Ada perbedaan menarik antara cerita mistis yang berkembang dalam kehidupan masyarakat tradisional dan film horor modern.
Dahulu, kisah tentang makhluk gaib dapat mengandung pesan sosial yang memengaruhi perilaku masyarakat. Cerita mengenai pohon yang dihuni makhluk halus, misalnya, dapat membuat warga lebih berhati-hati dalam menebang pohon.
Sementara itu, dalam industri perfilman, cerita mistis lebih banyak dikembangkan sebagai produk hiburan yang memiliki nilai ekonomi.
Agus bahkan meragukan film horor masa kini mampu memberikan dampak edukatif yang mendalam seperti cerita mistis dalam kebudayaan tradisional.
"Saya meragukan film horor masa kini memiliki dampak edukatif yang mendalam terhadap perilaku masyarakat, misalnya dalam hal menjaga lingkungan karena pesan moral dalam cerita dapat mengalami pendangkalan ketika berhadapan dengan pola konsumsi informasi yang semakin cepat dan pragmatis," tuturnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa popularitas film horor tidak selalu sejalan dengan keberlanjutan nilai budaya yang terkandung dalam cerita aslinya.
Kegemaran masyarakat Indonesia terhadap film horor ternyata memiliki latar yang lebih kompleks daripada sekadar menyukai cerita menyeramkan.
Ada warisan kepercayaan lokal, pengalaman sosial, kebutuhan terhadap hiburan yang menegangkan, hingga strategi industri perfilman dalam membaca selera pasar.
Cerita mistis yang dahulu hidup melalui tradisi lisan kini berkembang menjadi tontonan populer. Meski medianya berubah, kedekatan masyarakat dengan kisah-kisah tersebut tetap menjadi salah satu kekuatan yang membuat genre horor terus memiliki tempat di industri hiburan Indonesia.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir