KebonCinta.com – Memiliki lebih dari satu anak tentu membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Namun, di balik kebersamaan kakak dan adik, tidak jarang muncul perselisihan yang membuat orang tua harus turun tangan. Mulai dari berebut mainan, saling mengganggu, menangis ketika salah satu anak digendong, hingga merasa orang tua lebih menyayangi saudaranya.
Sebagian orang tua mungkin pernah mendengar kakak berkata, "Ibu sekarang lebih sayang adik," atau "Kenapa adik boleh, tetapi aku tidak boleh?" Ada pula anak yang tiba-tiba kembali meminta digendong, berbicara seperti bayi, atau menunjukkan perilaku yang sebelumnya sudah tidak dilakukan.
Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan sibling rivalry, yaitu persaingan atau kecemburuan yang terjadi antara saudara kandung. Perilaku ini cukup umum ditemukan dalam hubungan kakak dan adik, terutama ketika anak merasa harus bersaing untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau pengakuan dari orang tua.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa sibling rivalry dapat menjadi bagian dari perkembangan sosial dan emosional anak. Frekuensi serta tingkat perselisihan dipengaruhi oleh perbedaan usia, kepribadian, dan cara orang tua menghadapi konflik.
Meski demikian, bukan berarti setiap pertengkaran harus dibiarkan. Orang tua tetap perlu membantu anak memahami perasaan, menyelesaikan perselisihan, dan membangun hubungan yang saling menghargai.
Lantas, mengapa anak sering cemburu kepada adiknya? Apa saja tanda sibling rivalry dan bagaimana cara mengatasinya tanpa membuat salah satu anak merasa dianaktirikan? Berikut penjelasannya.
Sibling rivalry merupakan istilah dalam psikologi yang menggambarkan persaingan, kecemburuan, atau konflik antara saudara kandung.
Persaingan ini dapat muncul ketika anak merasa perhatian, kasih sayang, waktu, atau penghargaan dari orang tua harus dibagi dengan saudara lainnya.
Contohnya, seorang kakak yang sebelumnya selalu mendapatkan perhatian penuh dari ibu mulai merasa tersisih setelah adiknya lahir. Ketika ibu lebih sering menggendong bayi, kakak mungkin merasa kehilangan kedekatan yang sebelumnya dinikmati.
Pada anak yang usianya lebih besar, persaingan dapat muncul dalam bentuk berebut mainan, membandingkan prestasi, merasa tidak diperlakukan adil, atau ingin mendapatkan pengakuan yang sama dari orang tua.
Menurut IDAI, sibling rivalry dapat terjadi pada anak yang baru mempunyai adik maupun saudara kandung dengan usia yang berbeda-beda.
Perselisihan tersebut tidak selalu menunjukkan hubungan keluarga yang buruk. Dalam batas tertentu, konflik dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenali emosi, bernegosiasi, berbagi, dan menyelesaikan masalah.
Namun, apabila persaingan berkembang menjadi tindakan agresif, penghinaan, atau kekerasan yang berulang, orang tua perlu memberikan perhatian lebih serius.
Kecemburuan antara kakak dan adik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sebagian berkaitan dengan kebutuhan emosional, sedangkan lainnya muncul karena perbedaan tahap perkembangan dan pola interaksi keluarga.
Berikut beberapa penyebab yang perlu dipahami orang tua.
Ini merupakan salah satu penyebab yang sering muncul ketika keluarga baru mempunyai anak kedua.
Sebelum adik lahir, kakak mungkin terbiasa mendapatkan perhatian lebih banyak dari orang tua. Namun, setelah bayi hadir, sebagian besar waktu ibu dan ayah dapat tersita untuk mengurus kebutuhan adik.
Perubahan tersebut dapat membuat kakak merasa kehilangan posisi yang sebelumnya dimiliki dalam keluarga.
Misalnya, ketika ibu sedang menyusui adik, kakak tiba-tiba meminta digendong atau mengajak bermain. Jika permintaannya terus ditunda tanpa penjelasan, anak mungkin merasa tidak lagi menjadi prioritas.
Dalam kondisi tersebut, kecemburuan bukan berarti kakak tidak menyayangi adiknya. Bisa jadi ia hanya belum memahami perubahan perhatian dan rutinitas keluarga.
Perasaan diperlakukan tidak adil dapat memicu persaingan antarsaudara.
Contohnya, orang tua selalu membela adik karena dianggap masih kecil, sementara kakak terus diminta mengalah.
Ketika pola tersebut berlangsung berulang kali, kakak dapat merasa bahwa kebutuhan dan perasaannya tidak diperhatikan.
Sebaliknya, adik juga dapat merasa kurang mendapatkan perhatian apabila orang tua selalu menganggap kakak lebih penting atau lebih mampu.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa keadilan dalam pengasuhan bukan berarti memberikan perlakuan yang selalu sama, melainkan memenuhi kebutuhan setiap anak secara proporsional.
Kakak dan adik mempunyai kemampuan, kebutuhan, serta cara berpikir yang berbeda.
Anak usia prasekolah mungkin belum memahami bahwa adiknya masih membutuhkan bantuan lebih banyak. Sementara itu, anak yang lebih besar dapat merasa terganggu karena adiknya sering menyentuh barang pribadi atau mengikuti aktivitasnya.
Perbedaan perkembangan tersebut dapat menimbulkan konflik ketika masing-masing anak belum mampu memahami sudut pandang saudaranya.
Orang tua perlu menyesuaikan pendekatan berdasarkan usia dan kemampuan setiap anak.
Jangan memberikan tanggung jawab yang terlalu besar kepada kakak hanya karena ia lebih tua.
Kalimat seperti "Kamu kan kakaknya, harus mengalah" sering digunakan untuk menyelesaikan pertengkaran.
Dalam situasi tertentu, mengajarkan kakak untuk mengalah memang dapat membantu menyelesaikan masalah. Namun, jika selalu diterapkan kepada anak yang lebih tua, ia dapat merasa bahwa kepentingannya tidak pernah dipertimbangkan.
Kakak juga mempunyai hak untuk mempertahankan barang pribadi, menyampaikan ketidaksetujuan, dan memperoleh perlakuan yang adil.
Orang tua sebaiknya mengajarkan bergiliran, berbagi, dan menghormati batasan, bukan menjadikan usia sebagai alasan untuk selalu memenangkan adik.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir