Sebagian ulama turut menjelaskan praktik menggabungkan bacaan tersebut, misalnya membaca Surah Asy-Syams bersama Al-Kafirun pada rakaat pertama, kemudian Surah Ad-Dhuha bersama Al-Ikhlas pada rakaat kedua.
Namun, bacaan tersebut bukan satu-satunya pilihan. Umat Islam tetap boleh membaca surah lain yang dikuasai, sebab membaca surah tertentu bukan syarat sah shalat dhuha.
Baca Juga: Puasa Ramadhan Masih Ada yang Bolong? Ini Tata Cara Qadha dan Bacaan Niat yang Benar
Agar shalat dhuha menjadi kebiasaan, seseorang dapat memulainya dengan menetapkan waktu yang realistis. Misalnya, menyisihkan beberapa menit pada pagi hari sebelum berangkat bekerja, belajar, atau memulai kegiatan rumah tangga.
Tidak perlu langsung menetapkan jumlah rakaat yang banyak. Memulai dengan dua rakaat dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan, kemudian menambahnya sesuai kemampuan dan kesempatan.
Mengetahui jadwal matahari terbit di daerah masing-masing juga membantu menghindari pelaksanaan yang terlalu awal. Setelah itu, pilih waktu yang memungkinkan ibadah dilakukan dengan tenang tanpa mengabaikan kewajiban lain.
Pada akhirnya, shalat dhuha merupakan kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT di tengah rutinitas harian. Dengan memahami waktu pelaksanaan, jumlah rakaat, dan pilihan bacaannya, umat Islam dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih terarah. Wallahu a'lam bish-shawab.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir