Ibnu Qayyim (Zฤd al-Ma’ฤd): Rasulullah ๏ทบ berpaling beberapa kali sebagai bentuk kasih sayang, memberi kesempatan bagi Ma’iz untuk menarik kembali pengakuannya, tetapi ia tetap mengulanginya dengan yakin.
Imam Malik (al-Muwaththa’): Menyebutkan bahwa hukuman rajam dalam kasus ini adalah bukti penegakan syariat sekaligus bentuk penyucian dosa bagi pelaku yang bertaubat dengan jujur.
ุงููุต:
ุนููู ุนูู
ูุฑูุงูู ุจููู ุญูุตููููู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู:
ุฃูููู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ู
ููู ุงููุบูุงู
ูุฏููููุฉู ุฃูุชูุชู ุงููููุจูููู ๏ทบ ููููุงููุชู: ุฅููููู ุฒูููููุชูุ ููุฃูู
ูุฑูููุง ุฃููู ุชูุฑูุฌูุนู ุญูุชููู ุชูููุฏูุ ุซูู
ูู ุญูุชููู ุชูููุทูู
ู ููููุฏูููุงุ ุซูู
ูู ุฃูู
ูุฑู ุจูููุง ููุฑูุฌูู
ูุชู
(ุฑูุงู ู
ุณูู
ุฑูู
1696)
Artinya:
Dari Imran bin Husain radhiyallฤhu ‘anhu: “Seorang wanita dari suku Ghamidiyah datang kepada Nabi ๏ทบ lalu berkata: Sesungguhnya aku telah berzina. Maka beliau memerintahkannya untuk kembali hingga ia melahirkan. Kemudian hingga ia menyapih anaknya. Setelah itu beliau memerintahkan (hukuman) atasnya, maka wanita itu pun dirajam.”
Penafsiran Ulama:
Ibnu Qudฤmah (al-Mughnฤซ): Menekankan bahwa hukuman hudud tidak boleh mengabaikan hak anak. Karena itu, Rasulullah ๏ทบ menunda pelaksanaan hingga sang anak lahir dan selesai disapih.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Bulลซgh al-Marฤm): Menyebut hadis ini sebagai bukti bahwa pelaksanaan hudud memperhatikan aspek kemaslahatan sosial, terutama hak anak yang tidak boleh terabaikan.
Al-Qurแนญubฤซ (al-Tamhฤซd): Menjelaskan bahwa Nabi ๏ทบ tidak terburu-buru menegakkan hukuman, melainkan mendahulukan kasih sayang dan tanggung jawab seorang ibu terhadap anaknya.
ุงููุต:
ุนููู ุงุจููู ุนูุจููุงุณู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนูููููู
ูุงุ ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ๏ทบ:
«ุฅูุฐูุง ุธูููุฑู ุงูุฒููููุง ููุงูุฑููุจูุง ููู ููุฑูููุฉูุ ููููุฏู ุฃูุญูููููุง ุจูุฃูููููุณูููู
ู ุนูุฐูุงุจู ุงูููููู»
(ุฑูุงู ุงูุทุจุฑุงูู ูู ุงูุฃูุณุทุ ูุตุญุญู ุงูุญุงูู
)
Artinya:
Dari Ibnu Abbas radhiyallฤhu ‘anhumฤ, Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Apabila zina dan riba telah tampak di suatu negeri, maka sungguh penduduknya telah mengundang azab Allah atas diri mereka sendiri.”
Penafsiran Ulama:
Ibn Abdil Barr (Jฤmi‘ Bayฤn al-‘Ilm): Menjelaskan bahwa zina dan riba adalah faktor utama turunnya azab, karena keduanya merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.
Al-Munawi (Faydh al-Qadฤซr): Menyebut bahwa dosa sosial seperti zina dan riba bukan hanya membinasakan individu, tetapi menjadi sebab kehancuran peradaban.
ุงููุต:
«ููุง ููุฒูููู ุงูุฒููุงููู ุญูููู ููุฒูููู ูููููู ู
ูุคูู
ููู»
(ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู 2475 ูู
ุณูู
57)
Artinya:
“Tidaklah seorang pezina berzina dalam keadaan ia berzina, melainkan ia sedang tidak beriman.”
Penafsiran Ulama:
Imam Nawawi (Syarh Muslim): Menjelaskan bahwa iman pelaku zina lenyap saat perbuatan dilakukan, namun tidak sampai mengeluarkan dari Islam. Iman akan kembali bila ia bertaubat.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani (Fath al-Bฤrฤซ): Menafsirkan bahwa maksud hadis adalah iman yang sempurna hilang, bukan iman secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya zina yang menggerogoti inti keimanan.
Baca juga : Kewajiban Menjawab Salam dalam Islam, Lengkap dengan Dalil dan Hadis
ุงููุต:
«ุฅููููุงููู
ู ููุงูุฒููููุงุ ููุฅูููููู ููููู ุฃูุฑูุจูุนู ุฎูุตูุงูู: ููุฐูููุจู ุงููุจูููุงุกู ู
ููู ุงููููุฌูููุ ููููููุทูุนู ุงูุฑููุฒูููุ ููููุณูุฎูุทู ุงูุฑููุจููุ ููููุฎููููุฏู ููู ุงููููุงุฑู»
(ุฑูุงู ุงูุทุจุฑุงูู ูู ุงููุจูุฑ)
Artinya:
“Hindarilah zina, karena di dalamnya ada empat hal: menghilangkan cahaya dari wajah, memutus rezeki, membuat murka Allah, dan mengekalkan dalam neraka.”
Penafsiran Ulama:
Al-Muttaqi al-Hindi (Kanzul ‘Ummฤl): Menjelaskan bahwa hadis ini menggambarkan dampak dunia-akhirat dari zina: hilangnya karisma pelaku, rezekinya sempit, hidupnya jauh dari keberkahan, dan akhiratnya di neraka bila tidak bertaubat.
Ibnul Qayyim (ad-Da’ wad-Dawฤ’): Menegaskan bahwa zina adalah penyebab hilangnya wibawa dan berkah, karena ia mengundang murka Allah dan menghapus kebaikan amal lain.
ุงููุต:
ุนููู ุฃูุจูู ููุฑูููุฑูุฉู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู: ููุงูู ุฑูุณูููู ุงูููููู ๏ทบ:
«ุงุฌูุชูููุจููุง ุงูุณููุจูุนู ุงููู
ููุจูููุงุชู». ููุงูููุง: ููุง ุฑูุณูููู ุงููููููุ ููู
ูุง ูููููุ ููุงูู:
«ุงูุดููุฑููู ุจูุงููููููุ ููุงูุณููุญูุฑูุ ููููุชููู ุงููููููุณู ุงูููุชูู ุญูุฑููู
ู ุงูููููู ุฅููููุง ุจูุงููุญููููุ ููุฃููููู ุงูุฑููุจูุงุ ููุฃููููู ู
ูุงูู ุงููููุชููู
ูุ ููุงูุชูููููููู ููููู
ู ุงูุฒููุญูููุ ููููุฐููู ุงููู
ูุญูุตูููุงุชู ุงููุบูุงููููุงุชู ุงููู
ูุคูู
ูููุงุชู»
(ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู 2766 ูู
ุณูู
89)
Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallฤhu ‘anhu, Rasulullah ๏ทบ bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan.” Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “(1) Syirik kepada Allah, (2) Sihir, (3) Membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, (4) Memakan riba, (5) Memakan harta anak yatim, (6) Lari dari medan perang, dan (7) Menuduh wanita mukminah yang baik-baik lagi lengah dengan tuduhan zina.”
Penafsiran Ulama:
Adz-Dzahabi (al-Kabฤ’ir): Memasukkan zina sebagai salah satu dosa besar yang membinasakan, sejajar dengan syirik dan pembunuhan.
Ibnu Hajar al-Haitami (az-Zawฤjir ‘an Iqtirฤf al-Kabฤ’ir): Menjelaskan bahwa zina termasuk al-mลซbiqฤt (dosa-dosa yang membinasakan) karena merusak nasab, kehormatan, dan keamanan sosial.