Parenting
Rahman Abdullah

Anak Usia 2-3 Tahun Sering Marah dan Ngotot? Ini 7 Cara Orangtua Menghadapinya

Anak Usia 2-3 Tahun Sering Marah dan Ngotot? Ini 7 Cara Orangtua Menghadapinya

31 Agustus 2026 | 11:21

Keboncinta.com-- Mengasuh anak usia 2-3 tahun memang memiliki tantangan tersendiri. Pada fase ini, anak sering menunjukkan emosi yang kuat, mudah marah, menolak permintaan orangtua, bahkan bersikeras mempertahankan keinginannya.

Periode tersebut kerap dikenal dengan istilah “terrible two” dan “threenager”. Bagi orangtua, menghadapi anak yang mudah menangis, berteriak, atau melakukan penolakan secara keras tentu dapat menguras energi.

Meski demikian, perilaku tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari proses perkembangan yang normal. Anak pada usia ini sedang belajar mengenal lingkungan, mencoba berbagai pengalaman baru, serta memahami keinginan dan perasaan yang muncul dalam dirinya.

Kemampuan anak dalam mengendalikan emosi juga masih berkembang. Ketika merasakan kecewa, marah, takut, atau tidak nyaman, mereka belum selalu mampu menyampaikan perasaannya melalui kata-kata. Akibatnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk tangisan, teriakan, kemarahan, maupun penolakan.

Agar lebih mudah menghadapi fase ini, orangtua dapat menerapkan beberapa langkah berikut.

Baca Juga: SKTP TPG 2026 Sudah Terbit tapi Dana Belum Masuk Rekening? Ini Data yang Wajib Guru Cek

1. Tetap Tenang Ketika Anak Mengamuk

Ketika anak mulai menunjukkan emosi yang kuat, orangtua sebaiknya berusaha menjaga ketenangan diri terlebih dahulu.

Respons orangtua yang ikut terbawa emosi justru dapat membuat keadaan semakin sulit. Sebaliknya, sikap yang tenang dapat memberikan suasana yang lebih stabil sehingga anak perlahan dapat ikut menenangkan diri.

Jika diperlukan, orangtua bisa mengambil jeda beberapa saat untuk mengendalikan emosi sebelum memberikan arahan kepada anak.

2. Kenali dan Pahami Perasaan Anak

Anak yang menangis atau marah tidak selalu membutuhkan teguran. Dalam kondisi tertentu, mereka mungkin hanya ingin didengarkan dan merasa bahwa perasaannya dipahami.

Orangtua dapat mencoba mencari tahu penyebab anak kecewa, takut, marah, atau merasa tidak nyaman.

Ketika orangtua membantu memberi nama pada emosi yang dirasakan anak, mereka secara perlahan dapat belajar mengenali perasaan sendiri dan menemukan cara yang lebih tepat untuk mengungkapkannya.

Baca Juga: Peserta Magang Nasional 2026 Wajib Tahu! Kecelakaan Kerja Jangan Didiamkan, Ini 4 Langkah yang Harus Dilakukan

3. Berikan Batasan yang Konsisten

Memahami emosi anak bukan berarti membebaskan mereka melakukan apa saja. Orangtua tetap perlu menetapkan aturan mengenai perilaku yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.

Batasan tersebut sebaiknya disampaikan dengan kalimat sederhana dan diterapkan secara konsisten sesuai usia anak.

Aturan yang jelas membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki batas serta konsekuensi yang perlu diperhatikan.

4. Tawarkan Pilihan Sederhana

Memberikan pilihan dapat membuat anak merasa ikut memiliki kendali tanpa menghilangkan peran orangtua dalam menentukan batasan.

Orangtua dapat memberikan dua pilihan yang sama-sama aman dan dapat diterima. Misalnya, anak diberi kesempatan memilih pakaian atau aktivitas dari dua opsi yang sudah disiapkan.

Dengan cara tersebut, anak merasa dilibatkan sehingga kemungkinan terjadinya konflik dapat berkurang.

5. Pastikan Anak Berada di Lingkungan yang Aman

Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi perilaku dan emosi anak. Karena itu, orangtua perlu menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman.

Mainan maupun aktivitas yang diberikan sebaiknya disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak. Orangtua juga perlu memperhatikan kondisi yang dapat membuat anak terlalu lelah, stres, atau cemas.

Lingkungan yang mendukung dapat membantu anak merasa lebih aman ketika belajar mengelola berbagai emosi.

Baca Juga: Tak Cuma Dapat Uang Saku, Peserta Magang Nasional 2026 Ternyata Dapat Perlindungan BPJS

6. Berikan Pujian atas Perilaku Positif

Perhatian orangtua tidak seharusnya hanya diberikan ketika anak melakukan kesalahan.

Tags:
Parenting Anak Emosi Anak

Komentar Pengguna