Parenting
M. Panji Maulana

Anak Sering Cemburu kepada Adiknya? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Sibling Rivalry

Anak Sering Cemburu kepada Adiknya? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Sibling Rivalry

08 November 2026 | 11:15

Anak Merasa Tersaingi dalam Prestasi atau Kemampuan

Persaingan antarsaudara tidak selalu berkaitan dengan perhatian orang tua.

Pada anak yang lebih besar, kecemburuan dapat muncul ketika saudara lainnya memperoleh prestasi, pujian, atau penghargaan.

Misalnya, kakak merasa kurang dihargai karena adiknya selalu mendapat nilai bagus. Sebaliknya, adik dapat merasa tidak percaya diri ketika terus dibandingkan dengan kakak yang lebih berprestasi.

Jika orang tua terlalu sering membandingkan pencapaian, hubungan saudara dapat berubah menjadi persaingan untuk mendapatkan pengakuan.

Karena itu, setiap anak perlu dihargai berdasarkan perkembangan dan kemampuannya sendiri.

6. Anak Belum Mampu Mengungkapkan Perasaan dengan Tepat

Sebagian anak belum mempunyai kemampuan bahasa dan pengelolaan emosi yang cukup untuk menjelaskan kecemburuannya.

Mereka mungkin tidak mengatakan bahwa dirinya merasa tersisih, tetapi menunjukkan perilaku seperti menangis, berteriak, mengganggu adik, atau meminta perhatian secara berlebihan.

Pada anak yang lebih kecil, kecemburuan juga dapat muncul melalui perilaku agresif atau kemunduran keterampilan yang sebelumnya sudah dikuasai.

Orang tua perlu membantu anak mengenali perasaan tersebut dan mengajarkan cara menyampaikannya melalui kata-kata.

7. Anak Mempunyai Kebutuhan Perhatian yang Berbeda

Setiap anak mempunyai karakter dan kebutuhan emosional yang tidak selalu sama.

Ada anak yang senang mendapatkan perhatian melalui percakapan, ada yang membutuhkan pelukan, dan ada pula yang merasa dihargai ketika diajak melakukan aktivitas bersama.

Jika orang tua hanya menggunakan satu pendekatan untuk seluruh anak, sebagian kebutuhan mungkin tidak terpenuhi.

Karena itu, memahami karakter masing-masing anak menjadi bagian penting dalam mencegah persaingan yang tidak sehat.

Tanda-Tanda Anak Mengalami Sibling Rivalry

Kecemburuan tidak selalu disampaikan secara langsung. Sebagian anak menunjukkan perasaan tersebut melalui perubahan perilaku.

Menurut IDAI dan Kementerian Kesehatan RI, persaingan antarsaudara dapat terlihat melalui reaksi emosional, perilaku regresif, hingga tindakan agresif.

Berikut beberapa tanda yang dapat diperhatikan orang tua.

Tanda PerilakuContoh yang Dapat Terjadi
Sering mencari perhatianMengganggu orang tua ketika sedang mengurus adik
Mudah marah kepada saudaraKesal ketika adik mendapat mainan baru
Sering membandingkan diriMengatakan orang tua lebih menyayangi adik
Perilaku regresifKembali meminta botol susu atau ingin digendong seperti bayi
Menolak berbagiTidak mengizinkan adik menggunakan mainannya
Mengganggu adikSengaja mengambil barang atau merusak permainan
Menarik diriTidak mau terlibat dalam kegiatan bersama keluarga
Perilaku agresifMendorong, mencubit, memukul, atau menggigit saudara

Tidak semua tanda tersebut otomatis menunjukkan sibling rivalry. Orang tua perlu melihat konteks, frekuensi, intensitas, dan perubahan perilaku anak.

Misalnya, seorang kakak yang meminta digendong kembali setelah adiknya lahir mungkin sedang mencari rasa aman, bukan sengaja bersikap manja.

Apakah Sibling Rivalry Termasuk Hal yang Normal?

Dalam batas tertentu, perselisihan antarsaudara merupakan bagian dari dinamika hubungan keluarga.

IDAI menjelaskan bahwa persaingan dapat menjadi salah satu tahap yang mendukung perkembangan sosial dan emosional anak.

Melalui konflik sederhana, anak dapat belajar:

  • Mengenali perasaan sendiri dan orang lain.
  • Menyampaikan keinginan dan ketidaksetujuan.
  • Menunggu giliran.
  • Bernegosiasi.
  • Memahami batasan pribadi.
  • Menyelesaikan masalah bersama.

Namun, perselisihan yang terus-menerus tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang pasti akan hilang dengan sendirinya.

Orang tua perlu memberikan pendampingan apabila konflik mulai mengganggu kenyamanan, keselamatan, atau hubungan emosional anak.

IDAI juga mengingatkan bahwa sibling rivalry yang berlebihan, terutama jika melibatkan perilaku agresif, berteriak terus-menerus, melempar barang, atau menyakiti secara fisik, memerlukan perhatian dan penanganan lebih lanjut.

8 Cara Mengatasi Anak yang Cemburu kepada Adiknya

Mengatasi kecemburuan antarsaudara membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Orang tua perlu memastikan bahwa setiap anak merasa dihargai tanpa harus bersaing untuk mendapatkan kasih sayang.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.

1. Luangkan Waktu Khusus untuk Setiap Anak

Anak membutuhkan pengalaman bahwa dirinya tetap mempunyai hubungan khusus dengan orang tua, meskipun kini harus berbagi perhatian dengan saudara.

Orang tua dapat menyediakan waktu khusus untuk masing-masing anak, meskipun hanya 10–15 menit setiap hari apabila memungkinkan.

Contohnya:

  • Membacakan buku bersama kakak.
  • Bermain permainan kesukaan adik.
  • Mengajak anak berjalan-jalan.
  • Mengobrol sebelum tidur.
  • Melakukan kegiatan sederhana sesuai minat masing-masing.

Selama waktu tersebut, usahakan perhatian diberikan secara penuh tanpa terlalu banyak gangguan.

IDAI dan UNICEF menekankan pentingnya menyediakan waktu individual untuk membantu anak merasa tetap diperhatikan ketika keluarga mengalami perubahan.

2. Jangan Membandingkan Kakak dan Adik

Hindari membandingkan nilai, kemampuan, perilaku, maupun karakter anak.

Contohnya:

  • "Adik lebih pintar daripada kakak."
  • "Kakak seharusnya lebih mandiri."
  • "Lihat adik, tidak pernah membuat masalah."
  • "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"

Perbandingan tersebut dapat membuat anak merasa harus bersaing untuk mendapatkan pengakuan.

Sebaliknya, berikan apresiasi berdasarkan usaha dan perkembangan masing-masing.

Katakan kepada kakak, "Ibu senang melihat kamu semakin mandiri."

Katakan kepada adik, "Bagus, kamu sudah berusaha merapikan mainan sendiri."

Dengan begitu, setiap anak mempunyai ruang untuk berkembang tanpa harus mengalahkan saudaranya.

3. Jangan Selalu Meminta Kakak Mengalah

Usia yang lebih tua tidak berarti anak harus selalu mengalah.

Ketika terjadi perebutan mainan, orang tua perlu memahami siapa yang sedang menggunakannya dan bagaimana konflik terjadi.

Jika kakak sedang menggunakan mainan miliknya, adik perlu belajar menghormati batasan tersebut.

Sebaliknya, jika adik sedang menggunakan mainan bersama, kakak juga perlu belajar menunggu giliran.

Gunakan aturan yang berlaku untuk keduanya secara konsisten.

Dengan cara tersebut, anak belajar bahwa setiap anggota keluarga mempunyai hak dan tanggung jawab yang perlu dihormati.

4. Bantu Anak Mengenali dan Mengungkapkan Perasaan

Ketika anak menunjukkan kecemburuan, jangan langsung memarahinya.

Bantu anak mengenali apa yang sedang dirasakan.

Contohnya:

"Kakak sedih karena Ibu sedang menggendong adik?"

"Kamu merasa tidak diperhatikan ketika Ayah bermain dengan adik?"

"Adik kesal karena mainannya diambil?"

Setelah anak mulai memahami perasaannya, ajarkan cara menyampaikan kebutuhan secara tepat.

Misalnya, anak dapat mengatakan, "Aku juga ingin bermain dengan Ibu."

Cara tersebut membantu anak memahami bahwa perasaan cemburu boleh diungkapkan, tetapi tidak boleh dilampiaskan dengan menyakiti saudara.

5. Libatkan Anak dalam Kegiatan Bersama Adiknya

Melibatkan kakak dalam aktivitas bersama adik dapat membantu membangun hubungan positif.

Misalnya, kakak dapat membantu memilih pakaian adik, mengambilkan popok, membacakan buku, atau menunjukkan mainan.

Namun, jangan menjadikan kakak sebagai pengasuh utama yang harus bertanggung jawab atas kebutuhan adiknya.

Berikan pilihan agar anak merasa dilibatkan tanpa dipaksa.

Jika kakak tidak ingin membantu pada saat tertentu, hormati keinginannya selama tidak membahayakan siapa pun.

Tujuannya adalah membangun kedekatan, bukan memberikan tanggung jawab orang dewasa kepada anak.

6. Berikan Apresiasi ketika Anak Berinteraksi dengan Baik

Orang tua sering kali baru memberikan perhatian ketika anak bertengkar.

Padahal, perilaku positif juga perlu mendapatkan pengakuan.

Ketika kakak dan adik bermain bersama, berbagi, atau membantu satu sama lain, berikan apresiasi yang jelas.

Contohnya:

"Ibu senang melihat kalian bisa bermain bersama."

"Terima kasih sudah membantu adik mengambil bukunya."

"Kalian tadi berhasil bergantian menggunakan mainan."

Pujian yang spesifik membantu anak memahami perilaku yang diharapkan dan dapat memperkuat interaksi positif.

7. Ajarkan Cara Menyelesaikan Konflik secara Bersama

Ketika anak bertengkar, orang tua sebaiknya tidak langsung menentukan siapa yang salah tanpa mendengarkan kedua pihak.

Jika situasi mulai memanas, pisahkan anak terlebih dahulu untuk memastikan keselamatan.

Setelah keduanya lebih tenang, dengarkan penjelasan masing-masing.

Kemudian bantu mereka mencari solusi.

Misalnya, jika terjadi perebutan mainan, orang tua dapat mengajak anak menentukan giliran bermain menggunakan waktu yang disepakati.

Anak juga perlu belajar bahwa menyelesaikan konflik bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

8. Tunjukkan Kasih Sayang secara Konsisten

Setiap anak perlu mengetahui bahwa kasih sayang orang tua tidak berkurang meskipun jumlah anggota keluarga bertambah.

Ungkapkan kasih sayang melalui perhatian, pelukan, percakapan, dan keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari.

Jangan hanya menunjukkan kasih sayang ketika anak berprestasi atau berperilaku baik.

Anak perlu merasa diterima ketika sedang sedih, marah, kecewa, maupun mengalami kesulitan.

Konsistensi tersebut membantu membangun rasa aman sehingga anak tidak selalu merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua.

Bagaimana Mempersiapkan Kakak Sebelum Adik Lahir?

Kecemburuan dapat mulai muncul bahkan sebelum adik dilahirkan, terutama ketika anak mengetahui bahwa keluarga akan mempunyai anggota baru.

Karena itu, persiapan sebaiknya dilakukan sejak masa kehamilan.

UNICEF dan American Academy of Pediatrics memberikan sejumlah rekomendasi untuk membantu anak beradaptasi dengan kehadiran bayi baru.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Ceritakan mengenai kehadiran adik sejak dini.

Gunakan bahasa yang sederhana dan sesuai usia agar anak memahami bahwa keluarga akan mempunyai anggota baru.

2. Bacakan buku tentang hubungan kakak dan adik.

Cerita bergambar dapat membantu anak membayangkan kehidupan bersama bayi.

3. Libatkan anak dalam persiapan.

Ajak anak memilih perlengkapan sederhana atau membantu menyiapkan kamar adik sesuai kemampuannya.

4. Jelaskan perubahan rutinitas keluarga.

Berikan gambaran bahwa bayi membutuhkan perhatian lebih, termasuk waktu untuk menyusu, tidur, dan perawatan.

5. Hindari perubahan besar secara bersamaan.

Jika anak perlu pindah kamar atau beralih dari tempat tidur bayi, usahakan perubahan tersebut tidak dilakukan terlalu dekat dengan kelahiran adik.

6.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 4
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Parenting Sibling Rivalry anak cemburu pada adik hubungan kakak adik Pola Asuh Anak Psikologi Anak

Komentar Pengguna