KebonCinta.com – Mengantar anak ke sekolah dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi sebagian keluarga. Namun, bagi orang tua lainnya, waktu perpisahan di depan kelas justru menjadi momen yang sulit.
Anak mungkin menangis ketika melihat orang tuanya hendak pulang, memeluk erat, atau menolak masuk kelas meskipun guru sudah menyambutnya.
Sebagian orang tua merasa bersalah karena harus meninggalkan anak yang sedang menangis. Ada pula yang akhirnya memperpanjang waktu perpisahan, bersembunyi di sekitar sekolah, atau kembali menemui anak beberapa kali.
Padahal, cara orang tua merespons perpisahan dapat memengaruhi proses penyesuaian anak.
UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa kecemasan perpisahan merupakan pengalaman yang cukup umum pada masa perkembangan awal, terutama ketika anak mulai memahami bahwa pengasuh dapat berada di tempat berbeda.
Namun, kesulitan berpisah perlu dilihat bersama usia, pengalaman sekolah, kondisi keluarga, dan tingkat tekanan yang dialami anak.
Kecemasan perpisahan atau separation anxiety adalah perasaan khawatir ketika anak harus berpisah dengan orang tua atau pengasuh yang membuatnya merasa aman.
UNICEF menjelaskan bahwa kondisi ini umum terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama sekitar usia enam bulan hingga tiga tahun.
Pada anak yang lebih besar, kecemasan juga dapat muncul ketika memasuki lingkungan baru atau menghadapi perubahan tertentu.
Misalnya, anak baru pertama kali mengikuti PAUD atau TK.
Ia belum mengenal guru, ruangan, dan teman-temannya.
Bagi anak, perpisahan yang terlihat singkat bagi orang dewasa dapat terasa menakutkan.
Namun, tidak setiap anak yang menangis ketika diantar sekolah mengalami gangguan kecemasan.
Salah satu cara membantu anak adalah memperkenalkan sekolah sebelum kegiatan belajar dimulai.
Jika sekolah mengizinkan, ajak anak melihat ruang kelas, halaman, tempat bermain, dan lokasi penjemputan.
Perkenalkan guru secara bertahap.
Orang tua juga dapat membicarakan kegiatan yang mungkin dilakukan, seperti menggambar, membaca cerita, atau bermain bersama teman.
UNICEF Indonesia menyarankan persiapan sebelum masuk prasekolah melalui pengenalan lingkungan dan rutinitas.
Namun, hindari menjanjikan bahwa semua kegiatan pasti menyenangkan sepanjang hari.
Anak perlu memperoleh gambaran yang realistis bahwa ia mungkin merasa gugup, tetapi akan mendapatkan pendampingan.
Pagi yang terburu-buru dapat membuat anak semakin sulit mengelola perasaannya.
Karena itu, persiapkan pakaian, tas, dan perlengkapan sejak malam apabila memungkinkan.
Bangunkan anak dengan waktu yang cukup untuk membersihkan diri dan sarapan.
Gunakan urutan yang relatif sama setiap hari.
Misalnya, bangun, mandi, sarapan, memakai sepatu, lalu berangkat.
Rutinitas yang dapat diprediksi membantu anak memahami kegiatan berikutnya.
Namun, orang tua tetap perlu memberikan ruang ketika terjadi keadaan tak terduga.
Tujuannya bukan membentuk jadwal yang kaku, tetapi mengurangi kebingungan saat bersiap sekolah.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan ritual perpisahan yang singkat dan konsisten.
Ritual dapat berupa pelukan, salam, atau gerakan tangan khusus antara anak dan orang tua.
Misalnya:
"Peluk sekali, tos dua kali, lalu salam kepada Bu Guru."
Setelah ritual selesai, orang tua menyampaikan bahwa ia akan kembali pada waktu penjemputan.
Hindari memperpanjang perpisahan dengan mengulang salam berkali-kali.
Namun, jangan pula meninggalkan anak tanpa memberi tahu.
Anak perlu mengetahui bahwa orang tuanya pergi dan akan kembali.
Anak usia dini belum selalu memahami jam secara tepat.
Karena itu, janji penjemputan dapat dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari.
Misalnya:
"Ibu jemput setelah kegiatan bermain dan makan selesai."
Atau:
"Ayah datang setelah kamu belajar dan guru mengatakan waktunya pulang."
AAP menganjurkan penggunaan penjelasan waktu yang sesuai kemampuan anak.
Namun, orang tua perlu berusaha menepati janji.
Jika terjadi keterlambatan, pastikan sekolah mengetahui siapa yang akan mendampingi anak dan bagaimana pemberitahuan diberikan.
Kepercayaan dibangun ketika ucapan orang tua sesuai dengan pengalaman anak.
Sebagian orang tua memilih pergi ketika anak sedang tidak memperhatikan.
Tujuannya agar anak tidak menangis ketika melihat perpisahan.
Namun, tindakan tersebut dapat membuat anak terkejut ketika mengetahui orang tuanya sudah tidak ada.
Lebih baik lakukan salam singkat secara terbuka.
Orang tua dapat mengatakan:
"Ibu pulang sekarang. Kamu bersama Bu Guru. Nanti Ibu datang menjemput."
Meskipun anak menangis, kejelasan perpisahan membantu membangun rutinitas yang dapat dipercaya.
Baca Juga: MPLS Ramah 2026: Empat Materi Penting yang Wajib Disampaikan Sekolah kepada Orang Tua
Proses adaptasi lebih mudah ditangani ketika orang tua dan guru mempunyai rencana yang sama.
Sebelum perpisahan, sampaikan hal-hal yang membantu anak merasa nyaman.
Misalnya, anak menyukai kegiatan menggambar atau membutuhkan waktu sebentar sebelum bergabung dengan teman.
Guru dapat menyambut anak dan mengarahkannya pada kegiatan yang sesuai.
Child Mind Institute menyarankan koordinasi dengan guru ketika anak mengalami kesulitan berpisah saat diantar ke sekolah.
Namun, guru tetap perlu memperhatikan apakah anak benar-benar mulai merasa aman setelah orang tua pergi.
Jika anak terus mengalami tekanan berat, strategi perlu dievaluasi, bukan sekadar mempertahankan perpisahan yang sama setiap hari.
Ketika anak pulang, hindari langsung mengatakan:
"Tadi kenapa menangis? Kan sekolah tidak menakutkan."
Lebih baik tanyakan bagaimana pengalamannya.
Misalnya:
"Bagian mana yang membuatmu senang hari ini?"
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu takut?"
"Siapa yang menemanimu ketika Ibu pulang?"
Dengarkan jawabannya tanpa buru-buru menyimpulkan.
Jika anak belum mampu menjelaskan, orang tua dapat menggunakan gambar, permainan, atau cerita sederhana untuk membuka percakapan.
Anak dapat melihat teman lain masuk kelas dengan mudah.
Namun, perbandingan tidak selalu membantu.
Hindari kalimat:
"Lihat temanmu, tidak ada yang menangis."
Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa malu terhadap perasaannya.
Lebih baik fokus pada perkembangan sendiri.
Misalnya:
"Kemarin kamu perlu ditemani sampai pintu. Hari ini kamu sudah mau berjalan bersama guru."
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan konkret tanpa merendahkan anak.
Jika sesuai dengan usia dan kondisi anak, latihan dapat dilakukan melalui perpisahan singkat dengan orang dewasa yang dipercaya.
Misalnya, anak bermain bersama anggota keluarga yang dikenalnya sementara orang tua melakukan kegiatan lain.
Sebelum pergi, jelaskan bahwa orang tua akan kembali.
Kemudian tepati janji tersebut.
UNICEF menyarankan latihan perpisahan singkat sebagai salah satu cara membantu anak membangun rasa aman.
Namun, jangan memaksakan latihan ketika anak sedang sakit atau berada dalam keadaan yang membuatnya tidak aman.
Sebagian anak merasa lebih nyaman membawa benda kecil yang dikenal, seperti saputangan atau boneka kesayangan.
Benda tersebut dapat membantu anak mengingat keadaan yang membuatnya aman.
UNICEF menyebutkan bahwa objek penghibur dapat membantu sebagian anak saat berpisah.
Namun, orang tua perlu mengikuti aturan sekolah.
Pastikan benda yang dibawa aman, tidak mengganggu kegiatan, dan tidak menimbulkan masalah kebersihan.
Jika sekolah tidak mengizinkan, orang tua dan guru dapat mencari alternatif lain.
Berikut contoh alur yang dapat diterapkan.
| Tahap | Kegiatan |
|---|---|
| Sebelum berangkat | Menjelaskan kegiatan sekolah dan siapa yang menjemput |
| Tiba di sekolah | Menyapa guru serta menunjukkan ruang kelas |
| Salam perpisahan | Pelukan singkat dan ucapan perpisahan |
| Pengalihan kegiatan | Guru mengajak anak mengikuti aktivitas awal |
| Setelah sekolah | Orang tua menjemput sesuai kesepakatan |
| Di rumah | Mengajak anak bercerita tanpa menyalahkan |
Rangkaian tersebut merupakan contoh yang perlu disesuaikan dengan keadaan anak dan prosedur sekolah.
Jika anak terus menangis, orang tua dan guru perlu melihat pola yang terjadi.
Apakah tangisan hanya berlangsung sesaat saat perpisahan?
Apakah anak kemudian mau bermain dan mengikuti kegiatan?
Atau apakah anak tetap tertekan sepanjang hari?
Pertanyaan tersebut membantu membedakan kesulitan adaptasi yang mulai membaik dengan keadaan yang membutuhkan bantuan tambahan.
Periksa juga kemungkinan masalah di sekolah, seperti konflik dengan teman, perlakuan yang membuat anak takut, atau kebutuhan yang belum terpenuhi.
Jangan menganggap semua penolakan masuk sekolah hanya karena anak terlalu melekat kepada orang tua.
Jika kecemasan berlangsung berat, semakin memburuk, atau membuat anak tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah, orang tua sebaiknya mencari bantuan.
Tanda lain yang perlu diperhatikan meliputi keluhan fisik berulang terkait keberangkatan sekolah, ketakutan yang sangat intens, atau gangguan tidur yang bermakna.
Child Mind Institute menyarankan evaluasi lebih lanjut ketika kesulitan berpisah berlanjut dan mengganggu kehadiran maupun kegiatan sekolah.
Orang tua dapat memulai dengan berdiskusi bersama guru dan dokter anak atau profesional kesehatan mental anak sesuai kebutuhan.
Baca Juga: Anak Sering Cemas dan Mudah Menangis?
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir