Keboncinta.com-- Dunia pendidikan terus berubah seiring semakin cepatnya perkembangan teknologi. Kini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru bagi sekolah dan madrasah untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan generasi digital.
Perubahan tersebut juga mulai mendapat perhatian dalam pendidikan keagamaan. Kementerian Agama (Kemenag) mendorong pemanfaatan teknologi AI tidak hanya untuk membantu siswa belajar, tetapi juga untuk mendukung guru, tenaga kependidikan hingga aparatur di lingkungan kementerian.
Jika diterapkan dengan tepat, AI berpotensi membantu mempercepat pekerjaan, memperkaya materi pembelajaran, sekaligus membuka cara baru dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih interaktif.
Namun, pemanfaatan AI juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia. Teknologi tidak cukup hanya tersedia, tetapi harus diiringi kemampuan untuk menggunakannya secara tepat, aman dan bertanggung jawab.
Baca Juga: KMA 737 Tahun 2026 Terbit, Guru Madrasah Wajib Cek Linearitas Ijazah dan Sertifikat Pendidik
Salah satu teknologi yang mulai mendapat perhatian adalah AI generatif. Teknologi ini berpotensi membantu guru dalam menyiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran.
Guru dapat memanfaatkannya untuk mencari referensi, mengembangkan ide materi, menyusun bahan pembelajaran hingga menciptakan aktivitas yang lebih interaktif.
Dengan dukungan teknologi tersebut, guru memiliki lebih banyak pilihan untuk menyesuaikan materi dengan karakteristik peserta didik.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Muhammad Ali Ramdhani, menilai kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting agar lembaga pendidikan tetap relevan dengan perubahan zaman.
Pemanfaatan AI bukan berarti menggantikan peran guru. Sebaliknya, teknologi dapat ditempatkan sebagai alat bantu sehingga pendidik memiliki lebih banyak ruang untuk menjalankan fungsi utama dalam membimbing dan mendampingi peserta didik.
Transformasi digital di lingkungan pendidikan keagamaan tidak hanya diarahkan kepada peserta didik.
Guru menjadi salah satu kelompok yang berpotensi mendapatkan manfaat langsung dari pemanfaatan AI. Dengan penguasaan teknologi yang baik, guru dapat menggunakan AI untuk membantu berbagai pekerjaan persiapan pembelajaran.
Penggunaan tersebut tentu perlu dilakukan secara bijak. Hasil yang diberikan AI tetap perlu diperiksa, disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan dipastikan tidak bertentangan dengan prinsip pendidikan.
Karena itu, peningkatan literasi digital guru menjadi bagian penting dalam proses transformasi teknologi di madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan.
Baca Juga: Guru PPPK Menuju 2027 Bakal Dibiayai Pusat? Ini Perubahan Besar yang Sedang Dibahas
Penerapan AI tidak berhenti pada aktivitas belajar-mengajar.
Kemenag juga melihat peluang pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung pekerjaan tenaga kependidikan dan aparatur. Sejumlah aktivitas administratif, penyusunan laporan hingga pengelolaan informasi berpotensi menjadi lebih efisien dengan bantuan teknologi.
Jika pekerjaan administratif dapat dilakukan dengan lebih efektif, tenaga kependidikan dan aparatur dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menjalankan tugas yang membutuhkan perhatian dan pengambilan keputusan manusia.
Transformasi tersebut pada akhirnya diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga berdampak terhadap kualitas layanan pendidikan dan keagamaan.
Pengembangan ekosistem digital tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Kemenag mendorong kolaborasi lintas unit untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi praktik baik dalam pemanfaatan teknologi.
Pengalaman dari satu direktorat atau satuan pendidikan dapat menjadi pembelajaran bagi unit lainnya sehingga penerapan teknologi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Kerja sama dengan pihak eksternal juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Kemenag membuka ruang kemitraan dengan berbagai pihak di sektor teknologi, termasuk Canva Indonesia.
Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaedi menyampaikan bahwa pengalaman penerapan teknologi pada pendidikan umum dapat menjadi salah satu referensi untuk memperkuat integrasi teknologi di satuan pendidikan keagamaan.
Baca Juga: Formasi ASN Daerah Menuju 2027 Diperketat, Bagaimana Nasib PPPK Paruh Waktu?
Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan AI adalah memastikan teknologi tidak hanya dinikmati oleh sekolah atau madrasah yang memiliki fasilitas lengkap.
Kesenjangan akses teknologi dan kemampuan digital masih menjadi hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, penguatan kompetensi guru dan peserta didik perlu dilakukan secara bertahap dan merata.
Guru di berbagai daerah perlu mendapatkan kesempatan untuk memahami cara menggunakan AI, termasuk mengenali manfaat, keterbatasan dan risiko penggunaannya.
Begitu pula dengan peserta didik. Mereka tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memahami bagaimana menggunakan AI secara kritis, bertanggung jawab dan sesuai etika.
Masuknya AI ke pendidikan keagamaan membuka peluang besar untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif dan adaptif.
Namun, teknologi tetap merupakan alat. Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan aplikasi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan guru dalam mengarahkan proses belajar dan membangun karakter peserta didik.
Karena itu, pemanfaatan AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi pendidik, literasi digital dan nilai-nilai pendidikan.
Baca Juga: Beasiswa Unggulan 2026 Bisa Dipakai untuk Kuliah di Kampus Mana? Ini Ketentuannya
Jika dilakukan secara tepat, transformasi digital dapat membantu madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan tujuan utama pendidikan.
Ke depan, pemanfaatan AI di lingkungan Kemenag berpotensi semakin luas, mulai dari ruang kelas hingga pekerjaan administrasi. Tantangannya adalah memastikan seluruh ekosistem pendidikan memiliki kemampuan dan akses yang cukup untuk memanfaatkan teknologi tersebut secara aman dan bertanggung jawab.***