Beasiswa
M. Panji Maulana

7 Cara Mengatasi Siswa yang Sering Tidak Mengerjakan Tugas Tanpa Harus Menghukum

7 Cara Mengatasi Siswa yang Sering Tidak Mengerjakan Tugas Tanpa Harus Menghukum

29 Oktober 2026 | 10:07

KebonCinta.com – Menghadapi siswa yang sering tidak mengerjakan tugas menjadi salah satu tantangan yang cukup sering dialami guru. Ada siswa yang lupa mengumpulkan pekerjaan rumah, menunda tugas hingga batas waktu berakhir, bahkan berulang kali datang ke sekolah tanpa membawa hasil pekerjaan yang sudah diberikan.

Situasi tersebut terkadang membuat guru kesal, terutama apabila berbagai peringatan sudah disampaikan tetapi perilaku siswa belum juga berubah.

Namun, tidak semua siswa yang tidak mengerjakan tugas dapat langsung dianggap malas atau tidak bertanggung jawab. Sebagian mungkin belum memahami materi, kesulitan mengatur waktu, menghadapi keterbatasan fasilitas belajar, atau mengalami persoalan lain yang memengaruhi kegiatan belajarnya.

Karena itu, guru perlu menggunakan pendekatan yang tidak hanya menuntut kepatuhan, tetapi juga membantu siswa memahami tanggung jawab dan mengembangkan kebiasaan belajar yang lebih baik.

Berikut tujuh cara mengatasi siswa yang sering tidak mengerjakan tugas tanpa harus memberikan hukuman yang mempermalukan atau menimbulkan tekanan berlebihan.

Mengapa Siswa Sering Tidak Mengerjakan Tugas?

Sebelum menentukan tindakan, guru perlu mengetahui faktor yang menyebabkan tugas tidak diselesaikan.

Penyebabnya dapat berbeda antara satu siswa dengan siswa lainnya. Bahkan, seorang siswa bisa mengalami beberapa hambatan sekaligus.

Beberapa kemungkinan penyebab yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Belum memahami materi atau instruksi tugas.
  2. Kesulitan mengatur waktu dan menentukan prioritas.
  3. Terlalu banyak tugas dari beberapa mata pelajaran.
  4. Kurangnya motivasi atau tidak memahami manfaat tugas.
  5. Tidak mempunyai tempat atau fasilitas belajar yang memadai di rumah.
  6. Mengalami kesulitan konsentrasi, membaca, atau menulis.
  7. Menghadapi masalah keluarga, pergaulan, maupun tekanan emosional.

Penyebab tersebut tidak boleh ditetapkan hanya berdasarkan dugaan. Guru perlu melakukan pengamatan dan percakapan untuk memahami kondisi sebenarnya.

Education Endowment Foundation (EEF), melalui panduan Homework, menekankan pentingnya mempertimbangkan hambatan yang dialami siswa dalam menyelesaikan tugas, termasuk keterbatasan tempat belajar, perangkat, maupun dukungan di rumah.

Panduan tersebut juga menunjukkan bahwa kualitas dan keterkaitan tugas dengan pembelajaran lebih penting daripada sekadar banyaknya pekerjaan yang diberikan.

Dengan memahami penyebabnya, guru dapat menentukan tindakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Baca Juga: Anak Enggan Menulis Belum Tentu Malas, Guru dan Orang Tua Diminta Kenali Penyebabnya

1. Ajak Siswa Berbicara Secara Pribadi

Cara pertama yang dapat dilakukan adalah mengajak siswa berbicara tanpa mempermalukannya di hadapan teman-teman.

Guru sebaiknya tidak langsung memberikan label malas, nakal, atau tidak disiplin hanya karena siswa belum mengumpulkan tugas.

Percakapan pribadi memungkinkan siswa lebih leluasa menyampaikan kesulitan yang sedang dialami.

Misalnya, guru dapat mengawali pembicaraan dengan kalimat berikut:

"Bapak/Ibu melihat beberapa tugasmu belum selesai. Apakah ada bagian yang sulit kamu pahami atau sesuatu yang membuatmu kesulitan mengerjakannya?"

Pertanyaan seperti ini lebih membuka ruang dialog daripada langsung menuntut penjelasan dengan nada marah.

Selama percakapan, guru perlu mendengarkan jawaban siswa dan tidak terburu-buru memberikan penilaian.

Apabila siswa menyampaikan bahwa tugas terlalu sulit, guru dapat memeriksa pemahamannya. Jika masalahnya berkaitan dengan kondisi rumah, bentuk pendampingannya tentu berbeda.

Tujuan percakapan bukan untuk membenarkan semua alasan siswa, melainkan menemukan hambatan dan menyusun langkah perbaikan yang realistis.

2. Periksa Kembali Tingkat Kesulitan dan Kejelasan Tugas

Tidak semua tugas yang terlihat mudah bagi guru dapat diselesaikan dengan mudah oleh siswa.

Ada kemungkinan siswa belum menguasai materi prasyarat, tidak memahami petunjuk, atau kebingungan menentukan langkah pertama.

Oleh sebab itu, guru perlu memeriksa apakah tugas yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuan dan tujuan pembelajaran.

Sebagai contoh, pada mata pelajaran Matematika, siswa diminta menyelesaikan sepuluh soal persamaan linear.

Jika sebagian siswa tidak mengerjakan tugas, guru dapat memeriksa apakah mereka telah memahami contoh penyelesaian dan operasi hitung yang diperlukan.

Apabila belum, guru dapat memberikan satu contoh soal yang diselesaikan bersama sebelum meminta siswa mengerjakan soal secara mandiri.

Langkah serupa dapat diterapkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Arab, IPA, atau mata pelajaran lainnya.

Guru juga perlu menyampaikan instruksi dengan jelas, termasuk bentuk pekerjaan yang diminta, cara mengumpulkan, dan batas waktunya.

Penyesuaian tugas bukan berarti menghilangkan tantangan pembelajaran. Tujuannya membantu siswa mencapai kompetensi yang sama melalui dukungan yang sesuai kebutuhannya.

3. Bagi Tugas Besar Menjadi Beberapa Tahapan Kecil

Sebagian siswa kesulitan memulai tugas karena merasa pekerjaan yang diberikan terlalu banyak atau rumit.

Untuk mengatasi hal tersebut, guru dapat membagi tugas menjadi beberapa bagian yang lebih mudah dikelola.

Misalnya, siswa diminta membuat laporan hasil pengamatan lingkungan sekolah.

Daripada hanya memberikan instruksi untuk mengumpulkan laporan lengkap pada akhir minggu, guru dapat membaginya menjadi beberapa tahapan:

  • Hari pertama: menentukan objek pengamatan.
  • Hari kedua: mencatat hasil pengamatan.
  • Hari ketiga: menyusun kerangka laporan.
  • Hari keempat: menulis laporan lengkap.
  • Hari kelima: memeriksa dan mengumpulkan hasil pekerjaan.

Pembagian tersebut membantu siswa mengetahui pekerjaan yang perlu dilakukan setiap hari.

Guru juga dapat menggunakan daftar cek sederhana agar siswa dapat menandai tahapan yang sudah selesai.

Strategi ini sekaligus melatih keterampilan mengatur waktu, memantau kemajuan, dan menyelesaikan pekerjaan secara bertahap.

Bagi siswa yang sangat kesulitan memulai, guru dapat mendampinginya menyelesaikan langkah pertama sebelum melanjutkan pekerjaan secara mandiri.

4. Berikan Kesempatan dan Fasilitas untuk Menyelesaikan Tugas

Guru perlu memahami bahwa kondisi belajar siswa di rumah tidak selalu sama.

Sebagian memiliki ruang belajar yang nyaman, perangkat memadai, dan orang tua yang dapat mendampingi. Sebagian lainnya mungkin berbagi perangkat dengan anggota keluarga atau tidak mempunyai tempat yang tenang untuk belajar.

Karena itu, pemberian tugas sebaiknya mempertimbangkan kesenjangan fasilitas dan kesempatan belajar.

Salah satu alternatifnya adalah menyediakan waktu terbatas di sekolah bagi siswa yang membutuhkan dukungan tambahan.

Misalnya, guru dapat membuka sesi pendampingan selama 15–20 menit setelah kegiatan pembelajaran, sepanjang sesuai dengan jadwal dan ketentuan sekolah.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dapat mengajukan pertanyaan, meminjam bahan belajar yang tersedia, atau menyelesaikan bagian tugas yang belum dikerjakan.

Bagi sekolah yang mempunyai perpustakaan atau ruang belajar bersama, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendampingan.

Pendekatan ini sejalan dengan panduan EEF yang menyarankan sekolah mempertimbangkan dukungan belajar di lingkungan sekolah bagi murid yang mengalami keterbatasan sumber daya di rumah.

Bantuan yang diberikan perlu dirancang sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai hukuman tambahan.

5. Gunakan Target Sederhana dan Pantau Perkembangan Siswa

Siswa yang berulang kali tidak mengerjakan tugas membutuhkan pendampingan yang konsisten.

Guru dapat membantu siswa menyusun target sederhana yang realistis dan dapat dievaluasi.

Sebagai contoh, seorang siswa telah melewatkan empat tugas dalam dua minggu terakhir.

Daripada langsung memintanya menyelesaikan seluruh tugas sekaligus tanpa bantuan, guru dapat mendiskusikan urutan pekerjaan yang perlu diprioritaskan.

Target awalnya dapat berupa menyelesaikan satu tugas yang paling penting dalam waktu yang disepakati, lalu melanjutkan pekerjaan berikutnya secara bertahap.

Guru dapat menggunakan catatan pemantauan dengan informasi sederhana, seperti tanggal, nama tugas, kendala, target penyelesaian, dan hasil tindak lanjut.

Setiap kemajuan perlu diperhatikan, termasuk ketika siswa mulai lebih teratur mencatat tugas, mencoba mengerjakan secara mandiri, atau berani bertanya ketika mengalami kesulitan.

Apresiasi sebaiknya diarahkan pada usaha dan perubahan perilaku yang nyata.

Misalnya:

"Bapak/Ibu melihat minggu ini kamu sudah menyelesaikan tugas tepat waktu. Pertahankan kebiasaan ini, ya."

Apresiasi tersebut membantu siswa memahami perilaku positif yang perlu dipertahankan.

6. Bangun Tanggung Jawab Melalui Refleksi, Bukan Ancaman

Mengatasi siswa yang tidak mengerjakan tugas tanpa hukuman bukan berarti membebaskan siswa dari tanggung jawab.

Guru tetap perlu menegaskan pentingnya menyelesaikan pekerjaan dan mematuhi kesepakatan belajar.

Perbedaannya terletak pada cara membimbing siswa memahami konsekuensi dari tindakannya.

Misalnya, seorang siswa berulang kali tidak mengerjakan tugas karena memilih bermain gim hingga larut malam.

Guru dapat mengajaknya merefleksikan kebiasaan tersebut dengan beberapa pertanyaan:

  • Apa yang membuat tugasmu belum selesai?
  • Bagaimana kamu membagi waktu setelah pulang sekolah?
  • Apa akibatnya jika pekerjaan terus ditunda?
  • Perubahan apa yang ingin kamu coba mulai minggu ini?

Setelah itu, guru dan siswa dapat menyepakati tindakan perbaikan, seperti membuat jadwal belajar, membatasi aktivitas yang mengganggu, atau menentukan waktu khusus untuk mengerjakan tugas.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Pasal 19 mengatur pengelolaan kelas melalui kesepakatan bersama yang memuat nilai kebajikan, interaksi saling menghargai, dan tindakan pembinaan yang mendidik.

Dengan demikian, disiplin tidak hanya diarahkan pada kepatuhan sesaat, tetapi juga pembentukan kebiasaan dan kesadaran untuk bertanggung jawab.

Guru tetap dapat menerapkan aturan sekolah secara proporsional, tetapi perlu menghindari hukuman fisik, penghinaan, ancaman, atau tindakan yang merendahkan martabat siswa.

Baca Juga: Etika Memberi Hukuman pada Siswa: Mengubah "Punishment" Menjadi Momen Refleksi yang Membangun Karakter

7. Libatkan Orang Tua dan Guru Wali Jika Masalah Berulang

Apabila berbagai langkah telah dilakukan tetapi siswa masih sering tidak menyelesaikan tugas, guru perlu mempertimbangkan pendampingan bersama pihak lain.

Komunikasi dengan orang tua dapat membantu guru mengetahui situasi belajar anak di rumah.

Namun, komunikasi tersebut sebaiknya tidak hanya berisi keluhan tentang perilaku siswa.

Guru dapat menyampaikan kondisi yang diamati, langkah pendampingan yang sudah dilakukan, dan bentuk dukungan yang dibutuhkan.

Sebagai contoh:

"Bapak/Ibu, kami sedang membantu anak membangun kebiasaan menyelesaikan tugas. Beberapa tugas terakhir belum dikumpulkan. Apakah ada kendala belajar di rumah yang perlu kami pahami agar pendampingannya lebih sesuai?"

Pertanyaan tersebut membuka kesempatan bagi orang tua untuk berbagi informasi tanpa merasa langsung disalahkan.

Guru juga dapat berkoordinasi dengan wali kelas, guru wali, atau guru bimbingan dan konseling sesuai kebutuhan dan struktur sekolah.

Jika ditemukan indikasi kesulitan belajar yang menetap atau persoalan psikologis yang membutuhkan perhatian khusus, sekolah perlu mempertimbangkan dukungan dari tenaga profesional yang kompeten.

Guru tidak seharusnya menetapkan diagnosis hanya berdasarkan kebiasaan siswa yang tidak mengerjakan tugas.

Panduan EEF mengenai kerja sama dengan orang tua menekankan bahwa keterlibatan keluarga akan lebih bermanfaat apabila sekolah mempunyai tujuan yang jelas dan membangun hubungan komunikasi yang mendukung pembelajaran.

Contoh Penanganan Siswa yang Tidak Mengerjakan Tugas Selama Dua Minggu

Agar tujuh strategi tersebut lebih mudah dipahami, berikut ilustrasi penerapannya dalam situasi sekolah.

Seorang siswa kelas VIII bernama Andi (nama ilustratif) tercatat tidak mengumpulkan tiga tugas Matematika dan dua tugas Bahasa Indonesia.

Guru kemudian menyusun langkah pendampingan selama dua minggu.

Minggu Pertama: Identifikasi dan Pendampingan

Hari Senin, guru mengajak Andi berbicara secara pribadi. Dari percakapan diketahui bahwa ia kesulitan memahami beberapa tugas dan sering menunda pekerjaan.

Hari Selasa, guru membantu Andi menentukan pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Hari Rabu dan Kamis, Andi diberi kesempatan mengerjakan bagian tugas yang belum selesai melalui pendampingan singkat.

Hari Jumat, guru mengevaluasi kemajuan dan mendiskusikan kendala yang masih dihadapi.

Minggu Kedua: Pembiasaan dan Evaluasi

Pada minggu berikutnya, Andi diminta mencatat setiap tugas baru, menentukan waktu pengerjaan, dan memeriksa hasilnya sebelum dikumpulkan.

Guru memantau apakah ia mulai menyelesaikan pekerjaan tanpa perlu terus-menerus diingatkan.

Jika kemajuan terlihat, pendampingan dapat dikurangi secara bertahap agar siswa semakin mandiri.

Apabila hambatan masih berulang, guru perlu meninjau kembali penyebabnya dan berkoordinasi dengan pihak yang relevan.

Contoh ini merupakan ilustrasi strategi pendampingan, bukan hasil penelitian atau prosedur baku yang wajib diterapkan pada setiap sekolah.

Format Sederhana Pemantauan Tugas Siswa

Guru dapat menggunakan format berikut untuk mendokumentasikan pendampingan secara individual.

LEMBAR PEMANTAUAN PENYELESAIAN TUGAS

Nama Siswa: ..........................................

Kelas: ..........................................

Mata Pelajaran: ..........................................

Periode Pemantauan: ..........................................

A.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
siswa tidak mengerjakan tugas cara mengatasi siswa tugas sekolah Disiplin Positif Strategi guru Motivasi Belajar

Komentar Pengguna