga benar-benar mendukung argumentasi ilmiah.
Baca Juga: Cara Menentukan Research Gap Skripsi dari Penelitian Terdahulu
Sebelum memasukkan DOI ke daftar pustaka, mahasiswa sebaiknya melakukan pemeriksaan sederhana.
Dengan memahami fungsi DOI dan cara menemukannya, mahasiswa dapat mengelola sumber penelitian secara lebih sistematis.
Ketelitian dalam mencatat DOI juga membantu menjaga akurasi daftar pustaka, mempermudah penelusuran referensi, dan mendukung penyusunan karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir