Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Terpaksa Batal karena Tamu atau Jamuan Makan? Ketentuan Hukum Membatalkan Puasa Sunnah

Terpaksa Batal karena Tamu atau Jamuan Makan? Ketentuan Hukum Membatalkan Puasa Sunnah

04 November 2026 | 15:26

Ia juga tidak diwajibkan mengqadha puasa sunnah tersebut, meskipun dapat menggantinya di hari lain apabila ingin.

Ketentuan ini berbeda dari puasa wajib, seperti puasa Ramadan atau puasa qadha Ramadan, yang memiliki hukum tersendiri.

Perbedaan Puasa Sunnah dan Puasa Wajib

Perlu dipahami bahwa kelonggaran membatalkan puasa di tengah hari hanya berkaitan dengan puasa sunnah. Puasa wajib tidak boleh dibatalkan dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Jenis puasaKetentuan membatalkan
Puasa sunnahBoleh dibatalkan, tetapi tanpa uzur hukumnya makruh menurut mazhab Syafi’i
Puasa RamadanTidak boleh dibatalkan tanpa uzur syar’i
Puasa qadha RamadanTidak boleh dibatalkan dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan
Puasa nazarMemiliki ketentuan wajib yang perlu dipenuhi sesuai jenis nazar

Dengan demikian, seseorang perlu memastikan jenis puasa yang sedang dijalankan sebelum memutuskan untuk membatalkannya.

Baca Juga: Manfaat Puasa Sunnah Senin dan Kamis: Ibadah Ringan, Dampaknya Mendalam 

Kesimpulan

Puasa sunnah boleh dibatalkan di tengah hari menurut mazhab Syafi’i. Jika pembatalan dilakukan karena uzur, seperti sakit, lemas, atau menghormati tuan rumah yang menjamu, maka tidak dihukumi makruh.

Namun, membatalkan puasa sunnah tanpa alasan yang jelas dinilai makruh, meskipun tidak sampai berdosa. Menyempurnakan puasa hingga waktu berbuka tetap lebih utama.

Adapun kewajiban qadha puasa sunnah memiliki perbedaan pendapat. Mazhab Syafi’i tidak mewajibkan qadha, sedangkan mazhab Hanafi dan Maliki mewajibkannya apabila puasa dibatalkan tanpa uzur. Wallahu a’lam.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
2 / 2
HALAMAN SEBELUMNYA Sebelumnya
Tags:
Puasa Sunnah Hukum Puasa fikih islam

Komentar Pengguna