Keboncinta.com – Jakarta. Anak yang menangis, menghindar, atau membutuhkan waktu sangat lama ketika mengerjakan tugas menulis belum tentu sedang bersikap malas. Kesulitan tersebut dapat muncul karena hambatan yang berkaitan dengan kemampuan motorik, bahasa, konsentrasi, maupun kondisi lingkungan belajar.
Persoalan itu menjadi pembahasan dalam kegiatan bedah buku Menulis Tanpa Menangis yang diselenggarakan Pusat Perbukuan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, di Perpustakaan Kemendikdasmen, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.
Buku tersebut mengajak guru dan orang tua mengenali penyebab kesulitan menulis sebelum memberikan lebih banyak tugas atau menyimpulkan bahwa anak kurang rajin.
Kesulitan menulis pada anak tidak selalu terlihat dalam bentuk tulisan yang sulit dibaca. Sejumlah anak dapat menulis dengan rapi, tetapi membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan teman sekelasnya.
Sebagian anak lainnya terlalu kuat menekan pensil hingga tulisan menembus beberapa halaman. Ada pula anak yang kesulitan memberikan jarak antarkata, menyalin tulisan dari papan, menerima dikte, mengeja, membentuk huruf, atau menuangkan gagasan menjadi sebuah karangan.
Penulis buku Menulis Tanpa Menangis, Ossy Firstanti Wardany dan Dirham Gumawang Andipurnama, menjelaskan bahwa hambatan dapat muncul sejak tahap pramenulis, menulis permulaan, mengeja, hingga menulis lanjutan.
Dalam keterangan resmi Kemendikdasmen, faktor internal yang dapat memengaruhi antara lain kemampuan motorik, perkembangan bahasa, fungsi eksekutif, intelektual, disgrafia, disleksia, ADHD, autisme, dan kebutuhan khusus lainnya.
Faktor lingkungan, termasuk metode pembelajaran, suasana kelas, tekanan yang diterima anak, serta pendampingan guru dan orang tua juga dapat berpengaruh.
Daftar tersebut bukan alat untuk mendiagnosis anak secara mandiri. Guru dan orang tua tetap perlu melakukan pengamatan serta berkonsultasi dengan tenaga yang berkompeten apabila kesulitan berlangsung terus-menerus dan mengganggu kegiatan belajar.
Ketika seorang murid tertinggal dalam menulis, respons yang sering diberikan adalah menambah latihan atau meminta anak menulis lebih cepat. Cara tersebut belum tentu menyelesaikan masalah jika penyebab utamanya belum diketahui.
Guru kelas III sebuah sekolah dasar negeri di Depok, Redha, membagikan pengalamannya menangani murid yang membutuhkan waktu lama untuk menulis dan kesulitan memberi jarak antarkata.
Murid tersebut ditempatkan di bagian depan kelas agar lebih mudah melihat materi. Guru juga memberikan salinan soal sehingga murid tidak harus terus-menerus memindahkan pandangan antara papan tulis dan buku.
Untuk membantu membuat jarak antarkata, guru menggunakan stik es krim atau ruas jari sebagai penanda. Waktu pengerjaan juga disesuaikan dengan kemampuan murid.
Setelah penyesuaian tersebut, anak yang sebelumnya dapat menangis beberapa kali dalam sehari ketika menghadapi tugas menulis mulai menunjukkan perubahan dan mampu menyelesaikan sebagian besar catatannya.
Contoh lain ditemukan pada murid yang cepat merasa lelah karena menekan pensil terlalu kuat. Tekanan tersebut membuat tulisan menembus beberapa halaman sekaligus.
Guru kemudian memperbesar bagian pegangan pensil menggunakan kain perca atau pencil grip. Penyesuaian sederhana itu membantu murid memegang pensil dengan lebih nyaman dan mengurangi tekanan ketika menulis.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesulitan menulis tidak selalu harus ditangani dengan latihan dalam jumlah lebih banyak. Perubahan alat tulis, posisi duduk, jarak pandang, pencahayaan, jumlah materi yang disalin, dan waktu pengerjaan dapat memberikan dampak penting.
Beberapa kondisi yang dapat diperhatikan ketika mendampingi anak belajar menulis antara lain:
Anak sering menangis atau terlihat sangat tertekan ketika diminta menulis;
Membutuhkan waktu sangat lama untuk menyalin tulisan;
Kesulitan memegang dan menggerakkan pensil;
Menekan pensil terlalu kuat atau terlalu lemah;
Ukuran huruf terlalu besar, kecil, atau keluar dari garis;
Tidak mampu memberikan jarak yang konsisten antarkata;
Kesulitan menerima dikte atau mengeja kata;
Mudah kehilangan konsentrasi ketika menulis;
Tulisan dapat dibaca, tetapi prosesnya sangat lambat; dan
Kesulitan menuangkan gagasan meskipun mampu menjelaskannya secara lisan.
Guru perlu melihat pola yang muncul dan tidak hanya menilai hasil akhir tulisan. Catatan mengenai situasi, jenis tugas, lama pengerjaan, dan respons anak dapat membantu menentukan bentuk pendampingan berikutnya.
Kepala Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Supriyatno, menilai kemampuan menulis menjadi bagian penting dalam penerapan Pembelajaran Mendalam.
Murid tidak hanya diminta menerima informasi, tetapi juga memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali materi menggunakan bahasanya sendiri. Karena itu, menulis seharusnya menjadi kegiatan belajar yang bermakna, bukan hukuman.
Guru dan orang tua juga perlu menghindari membandingkan kecepatan menulis seorang anak dengan anak lain. Setiap murid dapat memiliki tahap perkembangan, hambatan, dan kebutuhan pendampingan yang berbeda.
Buku Menulis Tanpa Menangis dapat diakses melalui platform resmi Sistem Informasi Perbukuan Indonesia. Buku yang ditulis berdasarkan observasi dan temuan di sekolah tersebut memuat sejumlah contoh kasus beserta alternatif penanganannya.
Melalui pendekatan yang lebih tepat, kegiatan menulis yang sebelumnya menjadi sumber tekanan diharapkan dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi murid.